DEIYAI – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Deiyai menggelar Pertemuan Tim Pendamping Keluarga (TPK) Tahun Anggaran 2026, Selasa (5/5/2026), di Aula DP3AKB.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anggota TPK se-Kabupaten Deiyai yang terdiri dari bidan desa, kader PKK, dan kader KB. Turut hadir Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Kabupaten Deiyai, Plt. Kepala Dinas DP3AKB beserta jajaran, serta pimpinan instansi terkait.

Plt. Kepala Dinas DP3AKB, Robi Bobii, S.IP, dalam sambutannya menegaskan bahwa pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas para pendamping keluarga di lapangan.
Ia menjelaskan, sejumlah materi utama yang dibahas meliputi penguatan teknis pendampingan keluarga, penanganan stunting, pemahaman 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), gizi seimbang, serta program Keluarga Berencana (KB).

Selain itu, peserta juga dibekali kemampuan dalam pengelolaan data dan pelaporan yang akurat, lengkap, dan tepat waktu sebagai dasar pengambilan kebijakan pemerintah.
“Melalui kegiatan ini, kita juga melakukan evaluasi terhadap kendala di lapangan sekaligus menyusun strategi kerja yang lebih efektif untuk tahun 2026,” ujarnya.
Kegiatan tersebut secara resmi dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Kabupaten Deiyai, Simon Mote, S.STP. Dalam sambutannya, ia menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Bupati Deiyai, namun menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

Ia menekankan bahwa penanganan stunting merupakan komitmen serius pemerintah, sehingga peran Tim Pendamping Keluarga menjadi sangat strategis dalam memastikan program berjalan efektif di tingkat masyarakat.
“Untuk membangun daerah yang maju, dua aspek utama yang harus diperhatikan adalah pendidikan dan kesehatan. Anak-anak kita harus tumbuh sehat dan cerdas, dan itu berawal dari keluarga,” tegasnya.
Simon juga mengingatkan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama dalam pembentukan kualitas generasi. Ia mendorong orang tua untuk membangun keharmonisan dalam rumah tangga serta memanfaatkan potensi lokal seperti taman obat keluarga dan apotek hidup sebagai upaya menjaga kesehatan.
Menurutnya, kondisi kesehatan dan gizi anak yang masih belum optimal menjadi tantangan bersama yang harus segera diatasi melalui kerja kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat.
Sementara itu, perwakilan peserta, Krice Madai, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai pertemuan ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas kerja para pendamping keluarga.
“Pertemuan ini menjadi wadah untuk memperkuat pemahaman dan menyamakan persepsi dalam menjalankan tugas di lapangan. Kami berkomitmen untuk menerapkan ilmu yang diperoleh, khususnya dalam menekan angka stunting dan membangun keluarga yang sehat dan sejahtera,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan Tim Pendamping Keluarga di Kabupaten Deiyai semakin solid dan profesional dalam menjalankan tugasnya, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata dalam menurunkan angka stunting serta mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. (SK)







