Menu

Mode Gelap
Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete Wabup Nabire Apresiasi Peran PKBN, Sebut Kontribusi Etnis Batak Sangat Besar PKBN Nabire Kukuhkan Kepengurusan Baru, Tegaskan Komitmen Jaga Kerukunan di Daerah Mayat Pria Ditemukan di Belakang Grapari Timika, Polisi Dalami Kasus dan Kejar Pelaku Masyarakat Paniai Berdomisili Mimika Mendukung Daerah Otonom Kabupaten Moni, Mengecam Aksi Protes Piyos News Rayakan HUT ke-2, Perkuat Peran dari Papua Tengah hingga Nasional

Headline

Ketua Umum LEMASUMOPA Minta Pemerintah Pusat Tempuh Pendekatan Kemanusiaan di Intan Jaya

adminbadge-check


					Tampak Ketua Umum LEMAADSUMOPA, Thomas Sondegau (kaos putih) didampingi Kepala Suku Masyarakat Adat Wolani, Harun Agimbau dan Ketua DPD LEMAADSUMOPA Kabupaten Nabire, Moses Yatipai. ( Foto : Beritapapua.co ) Perbesar

Tampak Ketua Umum LEMAADSUMOPA, Thomas Sondegau (kaos putih) didampingi Kepala Suku Masyarakat Adat Wolani, Harun Agimbau dan Ketua DPD LEMAADSUMOPA Kabupaten Nabire, Moses Yatipai. ( Foto : Beritapapua.co )

MIMIKA –Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Masyarakat Adat Suku Moni Papua (DPP LEMASUMOPA), Thomas Sondegau, menyampaikan keprihatinan mendalam atas konflik bersenjata yang terus berlangsung di Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah. Sejak 2018 hingga 2025, wilayah tersebut belum pernah benar-benar lepas dari rentetan kekerasan antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) – Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan aparat keamanan TNI-Polri.

“Ini menjadi pertanyaan besar bagi kami. Mengapa konflik ini tidak kunjung berakhir? Apakah tidak ada jalan keluar yang lebih manusiawi?” ungkap Thomas dengan nada prihatin. Minggu, (25/05/2025).

Menurutnya, situasi ini jelas merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Korban bukan hanya berasal dari masyarakat sipil, tetapi juga dari pihak TNI-Polri maupun TPNPB-OPM itu sendiri.

“Hari ini kami berduka. Intan Jaya menjadi daerah operasi militer. Bunyi tembakan masih terus terdengar di telinga masyarakat hingga sekarang. Banyak warga harus meninggalkan kampung dan distrik mereka demi mencari tempat yang lebih aman,” kata Thomas.

Ia mendesak Presiden Republik Indonesia, Panglima TNI, dan Kapolri untuk segera melihat konflik di Intan Jaya dari sisi kemanusiaan dan mencari jalan keluar yang bermartabat. Ia juga menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap kelompok bersenjata boleh dilakukan, namun tidak dengan mengorbankan rakyat yang tidak berdosa.

“Rakyat seharusnya dilindungi, bukan menjadi korban. Penegakan hukum harus tetap mengedepankan perlindungan terhadap masyarakat sipil,” tegasnya.

Thomas mendesak Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah agar secapatnya mencari jalan keluar untuk maenyelesaikan Konflik yang terjadi.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peringati Hari Buku Nasional, Pegiat Literasi di Nabire Bangkitkan Semangat Membaca Generasi Muda

17 Mei 2026 - 12:19 WIB

IMG 20260517 WA0037

Kajati Papua Tiba di Nabire, Lakukan Penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama Pemprov Papua Tengah

17 Mei 2026 - 11:56 WIB

IMG 20260517 WA0029

Dinas Perpustakaan Paniai Ucapkan Selamat HUT Perpusnas RI ke-46, Dorong Literasi hingga Pelosok Papua

17 Mei 2026 - 11:45 WIB

IMG 20260517 WA0026

Hilal 1 Zulhijjah 1447 H Tidak Terlihat di Papua

17 Mei 2026 - 11:33 WIB

IMG 20260517 WA0014

HUT Pattimura ke-209 di Nabire Ditutup dengan “Makan Patita”, Simbol Persaudaraan Tanpa Sekat

17 Mei 2026 - 11:27 WIB

IMG 20260517 WA0019
Trending di Headline