Kisah Inspiratif Agus Kadepa dan Gagasan Strategis Memberdayakan Anak Muda Papua
Oleh: John NR Gobai
Anggota DPR Papua Tengah Jalur Otsus
NABIRE – Kondisi pengangguran dan keterbatasan lapangan kerja di Papua, khususnya di wilayah pedalaman dan pegunungan, merupakan tantangan serius yang tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Salah satu solusi konkret yang dapat menjadi jembatan antara harapan dan kenyataan adalah mendorong gerakan “Pemuda Pulang Kampung” —sebuah upaya memanggil kembali anak-anak muda Papua yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi untuk kembali dan membangun kampung halamannya.
Gerakan ini bukan sekadar ajakan romantis atau nostalgia terhadap tanah kelahiran. Ia merupakan strategi pembangunan akar rumput yang nyata dan potensial.
Saat ini banyak pemuda Papua yang setelah menempuh pendidikan di kota-kota besar seperti Jayapura, Nabire, Timika, bahkan di luar Papua, justru terjebak dalam pengangguran atau kehidupan serba tidak pasti di kota. Padahal, kampung-kampung mereka menyimpan potensi besar yang belum terkelola secara optimal—dari pertanian, perikanan, pendidikan lokal, hingga penguatan masyarakat adat.
Belajar dari Kisah Agus Kadepa
Salah satu contoh nyata dari semangat “Pemuda Pulang Kampung” adalah Agustinus Kadepa.
Agus adalah salah satu pendiri *Gerakan Papua Mengajar*, sebuah inisiatif yang secara sukarela mengajar anak-anak di kampung-kampung pelosok. Ia menyelesaikan studinya di Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura dan memilih untuk kembali ke kampung halamannya di Paniai.
Alih-alih mengejar kenyamanan di kota besar, Agus kini tengah mengembangkan kebun kopi bersama masyarakat lokal, memanfaatkan momentum gerakan tanam kopi yang diinisiasi oleh Bupati Paniai kala itu, Meki Nawipa. Di tengah banyaknya wacana pembangunan yang elitis dan top-down, apa yang dilakukan Agus adalah contoh pembangunan partisipatif yang berakar dari bawah.
Agus adalah sosok pemuda energik dan religius. Sebagai anak muda Katolik, ia menghidupi ajaran sosial Gereja secara nyata—hadir bagi yang kecil, sederhana, dan tersingkir. Lewat aksinya, ia tidak hanya mengajarkan huruf dan angka, tetapi juga menanamkan harapan dan keberanian untuk mandiri di kampung sendiri.
Membangun Kerangka Strategis Gerakan Pulang Kampung
Gagasan Pemuda Pulang Kampung ini sejatinya dapat menjadi program resmi dan terstruktur. Pemerintah daerah, lembaga keagamaan, maupun organisasi masyarakat sipil perlu menyusun skema pembekalan dan pelatihan bagi para pemuda yang bersedia kembali ke kampung. Materi pembekalan bisa meliputi :
Pemetaan potensi lokal: agar pemuda memahami sumber daya di kampungnya.
Kewirausahaan dan manajemen usaha mikro : untuk membuka dan mengelola usaha berbasis lokal.
Kesehatan dasar dan gizi keluarga : agar mereka bisa menjadi agen perubahan di bidang kesehatan komunitas.
Hukum dan hak masyarakat adat: agar pemuda bisa turut menjaga dan memperjuangkan hak-hak kolektif kampungnya.
Dengan sistem ini, para pemuda dapat ditempatkan sesuai wilayah adatnya masing-masing, agar rasa tanggung jawab dan keterikatan emosional terhadap kampung tetap kuat. Mereka juga bisa dilibatkan dalam penguatan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), dewan adat kampung, atau komunitas basis lainnya, sehingga berbagai program dari pemerintah atau lembaga donor dapat dikelola lebih akuntabel dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Menata Harapan, Menjemput Masa Depan
Sudah saatnya kita berhenti melihat pemuda sebagai beban sosial. Di tangan mereka, justru masa depan Papua dipertaruhkan. Dengan dukungan yang tepat, pemuda-pemuda ini bisa menjadi tulang punggung pembangunan dari pinggiran. Kisah seperti Agus Kadepa bukan hanya layak diapresiasi, tetapi juga direplikasi secara sistematis dan terencana.
“Kita butuh lebih banyak “Agus-Agus” di setiap kampung, di setiap wilayah adat. Kita butuh pemuda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak dalam memilih untuk kembali dan mengabdi di tanah sendiri.
Papua tidak akan bangkit karena proyek-proyek besar yang datang dari luar, tapi karena semangat dari dalam yang tumbuh bersama rakyatnya—dimulai dari para pemudanya yang memilih pulang kampung, dan membangun dari sana. (MB)






