Menu

Mode Gelap
Gubernur Papua Tengah Tetapkan BOSDA Pendidikan Gratis Tahun 2026, Ribuan Siswa Jadi Penerima Manfaat Bupati Yampit Nawipa, Kabupaten Paniai Raih Peringkat I Kinerja Penyaluran Dana Desa Terbaik di Papua Tengah Dinas Pendidikan Kabupaten Deiyai Imbau SMP dan SMA Terapkan Kebijakan Pendidikan Gratis Teladan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX Anggota DPD RI Wilhelmus Pigai Salurkan Bantuan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H untuk Masjid Al-Fattah Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete

Headline

IPMKY Merauke Kecam Rasisme dan Tindakan Represif Aparat di Yalimo

Etty Welerbadge-check


					IPMKY Merauke Kecam Rasisme dan Tindakan Represif Aparat di Yalimo Perbesar

MERAUKE – Ikatan Pelajar Mahasiswa Kabupaten Yalimo (IPMKY) Kota Studi Merauke mengecam keras peristiwa rasisme dan bentrokan yang terjadi di Elelim, Kabupaten Yalimo, Provinsi Papua Pegunungan pada 16 September 2025.

Peristiwa bermula dari ujaran bernuansa rasis yang dilontarkan seorang siswa non-Papua kepada siswa asli Papua di SMA Negeri 1 Elelim. Ucapan tersebut memicu kemarahan para pelajar dan berujung pada aksi massa yang meluas hingga pembakaran kios milik warga pendatang. Situasi semakin memanas ketika aparat keamanan turun ke lokasi dan menggunakan senjata api untuk membubarkan massa.

Dalam insiden tersebut, seorang pemuda Papua bernama Zadrak Yohame tewas tertembak, sementara beberapa lainnya mengalami luka serius. IPMKY menilai tragedi ini menambah panjang daftar korban kekerasan aparat di Tanah Papua, sekaligus mencerminkan masih maraknya diskriminasi rasial terhadap orang asli Papua.

“Ucapan rasis ‘monyet’ bukan sekadar hinaan, tetapi simbol rasisme struktural yang sudah lama dipakai untuk merendahkan martabat orang Papua. Aparat yang seharusnya melindungi justru hadir sebagai mesin penindasan,” demikian pernyataan IPMKY dalam keterangan tertulis yang diterima awak media pada kamis, (18/9/2025).

IPMKY juga menyerukan agar kasus ini mendapat perhatian serius dari media, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas internasional. Mereka menilai konflik di Papua bukan sekadar soal kriminalitas, tetapi berakar pada rasisme, kolonialisme, dan pendekatan militeristik yang dipelihara negara.

Tuntutan IPMKY:

  1. Mengutuk segala bentuk tindakan rasisme terhadap pelajar dan rakyat Yalimo.
  2. Mengadili pelaku diskriminasi rasial terhadap pelajar dan rakyat Papua di Yalimo.
  3. Menghentikan pemeliharaan budaya rasis terhadap rakyat Papua di seluruh Tanah Papua.
  4. Mengungkap dan menangkap pelaku penembakan terhadap Zadrak Yohame.
  5. Menarik kembali pasukan militer organik dan non-organik dari wilayah Yalimo dan seluruh Tanah Papua.
  6. Menyatakan hukum negara Republik Indonesia rasis terhadap rakyat Papua.

IPMKY menegaskan, tragedi Elelim menjadi bukti nyata bahwa rakyat Papua terus hidup dalam bayang-bayang rasisme dan kekerasan negara. Mereka meminta Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah pusat mengakui penderitaan rakyat Papua dan membuka ruang bagi penyelesaian yang adil. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

IDI Cabang Mimika Resmi Dilantik, Siap Hadapi Tantangan Kesehatan Wilayah

28 Juni 2026 - 11:22 WIB

20260628

dr. Enny Kenangalem Dilantik Pimpin IDI Cabang Mimika Periode 2025–2028

28 Juni 2026 - 10:57 WIB

20260628

5 Anggota OPM Mewuluk Kodam XXVIII Nyatakan Ikrar Setia kepada NKRI 

27 Juni 2026 - 22:54 WIB

IMG 20260627 WA0049

Bupati Puncak Resmikan Gereja GKII Petrus Kalimangga di Nabire, Ajak Jemaat Perkuat Persatuan

27 Juni 2026 - 21:54 WIB

IMG 20260627 WA0128

Polda Papua Tangani 104 Kasus Narkotika, 151 Tersangka Diamankan dalam Enam Bulan

27 Juni 2026 - 12:46 WIB

IMG 20260627 WA0030
Trending di Headline