Menu

Mode Gelap
Ketua Komite III DPD RI Minta Pemerintah Beri Perhatian Lebih kepada Dosen PTS di Wilayah 3T Sekjen DPD RI Dorong Budaya Evaluasi untuk Perkuat Kinerja Birokrasi HUT ke-4 Papua Tengah Jadi Titik Awal Program BANGKIT untuk Generasi Sehat Papua DPD RI Perkuat Budaya Pelayanan Publik Melalui Data Akurat dan SDM Profesional Gubernur Meki Nawipa Siapkan Program “Bangkit Papua Tengah” untuk Percepat Penanganan 1.000 Balita Berisiko Stunting DPD RI Dorong Pengesahan RUU Daerah Kepulauan untuk Wujudkan Keadilan Pembangunan Maritim

Headline

Lilin, Doa, dan Tarian Lapago: Identitas Budaya Menyatu dalam Peringatan HUT Ke-11 ULMWP di Jayapura

Etty Welerbadge-check


					Lilin, Doa, dan Tarian Lapago: Identitas Budaya Menyatu dalam Peringatan HUT Ke-11 ULMWP di Jayapura Perbesar

Jayapura — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-11 United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) di Jayapura berlangsung khidmat dan sarat makna, ketika lilin dinyalakan, doa dipanjatkan, dan tarian budaya Lapago ditampilkan sebagai simbol persatuan identitas rakyat Papua Barat dalam perjuangannya. Perayaan ini menegaskan bahwa perjuangan Papua tidak hanya bersifat politik, tetapi bertumpu pada kekuatan budaya, spiritualitas, dan warisan leluhur.

Simbol lilin yang menyala menjadi penanda tekad bersama seluruh komponen masyarakat Papua Barat—baik yang berafiliasi maupun nonafiliasi—untuk tetap bersatu dalam satu perjuangan. Melalui ibadah dan khotbah bertema “Sesungguhnya Allah Memimpin dan Menyertai Kita,” pesan persatuan itu diperkuat dengan ajakan menjaga iman, komitmen moral, serta akar budaya Papua sebagai fondasi gerakan.

Dalam ibadah tersebut ditegaskan bahwa ULMWP merupakan gerakan sipil yang bekerja di tingkat internasional. Seluruh rakyat Papua disebut memiliki mimpi yang sama: terwujudnya sebuah bangsa yang merdeka dan bermartabat. Karena itu, persatuan dalam satu “rumah besar” ULMWP dipandang sebagai kekuatan utama perjuangan.

Pementasan tarian budaya Lapago menjadi sorotan penting dalam rangkaian acara. Tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tradisional, tetapi sebagai ekspresi identitas, kesetiaan, dan kesinambungan budaya. Gerakannya menggambarkan keteguhan dan ikatan persaudaraan yang telah mengakar jauh sebelum era modern, menegaskan bahwa perjuangan Papua Barat berangkat dari tanah, adat, dan nilai-nilai leluhur.

Presiden Eksekutif ULMWP, Menase Tabuni, dalam sambutannya menekankan pentingnya persatuan sebagai landasan perjuangan. Ia mengingatkan bahaya egoisme internal yang dapat menggerus kekuatan ULMWP dan melemahkan dukungan internasional.

“Jika ULMWP dihancurkan, maka dukungan internasional pun akan ikut ditarik,” tegasnya.

Pesan tersebut semakin relevan ketika ditautkan dengan akar budaya Papua yang menjunjung tinggi musyawarah, kebersamaan, dan kesetiaan terhadap kelompok. Ajakan Tabuni bukan sekadar seruan organisasi, tetapi penegasan nilai budaya yang telah hidup turun-temurun pada masyarakat Papua.

Momen budaya dalam perayaan ini juga kembali mengingatkan pada Deklarasi Saralana di Port Vila, Vanuatu, pada 6 Desember 2014. Deklarasi itu menyatukan tiga kekuatan utama perjuangan—NRFPB, WPNCL, dan WPNP/New Guinea Raad—yang atas nama seluruh rakyat Papua Barat menetapkan ULMWP sebagai wadah persatuan nasional.

Pembentukan ULMWP merupakan tindak lanjut dari keputusan Melanesian Spearhead Group (MSG) pada 2014 yang mensyaratkan persatuan sebagai syarat pengajuan keanggotaan. Pesan persatuan ini kini dihidupkan kembali melalui simbol lilin, tarian, dan ritual keagamaan yang menjadi kekuatan identitas bangsa Papua Barat.

Struktur sekretariat yang ditetapkan saat deklarasi terdiri dari Benny Wenda, Jacob Rumbiak, Leonie Tanggahma, Oktovianus Mote, dan Rex Rumakiek, sebagai representasi dari berbagai kelompok besar dan komunitas nonafiliasi.

Deklarasi tersebut juga didukung oleh Pemerintah Vanuatu, Dewan Adat Nasional Malvatumauri, Dewan Gereja Vanuatu, Pacific Conference of Churches (PCC), serta berbagai organisasi pembebasan Melanesia.

Perayaan HUT ULMWP tahun ini tidak hanya memperingati perjalanan organisasi, tetapi membangkitkan kembali kesadaran bahwa identitas budaya Papua Barat—melalui simbol lilin, ritual doa, dan tarian tradisional—merupakan kekuatan yang menyatukan rakyat dalam perjuangan jangka panjang.

  • Momentum ini diharapkan memperkokoh persaudaraan, membangun kepercayaan antarkomponen organisasi, dan meneguhkan tekad bersama untuk memperjuangkan masa depan Papua Barat yang merdeka, adil, dan bermartabat. (MB)
Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Pelajar Meriahkan Karnaval Budaya HUT ke-81 RI di Mimika

11 Agustus 2026 - 10:42 WIB

IMG 20260811 194204

DPR Papua Tengah Tindaklanjuti Aspirasi SIMAPITOWA, Satgas PKH Diminta Hadir dalam Rapat Lanjutan

11 Agustus 2026 - 10:38 WIB

IMG 20260811 WA0010

Satresnarkoba Polres Mimika Perkuat Edukasi dan Penindakan, DPO Jadi Perhatian

11 Agustus 2026 - 10:34 WIB

IMG 20260811 WA0006

Jelang HUT ke-81 RI, Kapolres Mimika Perkuat Patroli dan Sinergi TNI-Polri Antisipasi Gangguan Kamtibmas

11 Agustus 2026 - 10:31 WIB

IMG 20260811 WA0005

Bukan Sekadar Tangkap Pelaku, Polda Papua Tengah Targetkan Angka 3C di Mimika dan Nabire Turun Nyata

11 Agustus 2026 - 10:28 WIB

IMG 20260811 WA0004
Trending di Headline