NABIRE — Yayasan Gerakan Papua Sehat bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Papua Sehat Nabire menggelar ibadah syukuran pendirian Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sekaligus Perayaan Natal Kampus. Kegiatan berlangsung khidmat dan meriah di halaman RRI Nabire, Jalan Merdeka, dan dihadiri ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat.
Pendiri Yayasan Gerakan Papua Sehat, Dr. Kornelius Pakage, dalam sambutannya menyampaikan rangkaian pengalaman panjang dan proses perjuangan pendirian kampus tersebut. Ia juga menyinggung pertemuan emosional dengan keluarga besar Kotouki yang baru disadari setelah puluhan tahun berpisah.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Pakage turut menyampaikan apresiasi kepada Ketua Komisi V DPR Papua Tengah, Naomi Kotouki, serta para tokoh gereja yang hadir, termasuk Ketua Klasis yang disebutnya memiliki komitmen besar melayani jemaat meski di waktu bersamaan memiliki banyak undangan ibadah.
Perjuangan Panjang Mengurus Pendirian Kampus
Dr. Pakage menjelaskan secara terbuka bahwa proses pendirian STIKes Papua Sehat tidaklah mudah. Berbagai persyaratan teknis hingga administrasi harus dilalui, termasuk pengurusan izin, kelengkapan berkas, hingga kebutuhan finansial dalam jumlah besar.
Ia mengungkapkan bahwa alasan utama membuka Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat adalah karena tingginya kebutuhan tenaga kesehatan masyarakat di Papua, yang berdampak pada tingginya angka penyakit serta kematian akibat kurangnya tenaga profesional di lapangan.
“Kalau saya buka program lain, itu tidak menyentuh langsung masyarakat. Tapi kalau saya buka kesehatan masyarakat, berarti kami bisa hadir dan menutup semua masalah kesehatan dari akar sampai ke daun,” ujarnya.
Melalui proses panjang tersebut, Yayasan akhirnya memperoleh rekomendasi resmi dari Menteri Kesehatan untuk pendirian program studi Ilmu Kesehatan Masyarakat beserta tujuh peminatan. Rekomendasi ini disebut sebagai hal langka karena tidak banyak daerah di Papua yang memperoleh persetujuan langsung untuk pembukaan program tersebut.
STIKes Papua Sehat juga telah mendapat pengakuan dari LLDikti, dan seluruh data kampus kini telah diinput dalam sistem kementerian.
Program Studi dan Sumber Daya Dosen
Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat yang dibuka memiliki tujuh peminatan, antara lain:
* Analisis Kebijakan Kesehatan
* Epidemiologi
* Manajemen Pelayanan Kesehatan
* Promosi Kesehatan
* Kesehatan Lingkungan
* (dan beberapa peminatan lainnya)
Saat ini, kampus memiliki lima dosen tetap, dosen luar untuk mata kuliah umum, serta dosen tamu dari Fakultas Kesehatan Masyarakat berbagai universitas, termasuk yang sebelumnya mengajar di FKM Uncen.
Jumlah mahasiswa angkatan pertama tercatat 46 orang dan menurut Dr. Pakage akan terus bertambah pada tahun akademik mendatang.
Keterbatasan Fasilitas, Tanah Sudah Ada
Dalam sambutannya, Dr. Pakage mengakui bahwa hingga kini kampus masih menyewa fasilitas belajar. Namun mereka telah memiliki lahan sendiri yang direncanakan akan mulai dibangun pada tahun depan.
“Kami tidak punya modal besar. Semua kami lalui dengan iman. Kami percaya bahwa berdirinya STIKes Papua Sehat adalah rencana dan visi Tuhan,” ujarnya.
Pesan Natal: Damai, Saling Mengampuni, dan Melayani
Menutup sambutan, Dr. Pakage menyampaikan pesan Natal agar seluruh mahasiswa, dosen, dan masyarakat menjaga kedamaian antar keluarga, antar lembaga, dan antar sesama.
“Masalah-masalah tinggalkan. Baku salim, minta maaf, dan jalani damai di bulan Natal ini,” pesannya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk belajar sungguh-sungguh, termasuk mempelajari buku-buku yang ia tulis berdasarkan pengalaman puluhan tahun bekerja di lapangan sebagai tenaga kesehatan. (MB)






