NABIRE — Ratusan massa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua kembali turun ke jalan untuk menggelar demonstrasi damai menolak investasi dan eksploitasi tambang emas di Blok Wabu, Intan Jaya. Aksi yang mereka sebut sebagai Aksi Damai Jilid II ini dimulai sejak pukul 08.00 WIT dan menyasar sejumlah titik strategis di Kota Nabire.
Massa berkumpul di empat titik berbeda: SP1 (Pasar), Pasar Karang, Siriwini (dekat RSUD Nabire), dan Perempatan Wadio. Dari titik-titik itu, mereka melakukan long march menyusuri jalan utama Bukit Meriam, lalu menuju Kantor DPRP Papua Tengah yang terletak di kawasan Bandara Lama Nabire.
Aksi ini berlangsung dalam pengamanan ketat aparat gabungan dari Polres Nabire, Kodim, Batalyon 753, Brimob, dan Polda Papua Tengah, dengan total sekitar 700 personel yang diterjunkan.
Dalam konferensi pers usai aksi, Kapolres Nabire AKBP Samuel Dominggus Tatiratu menyampaikan apresiasinya atas berlangsungnya aksi dengan aman dan tertib. Ia menyebut keberhasilan tersebut sebagai hasil dari kerja ikhlas, pendekatan humanis, dan komunikasi yang baik antara semua pihak.
“Kami tidak pakai formula khusus. Prinsipnya kita bekerja dengan ikhlas. Dalam keikhlasan itu ada kesabaran, kemampuan mendengar, dan keberanian untuk bertindak. Setiap keputusan juga kami dasarkan pada doa dan permohonan hikmat dari Tuhan,” kata Kapolres.
Kapolres juga mengingatkan bahwa Nabire kini menyandang status sebagai ibu kota Provinsi Papua Tengah, sehingga semua pihak harus bertanggung jawab menjaga stabilitas dan ketertiban di wilayah tersebut.
“Siapa lagi yang akan jaga keamanan dan kedamaian kalau bukan kita sendiri? Kalau ingin menyampaikan aspirasi, lakukan dengan cara yang bermartabat dan melalui komunikasi yang baik,” tambahnya.
Ia pun mengucapkan terima kasih kepada semua elemen yang terlibat, termasuk TNI, tokoh agama, kepala suku, anggota DPRP Papua Tengah, serta Gubernur dan Wakil Gubernur yang telah membuka ruang untuk menerima aspirasi massa aksi.
“Saya berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa, mama-mama Papua, serta para korlap di lapangan. Terima kasih karena telah mendengar harapan kami dan menjaga agar aksi berjalan damai dan tertib,” tuturnya.
Uniknya, setelah aksi selesai, beberapa peserta turut terlibat dalam kegiatan pembersihan sampah di lokasi demo. Aksi spontan itu diapresiasi oleh Kapolres sebagai bentuk kesadaran sosial dan kepedulian terhadap kebersihan kota.
“Bukan pencitraan. Itu panggilan hati. Meskipun tidak bisa bersihkan semua, minimal kami menunjukkan bahwa kita peduli. Kalau kota ini bersih, yang melihat pun nyaman,” ungkapnya.
Aksi damai ini menjadi lanjutan dari gerakan serupa yang dilakukan sebelumnya oleh mahasiswa dan masyarakat sipil yang menolak eksploitasi Blok Wabu karena dinilai mengancam ruang hidup masyarakat adat dan lingkungan di wilayah Intan Jaya.
Dengan berlangsungnya Aksi Damai Jilid II secara tertib, para peserta berharap Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pemerintah Pusat segera menghentikan rencana eksploitasi tambang dan membuka ruang dialog terbuka dengan masyarakat terdampak. (MB)






