Menu ✖

Mode Gelap
Senator Sopater Bawa Kasus Hilangnya Dua Warga Suku Mek Ke DPD RI, Desak Pengusutan Tuntas Dan Penegakan Hukum Yorrys Raweyai Dorong Aspirasi Daerah Menjadi Perhatian Nasional Wilhelmus Pigai Dorong Penguatan Hak Politik Orang Asli Papua melalui Kajian Regulasi Gubernur Meki Nawipa Tinjau Tambang Bawah Tanah Freeport, Pelajari Teknologi dan Operasional Pertambangan Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal Natalius Pigai: Keberhasilan Pembangunan HAM Harus Dirasakan Langsung oleh Rakyat

News

BGN Targetkan 82,5 Juta Paket Makanan Bergizi Gratis Tersalur pada Februari 2026

adminbadge-check


					BGN Targetkan 82,5 Juta Paket Makanan Bergizi Gratis Tersalur pada Februari 2026 Perbesar

Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) mengumumkan target ambisius untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah menargetkan 82,5 juta paket MBG dapat tersalurkan kepada penerima manfaat pada Februari 2026 mendatang.

​Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah kini tengah mengebut proses sertifikasi kehigienisan dapur, atau yang disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), di seluruh Indonesia.

​Hingga saat ini, tercatat baru 361 SPPG yang telah bersertifikasi dan menyalurkan 40 juta paket makanan bergizi sepanjang tahun ini.

​Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa percepatan program ini idealnya membutuhkan anggaran yang sangat besar, yakni mencapai Rp25 triliun per bulan.

​”Namun, dalam kenyataannya sampai sekarang kita baru membentuk kurang lebih 12 ribu SPPG. Jadi kita prediksi tidak akan menyerap anggaran sebanyak itu. Kami mungkin hanya akan mendapat tambahan Rp28 triliun,” ujar Dadan, Rabu (22/10/2025).

​Selain mengejar kuantitas, BGN juga fokus memperbaiki kualitas dan tata kelola program. Pemerintah akan segera mensosialisasikan Peraturan Presiden (Perpres) baru tentang Tata Kelola Program MBG.

​Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menjelaskan beberapa aturan kunci dalam Perpres tersebut. Salah satunya, SPPG atau dapur dilarang keras memasak makanan sebelum pukul 00.00 (tengah malam) untuk menjaga kesegaran makanan.

​”Dapur juga wajib memasak sesuai urutan atau batch pembagian. Misalnya, dikirim pagi untuk anak-anak TK, itu masak sendiri. Kalau dikirim untuk anak-anak SD yang agak siang, nanti dimasak sendiri,” jelas Nanik.

​Langkah pengetatan ini diambil setelah BGN melakukan evaluasi dan investigasi. Nanik menegaskan, BGN telah menindak tegas mitra yang tidak menjalankan standar operasional (SOP).

​Banyak temuan di lapangan, seperti dapur-dapur yang ruang pemorsiannya belum memiliki pendingin ruangan (AC), sehingga berpotensi membuat makanan cepat basi.

​”Setiap dapur juga sudah harus melakukan epoksi (pelapisan lantai) agar lebih kuat, tahan air, mudah dibersihkan, serta tidak licin akibat tumpahan minyak,” tambahnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PUPR Mimika Kejar Penyelesaian Pembangunan Jalan Hasanuddin 

6 November 2026 - 13:24 WIB

IMG 20261106 WA0044

Dishub Mimika Evaluasi Traffic Light, Perempatan Pin Seluler Jadi Prioritas

6 November 2026 - 13:15 WIB

IMG 20261106 WA0043

Ratusan Pelajar SMA YPPGI Wissel Meren Enarotali Ikut Edukasi dari KPA Paniai 

6 November 2026 - 13:06 WIB

IMG 20261106 WA0042

Dua Hari Pelatihan, Petani Puncak Jaya Belajar Kembangkan Kopi Berkualitas

6 November 2026 - 12:56 WIB

IMG 20261106 WA0036

Deinas Geley Pimpin PSSI Papua Tengah, Targetkan Pembinaan Pemain Muda hingga Tingkat Nasional

6 November 2026 - 12:46 WIB

IMG 20261106 214339
Trending di Headline