TIMIKA – Pemerintah Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, tahun 2025 ini mendapatkan alokasi dana padat karya sebesar Rp3 Miliar yang bersumber dari APBD Mimika. Dana padat karya kemudian diswakelolakan dari Pemerintah Distrik kepada KNPI Distrik untuk melaksanakan kegiatan yang wajib melibatkan masyarakat kampung sendiri.
Mengelola dana padat karya berarti mengalokasikan dan menggunakan dana tersebut untuk kegiatan yang melibatkan banyak tenaga kerja dan bersifat produktif. Dana ini biasanya digunakan untuk pembangunan infrastruktur, proyek pertanian, atau kegiatan lain yang bermanfaat bagi masyarakat desa.
Kepala Distrik Mimika Barat Tengah melalui Sekretaris Distrik, Melky Sedek Snay kepada Wartawan di Kampung Uta belum lama ini mengatakan, Distrik Mimika Barat Tengah memiliki lima kampung, yakni Kampung Kapiraya, Uta, Wumuka, Mupuruka dan Wakia.
Melky menjelaskan kegiatan padat karya ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat lokal tanpa melibatkan pihak ketiga atau kontraktor. Karena itu kegiatan padat karya tahun 2025 Distrik memberi kepercayaan kepada KNPI tingkat Distrik sebagai pelaksana kegiatan padat karya.
“Dengan sistem padat karya, maka masyarakat yang merencanakan dan melaksanakan kegiatan tersebut. Istilahnya dari rakyat untuk rakyat, tentunya anggaran berasal dari Pemerintah Distrik Mimika Barat Tengah yang bersumber dari APBD Mimika,” kata Melky.
Melky menambahkan, kegiatan padat karya untuk Distrik Mimika Barat Tengah ada dua kegiatan yaitu Pembersihan sungai dan pembangunan jalan. Kegiatan padat karya di Distrik Mimika Barat Tengah melibatkan masyarakat dari kampung Mupuruka, Uta, Wumuka, Kapiraya dan Wakia.
Dana padat karya langsung pada pekerjaan yang manfaatnya untuk masyarakat. Khususnya akses jalan keluar dan masuk.
“Dana padat karya tidak dibagia ke masing-masing kampung, tapi manfaatnya untuk pembersihan dan pembangunan jalan padat karya yang akan digunakan oleh masyarakat lebih khusus mempermudah akses penghubung pendidikan, kesehatan dan kegiatan sosial lainya,” kata Melky.
Melky menambahkan, pembersihan dan normalisasi sungai manfaatnya untuk akses ekonomi dari Mupuruka ke Amar, juga akses kampung Kapiraya, Uta, Wakia, Wumuka juga kampung Akar, Mapar, Kipia dan Pronggo saat turun naik dari kampung ke Timika. Kegiatan padat karya berdasakan pedoman teknis diswakelolakan dengan menggunakan swakelola tipe 4 yang melibatkan organisasi masyarakat lewat KNPI distrik. Target kegiatan akan berakhir pada Juni nanti.
Program padat karya ini hadir untuk memberdayakan masyarakat setempat serta meningkatkan partisipasi mereka dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di setiap kampung. (ET)






