Menu ✖

Mode Gelap
Senator Sopater Bawa Kasus Hilangnya Dua Warga Suku Mek Ke DPD RI, Desak Pengusutan Tuntas Dan Penegakan Hukum Yorrys Raweyai Dorong Aspirasi Daerah Menjadi Perhatian Nasional Wilhelmus Pigai Dorong Penguatan Hak Politik Orang Asli Papua melalui Kajian Regulasi Gubernur Meki Nawipa Tinjau Tambang Bawah Tanah Freeport, Pelajari Teknologi dan Operasional Pertambangan Empat Pejabat Tinggi Negara Turun ke Nabire, Tertibkan Tambang Emas Ilegal Natalius Pigai: Keberhasilan Pembangunan HAM Harus Dirasakan Langsung oleh Rakyat

News

Ketua DPD RI Tawarkan Gagasan Demokrasi Hijau di COP30 Brazil

adminbadge-check


					Ketua DPD RI Tawarkan Gagasan Demokrasi Hijau di COP30 Brazil Perbesar

JAKARTA – Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sultan Baktiar Najamudin, memperkenalkan konsep “Green Democracy” atau Demokrasi Hijau saat menjadi pembicara kunci di plenary Investment Forum dalam ajang Conference of Parties (COP) ke-30 di Belem, Brazil. Kamis (13/11/2025) waktu setempat.

​Demokrasi Hijau adalah sebuah gagasan revolusioner yang menuntut kesadaran ekologis ditempatkan di setiap proses demokrasi. Ini mencakup segala hal, mulai dari pemilihan umum, penyusunan anggaran, perencanaan daerah, hingga diplomasi global.

​Sultan menjelaskan bahwa paradigma ini berupaya menggabungkan tiga pilar representasi:

  1. ​Representasi Daerah
  2. ​Representasi Politik
  3. ​Representasi Ekologis

​Tujuannya adalah menciptakan tatanan bernegara yang benar-benar berdampak positif bagi kesejahteraan rakyat dan lingkungan.

​Menurut Sultan, COP 30 adalah momentum penting bagi Indonesia untuk menegaskan komitmennya dalam mempercepat target dekarbonisasi dengan pendekatan kebijakan hijau.

​Dalam forum utama, ia menyampaikan pidato berjudul “Green Democracy and The Climate Change Bill: Indonesia’s Path to Sustainable Transformation.” Ia juga menekankan bahwa diplomasi karbon Indonesia berupaya menawarkan potensi besar carbon storage (penyimpanan karbon) yang dimiliki Indonesia, yang memiliki hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia dan ekosistem mangrove terluas di dunia.

​Mengutip UNDP Global Climate Report 2024, Sultan menyoroti fakta bahwa 70% kebijakan iklim gagal bukan karena kurang dana atau teknologi, melainkan karena lemahnya koherensi dan integrasi politik.

​Di sinilah Demokrasi Hijau menjadi kunci. Dengan institusi demokrasi yang inklusif, kolaboratif, dan partisipatif, masyarakat dapat menikmati kebijakan yang pro-growth, pro-youth, pro-ecology, dan pro-poor. Komitmen ini telah dibuktikan DPD RI dengan menyusun RUU Perubahan Iklim dan RUU Masyarakat Adat yang menjadi prioritas Prolegnas 2025.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diduga Meninggal Akibat Kondisi Kesehatan, Pria 45 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa Dilantai

6 November 2026 - 07:17 WIB

IMG 20261106 WA0010

DPO Kasus Penembakan Brigpol Ronald Enok Ditangkap di Puncak Jaya, Seorang Warga Ikut Diamankan

6 November 2026 - 07:11 WIB

IMG 20261106 WA0007

Perkuat Tata Kelola Organisasi, KINGMI di Tanah Papua Gelar Sosialisasi AD/ART di Deiyai

6 November 2026 - 07:07 WIB

IMG 20261106 WA0005

Polres Mimika Perkuat Benteng Pencegahan Narkoba Lewat Dua Posko Bersinar

6 November 2026 - 05:41 WIB

IMG 20261106 WA0019

211 Warga Pasar Sentral Terima Bantuan Pangan, Leni Tonglo Pastikan Tepat Sasaran

6 November 2026 - 05:38 WIB

IMG 20261106 WA0016
Trending di News