NABIRE — Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, kembali menegaskan komitmennya dalam membangun karakter generasi muda Orang Asli Papua (OAP) saat memberikan motivasi dalam kegiatan Pelatihan dan Pengembangan SDM OAP yang digelar oleh TP PKK Papua Tengah di Ballroom Kantor Gubernur. Di hadapan puluhan peserta muda, Nawipa menyampaikan peringatan keras terkait gaya hidup destruktif yang kian menggerogoti masa depan anak-anak Papua.
“Adik-adik ingat baik-baik, penyakit HIV/AIDS makin merajalela. Kita bisa mati bodoh-bodoh karena seks bebas di mana-mana. Di rumput, di got, di jalan. Papua ini mau jadi apa kalau kita terus begini? Negara maju seperti Jepang saja, seks bukan lagi yang utama dalam hidup mereka,” tegas Nawipa dalam sambutan Jumat, (13/6/2025)
Menurutnya, Papua saat ini membutuhkan pemulihan besar-besaran — bukan hanya dalam hal ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga secara rohani dan moral. Ia mengajak semua pihak, terutama gereja dan tokoh agama, untuk tidak hanya pandai berkhotbah, tapi menjadi teladan karakter.
“Banyak teolog hebat di atas mimbar, tapi karakter tidak beres. Itu sebabnya berkat tidak mengalir dalam gereja, juga tidak di masyarakat,” ucapnya lugas.
Gubernur juga menyinggung budaya minum-minuman keras dan seks bebas yang kini dianggap biasa. Ia menegaskan, itu semua bukanlah jati diri orang Papua.
“Seks bebas dan miras itu bukan budaya kita. Budaya kita adalah saling baku dengar, baku bantu. Dulu kalau tidak ada minyak goreng, kita bisa minta di sebelah. Sekarang sudah tidak ada lagi rasa itu,” ujarnya.
Dalam upayanya mengangkat kembali nilai-nilai luhur orang Papua, Nawipa membagikan kisah inspiratif tentang seorang pelari dari Tanzania yang cedera saat mengikuti lomba maraton di Olimpiade. Meski kalah, ia tetap menyelesaikan lomba dengan tertatih.
“Waktu ditanya kenapa tetap lari meski cedera, dia jawab: ‘Negaraku mengirim aku bukan untuk menang, tapi untuk menyelesaikan.’ Kita juga begitu. Kita hidup bukan sekadar untuk menang, tapi untuk menyelesaikan tugas kita di bumi ini,” tutur Gubernur.
Ia menekankan pentingnya membangun integritas, disiplin, dan rasa takut akan Tuhan sebagai bekal utama menuju masa depan yang berhasil.
“Kalau kau bisa dipercaya, orang akan kasih kepercayaan besar. Kalau jujur, orang akan percaya. Kalau setia, orang akan tolong. Dan kalau disiplin, semua berkat akan datang. Di luar dari itu, tidak ada,” tambahnya.
Gubernur Nawipa juga mengingatkan pentingnya tertib dan disiplin sebagai bagian dari wajah ibu kota provinsi yang baru.
“Ini ibu kota Provinsi Papua Tengah, bukan lagi sekadar Kabupaten Nabire. Kota ini harus jadi contoh. Tidak boleh ugal-ugalan di jalan, tidak pakai helm, main pamer-pamer. Baru tadi ada yang ditangkap karena tidak taat aturan,” tutup Nawipa.
Pelatihan ini menjadi ruang refleksi sekaligus panggilan serius bagi generasi muda Papua Tengah untuk bangkit — bukan hanya dalam pengetahuan dan keterampilan, tapi juga dalam karakter dan iman. (MB)






