SORONG – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., menyerukan pentingnya jalan damai dan dialog dalam menyikapi berbagai persoalan di Tanah Papua. Seruan ini disampaikan dalam homilinya saat Misa Syukur atas tahbisan dirinya sebagai Uskup Timika, yang dirangkaikan dengan peringatan 131 tahun hadirnya misi Katolik di Tanah Papua. Perayaan ini digelar di Katedral Sorong.
Dalam pesan moralnya, Mgr. Bernardus mengkritisi pendekatan kekerasan yang masih kerap digunakan dalam menyelesaikan konflik di Papua. Ia mempertanyakan mengapa pemerintah harus terus mengandalkan kekuatan bersenjata dan kehadiran militer dalam meredam persoalan sosial dan politik di Papua.
“Mengapa harus diselesaikan dengan senjata? Mengapa mendatangkan militer? Mengapa masalah di Papua diselesaikan dengan keputusan yang justru melahirkan konflik di atas konflik?” ungkapnya di hadapan umat.
Menurutnya, sebagai bangsa dan sebagai orang-orang beriman, seluruh pihak seharusnya mengedepankan dialog dan pertemuan hati untuk mencapai cita-cita bersama: hidup damai dan bersaudara.
“Kita semua adalah orang beriman. Kita punya cita-cita yang sama: hidup damai, hidup bersaudara. Negara pun punya cita yang sama. Maka kenapa tidak duduk dan berbicara, berdialog berdasarkan nilai-nilai iman dan kemanusiaan, agar rakyat bisa merasa damai dan tidak terus hidup dalam penderitaan?” tambahnya.
Uskup kelahiran Serui itu juga menyuarakan kerinduan masyarakat Papua yang selama ini merasakan beban panjang konflik dan kekerasan.
“Mereka rindu perdamaian. Rindu hidup yang damai di tanah mereka sendiri,” tegasnya.
Seruannya sebagai cerminan suara rakyat Papua yang mendambakan keadilan dan pengakuan martabat kemanusiaan melalui pendekatan yang lebih manusiawi dan bermartabat.






