DOGIYAI – Topilus B. Tebai, atau yang akrab disapa Bastian, adalah sosok multi-talenta yang perannya melampaui sekat. Ia tidak hanya dikenal sebagai seorang guru di SMAN 1 Dogiyai, tetapi juga sebagai penulis berbakat yang karyanya telah menembus panggung sastra nasional dan internasional. Bastian menggunakan pena dan papan tulis sebagai medium untuk memperjuangkan harapan dan menyuarakan kemanusiaan dari tanah kelahirannya, Dogiyai.
Lahir dan besar di Mapiha, Dogiyai, sebuah distrik dengan lanskap sejuk dan akses yang menantang, Bastian memilih jalan pengabdian sebagai guru. Walaupun bukan berlatar belakang pendidikan guru, pada tahun 2018 ia tergerak untuk mengisi kekosongan tenaga pengajar akibat konflik di Papua.
“Konflik boleh saja terjadi, tapi anak-anak ini harus tetap mendapatkan haknya untuk belajar,” ujar Bastian. Niat tulusnya tersebut membuatnya bertekad untuk membagikan ilmu, sebuah komitmen yang kini ia lanjutkan di SMAN 1 Dogiyai.
Bastian memosisikan sastra sebagai ruang kelas yang lebih luas. Cerita-ceritanya berakar kuat pada pengalaman hidup masyarakat Dogiyai, mengangkat tema kemanusiaan, kearifan lokal, serta konflik sosial yang jarang tersentuh oleh modernitas.
Ia menulis dengan tujuan menghidupkan ingatan dan kemanusiaan dari tanahnya, mengajak pembaca melihat Papua bukan sebagai pinggiran, melainkan sebagai pusat dari kemanusiaan yang utuh. Gaya penulisannya dikenal dengan “kejujuran yang brutal” namun dengan sudut pandang lembut dalam mengamati manusia.
Karya Bastian telah mendapatkan pengakuan luas. Ia terpilih sebagai salah satu Emerging Writers Makassar International Writers Festival (MIWF).
“Kemenangan itu menjadi alasan kuat buat saya untuk tidak lagi perlu merasa minder dan tidak percaya diri,” katanya.
Puncaknya, ia membagikan cerita tentang kehidupan anak Papua di panggung bergengsi Ubud Writers and Readers Festival, membuktikan bahwa karyanya telah menembus batas, dari Papua menuju khalayak global.
Di balik kesuksesannya, Bastian memiliki kegelisahan besar mengenai masa depan pendidikan anak muda di Papua. Dengan kondisi infrastruktur yang buruk dan sulitnya akses, ia berharap Dogiyai bisa setara dengan daerah lain.
Bagi Bastian, setiap tulisan yang lahir dari Dogiyai adalah sebuah jembatan yang ia harap suatu hari nanti akan dilalui oleh anak-anak didiknya menuju masa depan yang lebih cerah, menjadikan karyanya tidak hanya indah dibaca tetapi juga membawa dampak perubahan nyata.








