NABIRE – Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Nabire merayakan Dies Natalis ke-XII dengan penuh syukur dan sukacita. Perayaan tahun ini mengusung tema “Karakter Kristus sebagai Dasar Pembentukan Mahasiswa STAK Nabire” (Filipi 2:5).
Sejumlah agenda penting mewarnai peringatan ini, di antaranya peresmian Sekretariat Persekutuan Gereja-Gereja Papua Tengah (PGGPT), peninjauan kampus oleh Gubernur Papua Tengah, kuliah umum, hingga pengesahan Program Doktor (S3).
Ketua STAK Nabire, Dr. Yance Nawipa, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan lembaga pendidikan ini yang telah memasuki usia 12 tahun. Sejak berdiri pada 16 September 2014, STAK Nabire telah melalui proses panjang, berpindah-pindah lokasi sebelum akhirnya menetap di kampus yang sekarang.
“Puji Tuhan, oleh kasih dan anugerah-Nya, STAK Nabire bisa berdiri teguh hingga 12 tahun. Terima kasih kepada orang tua, gereja, pemerintah, serta semua pihak yang telah mendukung,” ucap Dr. Nawipa.
Ia menegaskan, pendidikan di STAK Nabire harus melahirkan pemimpin yang memiliki karakter Kristus, bukan hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kaya spiritual dan berintegritas.
“Pemimpin sejati itu kaya secara rohani, kaya pengetahuan, dan juga bijak dalam mengelola kehidupan. Semua harus dimulai dari karakter. Jika karakter benar, maka pendidikan dan masa depan akan berjalan baik,” tegasnya.
Selain itu, Dr. Yance Nawipa juga mengumumkan kerja sama pendidikan dengan Sekolah Tinggi Teologi KDC yang telah memiliki akreditasi baik untuk program S2 dan S3. Hal ini membuka peluang besar bagi STAK Nabire untuk mengembangkan kualitas pendidikan teologi di Papua Tengah.
Kuliah Umum Gubernur Papua Tengah
Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, dalam kuliah umumnya menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat ulang tahun ke-12 untuk STAK Nabire. Ia mengibaratkan usia 12 tahun sebagai masa transisi yang siap naik ke jenjang lebih tinggi, sama seperti anak yang menyelesaikan pendidikan dasar dan bersiap masuk ke sekolah menengah.
Menurutnya, pendidikan adalah satu-satunya cara untuk mengubah hidup manusia. Ia mencontohkan India yang kini menguasai teknologi dunia karena dulu menjalankan program “satu keluarga, satu sarjana.”
“Kalau Papua Tengah ingin maju, fondasinya harus pendidikan. Pemerintah sudah menaruh perhatian besar dengan mengalokasikan 20% anggaran untuk pendidikan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten. Tidak ada alasan lagi bagi anak-anak Papua untuk tidak sekolah,” tegas Gubernur Meki Nawipa.
Ia juga memaparkan kebijakan pemerintah terkait pendidikan gratis Tahun 2025, Pemerintah Provinsi Papua Tengah telah menggratiskan biaya pendidikan SMP dan SMA. Tahun depan, pemerintah berkomitmen memperluas hingga perguruan tinggi, termasuk STAK Nabire.
“Kita punya data sekitar 1.000 mahasiswa yang akan menerima manfaat. Dengan pendidikan gratis, orang tua tidak boleh lagi beralasan tidak menyekolahkan anaknya. Justru ekonomi keluarga akan terbantu karena bisa menyimpan uang untuk kebutuhan rumah tangga, kesehatan, atau usaha,” jelasnya.
Lebih lanjut, Gubernur menekankan bahwa peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi fokus utama. Saat ini rata-rata lama sekolah masyarakat Papua hanya 7–9 tahun, sehingga banyak yang berhenti di tingkat SMP. Dengan kebijakan sekolah gratis dan peningkatan akses pendidikan tinggi, diharapkan IPM Papua Tengah terus meningkat.
Perayaan Dies Natalis ke-XII STAK Nabire menjadi momentum penting untuk memperteguh peran pendidikan berbasis iman dan karakter. Kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan gereja diharapkan mampu melahirkan generasi muda Papua Tengah yang beriman, berilmu, dan berintegritas tinggi.
“Selamat Dies Natalis ke-XII untuk STAK Nabire. Semoga lembaga ini terus menjadi berkat bagi gereja, masyarakat, dan bangsa,” ujar Gubernur Meki Nawipa. (MB)






