TIMIKA — Cerita rakyat, musik tradisional, pakaian adat, kerajinan hingga kuliner khas Amungme dan Kamoro dihidupkan kembali dalam Festival Seni Budaya Mimika 2026 yang digelar di Lapangan Eks Pasar Lama, Kabupaten Mimika.
Mengusung tema “Merawat Cerita, Menghidupkan Musik, Melestarikan Budaya di Tanah Amungsa Bumi Kamoro”, festival yang digelar Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Mimika ini berlangsung selama empat hari, 5-8 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT ke-30 Kabupaten Mimika sekaligus menyambut Hari Kebudayaan Nasional.
Beragam agenda disiapkan, mulai dari fashion show pakaian adat Amungme dan Kamoro, penceritaan cerita rakyat, pertunjukan musik akustik, pameran kerajinan, seni tari hingga kuliner tradisional.
Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fransiskus Bokeyau, mengatakan festival tersebut tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal.
Menurutnya, Mimika tidak hanya memiliki kekayaan alam, tetapi juga kekayaan cerita dan pengetahuan lokal yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat.
“Setiap lembah, setiap sungai, setiap gunung menyimpan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Cerita-cerita tersebut tidak sekadar merekam masa lalu, tetapi di dalamnya ada kebijaksanaan lokal, nilai persaudaraan dan identitas masyarakat,” ujarnya.
Fransiskus berharap Festival Seni Budaya Mimika dapat menjadi langkah awal bagi pemerintah daerah untuk menjadikan pelestarian seni dan budaya sebagai agenda tahunan.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan melibatkan lebih banyak sekolah, sanggar seni, seniman, tokoh adat dan masyarakat sehingga pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Sementara itu, Kepala Disbudparekraf Mimika, Elisabet Cenawatin, mengatakan festival merupakan salah satu upaya pemerintah daerah menjaga sekaligus menghidupkan kembali warisan budaya yang ada di Mimika.
Salah satu fokus utama tahun ini adalah menggali dan menceritakan kembali cerita-cerita rakyat dari masyarakat Amungme dan Kamoro.
Proses tersebut dilakukan bersama tim ahli dari Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi, kepala suku, tokoh adat serta kalangan pemuda.
“Pemerintah punya kewajiban menjaga, melindungi dan mempromosikan adat dan budaya yang ada. Kami akan melakukannya setiap tahun,” kata Elisabet.
Tak hanya mengangkat cerita rakyat, festival juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mengembangkan seni musik tradisional.
Sejumlah pelajar tingkat SMP, SMA dan SMK mendapat pelatihan khusus sebelum tampil dalam festival. Pelatihan tersebut menghadirkan narasumber dari Jayapura.
Elisabet menyebutkan, sekitar 29 sekolah tingkat SMP, SMA dan SMK terlibat dalam berbagai rangkaian kegiatan, termasuk fashion show pakaian adat Amungme dan Kamoro, penceritaan cerita rakyat serta pertunjukan musik.
Selain itu, sekitar 30 jenis karya budaya turut ditampilkan, mulai dari ukiran, anyaman dan seni tari hingga berbagai kuliner tradisional.
“Kami berharap keterlibatan generasi muda semakin meningkat sehingga cerita rakyat, musik, tarian, kerajinan, pakaian adat dan kuliner tradisional tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” harap Elisabet. (Cr2)







