Menu

Mode Gelap
Senator Wilhelmus Pigai Dorong Percepatan Pembangunan RSUD Papua Tengah Warga Dekai Pertahankan Fasilitas Kesehatan Yang Hampir Dibakar OTK DPD RI Tegaskan Ketimpangan Kebijakan Pertanahan, Mendesak Reforma Agraria Lebih Cepat Mendikdasmen dan BNN Perkuat Pendidikan Karakter Lewat Integrasi Kurikulum Anti Narkoba DPD RI Tegaskan Keseriusan Politik dan Kelembagaan Kawal Isu HAM di Papua Menko Polkam dan DPD RI Tegaskan Sinergi Pusat–Daerah untuk Kebijakan yang Lebih Efektif

Headline

Seminar Pembangunan Yang Adil dan Berkelanjutan, Staf Ahli Gubernur Papua Tengah: Pembangunan Harus Inklusif, Partisipatif, dan Berkeharian

Etty Welerbadge-check


					Seminar Pembangunan Yang Adil dan Berkelanjutan, Staf Ahli Gubernur Papua Tengah: Pembangunan Harus Inklusif, Partisipatif, dan Berkeharian Perbesar

NABIRE – Pemerintah Provinsi Papua Tengah menegaskan komitmennya terhadap pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat secara menyeluruh. Hal ini disampaikan oleh Ukkas, S.Sos., M.K.P., Staf Ahli Gubernur Papua Tengah bidang Kemasyarakatan, SDM, dan Pengembangan Otonomi Khusus, saat membuka seminar bertajuk “Pembangunan yang Adil dan Berkelanjutan” di Adamant Hotel, jayanti Nabire Papua Tengah, Jumat (30/5/2025).

Dalam sambutannya, Ukkas menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak untuk membangun Papua Tengah yang lebih baik, khususnya di tengah ancaman terhadap kelestarian hutan dan perubahan iklim.

“Saya percaya bahwa membangun Papua tidak cukup hanya dengan keberkatan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga pemerintah hadir,” ujar Ukkas.

“Jadi kita harus kolaborasi, kita harus bersinergi bagaimana membangun wakua ke depan, khususnya wakua benar.”

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah daerah saat ini tengah melakukan pendekatan pembangunan baru yang bersifat inklusif, partisipatif, dan berkeharian.

“Pemerintah Provinsi Papua Tengah berkomitmen untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif, partisipatif, berkeharian, dan berbagi,” tegasnya.

Pernyataan Ukkas menjadi sorotan penting dalam seminar yang diselenggarakan oleh WALHI Papua bersama Jikalahari. Acara ini digelar untuk membahas tantangan nyata di Papua Tengah, termasuk deforestasi yang masih terus terjadi. Berdasarkan data WALHI Papua, sekitar 27.000 hektar hutan alam hilang pada Maret 2025 akibat aktivitas industri besar, seperti perkebunan sawit, tebu, tambang, dan pembalakan liar.

Seminar ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk pejabat pemerintah, anggota DPR, tokoh adat, aktivis lingkungan, jurnalis, dan akademisi. Diskusi yang berlangsung diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret dalam menghadapi krisis lingkungan dan memperkuat peran masyarakat adat dalam perlindungan hutan. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketua Umum PGGPT Dorong Rekonsiliasi Konflik Dua Kelompok Warga di Kapiraya, Soroti Dampak Pendulangan Emas

17 Februari 2026 - 14:52 WIB

Img 20260217 wa0033

Miras Lokal Masih Saja Ditemukan di Pelabuhan, Puluhan Liter Disita Polisi

17 Februari 2026 - 14:46 WIB

Img 20260217 wa0003

Pascapenyerangan di Mile Point 50, Polisi Lakukan Olah TKP

17 Februari 2026 - 14:42 WIB

Img 20260217 wa0001

Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026 

17 Februari 2026 - 14:36 WIB

Img 20260217 wa0026

HUT ke-3 PGGPT, Gereja Didorong Jadi Mitra Strategis Pembangunan Papua Tengah

17 Februari 2026 - 13:29 WIB

Img 20260217 wa0024
Trending di Headline