Menu ✖

Mode Gelap
Papua Tengah Terang untuk Sugapa, Listrik Gratis 24 Jam Ditargetkan Mulai Desember 2026 Komite IV DPD RI Evaluasi Realisasi TKD dan Dana Otsus di Papua Papua di Ambang Pintu Neraka atau Surga: Refleksi Kemanusiaan atas Konflik dan Perdamaian Isu Reshuffle Kabinet, Natalius Pigai: Saya Tak Pernah Bermimpi Jadi Menteri TNI AD dan DPD RI Turun Tangan Atasi Masalah Infrastruktur Daerah Komite IV DPD RI Rampungkan Uji Kelayakan 23 Calon Anggota BPK RI

Headline

Suara Uskup Bernardus Bofitwos Baru : “Masyarakat Papua Rindu Damai, Mari Duduk dan Berdialog

adminbadge-check


					Foto :  Istimewa Perbesar

Foto : Istimewa

SORONG – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., menyerukan pentingnya jalan damai dan dialog dalam menyikapi berbagai persoalan di Tanah Papua. Seruan ini disampaikan dalam homilinya saat Misa Syukur atas tahbisan dirinya sebagai Uskup Timika, yang dirangkaikan dengan peringatan 131 tahun hadirnya misi Katolik di Tanah Papua. Perayaan ini digelar di Katedral Sorong.

Dalam pesan moralnya, Mgr. Bernardus mengkritisi pendekatan kekerasan yang masih kerap digunakan dalam menyelesaikan konflik di Papua. Ia mempertanyakan mengapa pemerintah harus terus mengandalkan kekuatan bersenjata dan kehadiran militer dalam meredam persoalan sosial dan politik di Papua.

“Mengapa harus diselesaikan dengan senjata? Mengapa mendatangkan militer? Mengapa masalah di Papua diselesaikan dengan keputusan yang justru melahirkan konflik di atas konflik?” ungkapnya di hadapan umat.

Menurutnya, sebagai bangsa dan sebagai orang-orang beriman, seluruh pihak seharusnya mengedepankan dialog dan pertemuan hati untuk mencapai cita-cita bersama: hidup damai dan bersaudara.

“Kita semua adalah orang beriman. Kita punya cita-cita yang sama: hidup damai, hidup bersaudara. Negara pun punya cita yang sama. Maka kenapa tidak duduk dan berbicara, berdialog berdasarkan nilai-nilai iman dan kemanusiaan, agar rakyat bisa merasa damai dan tidak terus hidup dalam penderitaan?” tambahnya.

Uskup kelahiran Serui itu juga menyuarakan kerinduan masyarakat Papua yang selama ini merasakan beban panjang konflik dan kekerasan.

“Mereka rindu perdamaian. Rindu hidup yang damai di tanah mereka sendiri,” tegasnya.

Seruannya  sebagai cerminan suara rakyat Papua yang mendambakan keadilan dan pengakuan martabat kemanusiaan melalui pendekatan yang lebih manusiawi dan bermartabat.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

HMI Cabang Mimika dan GPII Papua Tengah Bagikan 150 Masker Gratis, Desak Pemkab Antisipasi Dampak Kabut Asap

11 Oktober 2026 - 02:43 WIB

IMG 20261011 114058

Papua Tengah Terang untuk Sugapa, Listrik Gratis 24 Jam Ditargetkan Mulai Desember 2026

11 Oktober 2026 - 02:09 WIB

IMG 20261011 WA0025

Mimika Genap 30 Tahun, Keluarga Perintis Pemekaran Pertanyakan Pengakuan atas Jasa Orang Tua “Jangan Dihapus dari Sejarah”

10 Oktober 2026 - 07:22 WIB

IMG 20261010 WA0011

Polres Mimika Dorong Pelajar SMP Negeri 10 Manfaatkan Peluang Beasiswa SMA Kemala Taruna Bhayangkara

10 Oktober 2026 - 06:37 WIB

IMG 20261010 WA0009

Pria Ditemukan Meninggal Dunia di Sebuah Kamar Hotel, Polisi Lakukan Penyelidikan

10 Oktober 2026 - 06:32 WIB

IMG 20261010 WA0007
Trending di Headline