Menu

Mode Gelap
Wilhelmus Pigai Serahkan Hadiah Quiz HUT ke-81 RI untuk Pelajar hingga Mahasiswa Pigai Tegaskan 10 Persen Saham Freeport Harus untuk Papua Tengah Gubernur Meki Nawipa Siapkan Coffee Morning Bersama Wartawan di Nabire Ketua Komite III DPD RI Minta Pemerintah Beri Perhatian Lebih kepada Dosen PTS di Wilayah 3T Sekjen DPD RI Dorong Budaya Evaluasi untuk Perkuat Kinerja Birokrasi HUT ke-4 Papua Tengah Jadi Titik Awal Program BANGKIT untuk Generasi Sehat Papua

Headline

El Nino Diprediksi Berlangsung hingga Awal 2027, Asap Berpotensi Bertahan

Etty Welerbadge-check


					El Nino Diprediksi Berlangsung hingga Awal 2027, Asap Berpotensi Bertahan Perbesar

TIMIKA — Berdasarkan siaran pers dari BMKG Pusat, fenomena El Niño yang diprediksi masih berlangsung hingga awal 2027 berpotensi menyebabkan kondisi cuaca kering dan minim hujan. Kondisi tersebut dinilai dapat memperpanjang potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penyebaran asap di sejumlah wilayah.

Forecaster BMKG Mimika, William Titahena, mengatakan kondisi asap yang terjadi saat ini tidak dapat dipastikan kapan akan berakhir. Menurutnya, salah satu faktor yang menjadi acuan adalah perkembangan fenomena El Niño yang saat ini memengaruhi kondisi cuaca secara global.

“Kalau ditanya kapan asap ini bisa selesai, mungkin kita tidak bisa menjawab langsung kapan asap selesai. Tapi kita berpatokan terhadap El Niño tersebut,” kata William.

Ia menjelaskan, kondisi kering akibat minimnya curah hujan dapat membuat kebakaran hutan dan lahan terus berlangsung apabila tidak dilakukan penanganan. Karena itu, upaya pemerintah dalam memadamkan titik-titik kebakaran menjadi faktor penting untuk mengurangi dan menghentikan penyebaran asap.

“Kalau dari pemerintah ada tindak lanjut untuk memadamkan api tersebut, maka asap pun akan berakhir. Karena hujannya minim,” ujarnya.

William menambahkan, apabila El Niño melemah atau berakhir pada akhir 2026 hingga awal 2027, maka kondisi asap juga berpotensi bertahan hingga periode tersebut, terutama jika kebakaran masih terjadi.

IMG 20260826 WA0026

Selain berdampak terhadap lingkungan dan kualitas udara, kondisi berasap juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan. Asap yang pekat dapat menurunkan jarak pandang atau visibility sehingga berpengaruh terhadap proses pendaratan pesawat.

“Dengan kondisi cuaca berasap seperti ini otomatis visibility berkurang. Dari visibility berkurang itu mengakibatkan terganggunya take-off, landing, bukan take-off, landing saja. Terganggunya landing daripada maskapai penerbangan,” jelasnya.

Menurut William, jarak pandang normal untuk penerbangan umumnya berada di atas 5 kilometer dan dapat mencapai 6 hingga 10 kilometer. Namun, ketika asap menyebabkan jarak pandang turun hingga sekitar 5, 3, bahkan 1 kilometer, kondisi tersebut dapat memengaruhi proses pendaratan pesawat.

Karena itu, perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memastikan keselamatan serta kelancaran operasional penerbangan di tengah kondisi berasap. (IT)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mimika for NTT, Saat Kepedulian Disatukan dalam Konser Amal dan 1.000 Lilin

26 Agustus 2026 - 09:01 WIB

IMG 20260826 WA0043

Ditpolairud Polda Papua Tengah Perluas Pencarian Perahu Hilang, Lima Orang Belum Ditemukan

26 Agustus 2026 - 08:56 WIB

IMG 20260826 WA0042

Gubernur Meki Nawipa Minta Pengawasan WNA di Papua Tengah Diperkuat

26 Agustus 2026 - 08:48 WIB

IMG 20260826 WA0036

Imigrasi Minta Masyarakat Laporkan Dugaan Pelanggaran Orang Asing di Papua Tengah

26 Agustus 2026 - 08:37 WIB

IMG 20260826 WA0035

33 Perusahaan Tambang di Papua Tengah Pekerjakan Orang Asing, Imigrasi Awasi 261 WNA

26 Agustus 2026 - 08:33 WIB

IMG 20260826 WA0033
Trending di Headline