Menu

Mode Gelap
Gubernur Papua Tengah Tetapkan BOSDA Pendidikan Gratis Tahun 2026, Ribuan Siswa Jadi Penerima Manfaat Bupati Yampit Nawipa, Kabupaten Paniai Raih Peringkat I Kinerja Penyaluran Dana Desa Terbaik di Papua Tengah Dinas Pendidikan Kabupaten Deiyai Imbau SMP dan SMA Terapkan Kebijakan Pendidikan Gratis Teladan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX Anggota DPD RI Wilhelmus Pigai Salurkan Bantuan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H untuk Masjid Al-Fattah Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete

Headline

Kunjungan Menhan dan Menkeu ke Nduga Harusnya Jadi Langkah Awal Mengurangi Anggaran Operasi Militer 

Etty Welerbadge-check


					Kunjungan Menhan dan Menkeu ke Nduga Harusnya Jadi Langkah Awal Mengurangi Anggaran Operasi Militer  Perbesar

NABIRE – Kunjungan Menteri Pertahanan dan Menteri Keuangan ke Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, menuai sorotan dari anggota DPR Provinsi Papua Tengah jalur Otsus, Jhon NR Gobay. Dalam pernyataan tertulis yang disampaikan kepada wartawan pada Rabu (11/6/2025), Gobay menilai kunjungan tersebut bukanlah peristiwa biasa dan menyiratkan kebijakan yang perlu dikritisi secara serius, terutama terkait alokasi anggaran operasi militer di Tanah Papua.

“Kunjungan menteri ke Papua seharusnya menjadi kewajiban moral dan politik pemerintah pusat. Namun kehadiran dua menteri sekaligus – Menhan dan Menkeu – di Kabupaten Nduga, sebuah wilayah yang sarat konflik, mengandung pesan politik dan anggaran yang penting untuk dianalisis,” kata Gobay.

Ia mengungkapkan bahwa di tengah kebijakan efisiensi anggaran nasional, Kementerian Pertahanan justru masih mendapat alokasi besar, termasuk untuk pembiayaan operasi penegakan hukum di Papua yang melibatkan Satgas Damai Cartenz dari Kepolisian dan Satgas Habema dari TNI. Operasi-operasi tersebut, menurut Gobay, telah menimbulkan banyak korban dari berbagai pihak, termasuk masyarakat sipil.

“Kabupaten Nduga sudah terlalu sering jadi lokasi operasi militer. Kalau terus begini, pembangunan tidak akan pernah berjalan maksimal. Harapan masyarakat sipil Papua justru adalah berkurangnya operasi penegakan hukum, bukan penambahan,” tegasnya.

Gobay mendesak agar kehadiran Menteri Keuangan Sri Mulyani dapat menjadi momentum untuk meninjau ulang anggaran militer di Papua. Ia berharap pemerintah pusat, khususnya Kabinet Prabowo Subianto, tidak hanya datang mengambil data, tetapi benar-benar menyerap aspirasi rakyat Papua terkait pentingnya pendekatan damai dan pembangunan.

“Harusnya kunjungan ini menjadi langkah awal untuk mengurangi anggaran operasi militer. Ini sejalan dengan upaya efisiensi anggaran yang dicanangkan pemerintah. Bila anggaran dipangkas, otomatis intensitas operasi bisa berkurang, dan itu akan menyelamatkan lebih banyak nyawa, baik dari TNI-Polri, OPM, maupun masyarakat sipil,” lanjut Gobay.

Ia menutup pernyataannya dengan harapan agar Papua tidak lagi menjadi ladang kekerasan yang terus-menerus dibiayai negara.

“Yang dibutuhkan Papua adalah perdamaian, pembangunan, dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat sipil, bukan terus-menerus menjadi wilayah operasi militer,” pungkasnya. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polda Papua Tangani 104 Kasus Narkotika, 151 Tersangka Diamankan dalam Enam Bulan

27 Juni 2026 - 12:46 WIB

IMG 20260627 WA0030

Bupati Deiyai Salurkan Bantuan Alat Tangkap Ikan kepada 450 Mama-Mama Nelayan Danau Tigi

27 Juni 2026 - 12:38 WIB

IMG 20260627 WA0023

Satu Pengendara Motor Tewas usai Tabrakan dengan Truk di Jalan SP 3 Mimika

27 Juni 2026 - 12:28 WIB

IMG 20260627 WA0014

Polda Papua Ungkap Dua Kasus Penyalahgunaan BBM Bersubsidi, Ribuan Liter Disita

27 Juni 2026 - 12:21 WIB

IMG 20260627 WA0011

Perahu Nelayan Hilang Kontak di Perairan Atuka, Empat Orang Masih Dicari

27 Juni 2026 - 12:15 WIB

IMG 20260627 WA0009
Trending di Headline