TIMIKA — Berdasarkan siaran pers dari BMKG Pusat, fenomena El Niño yang diprediksi masih berlangsung hingga awal 2027 berpotensi menyebabkan kondisi cuaca kering dan minim hujan. Kondisi tersebut dinilai dapat memperpanjang potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penyebaran asap di sejumlah wilayah.
Forecaster BMKG Mimika, William Titahena, mengatakan kondisi asap yang terjadi saat ini tidak dapat dipastikan kapan akan berakhir. Menurutnya, salah satu faktor yang menjadi acuan adalah perkembangan fenomena El Niño yang saat ini memengaruhi kondisi cuaca secara global.
“Kalau ditanya kapan asap ini bisa selesai, mungkin kita tidak bisa menjawab langsung kapan asap selesai. Tapi kita berpatokan terhadap El Niño tersebut,” kata William.
Ia menjelaskan, kondisi kering akibat minimnya curah hujan dapat membuat kebakaran hutan dan lahan terus berlangsung apabila tidak dilakukan penanganan. Karena itu, upaya pemerintah dalam memadamkan titik-titik kebakaran menjadi faktor penting untuk mengurangi dan menghentikan penyebaran asap.
“Kalau dari pemerintah ada tindak lanjut untuk memadamkan api tersebut, maka asap pun akan berakhir. Karena hujannya minim,” ujarnya.
William menambahkan, apabila El Niño melemah atau berakhir pada akhir 2026 hingga awal 2027, maka kondisi asap juga berpotensi bertahan hingga periode tersebut, terutama jika kebakaran masih terjadi.

Selain berdampak terhadap lingkungan dan kualitas udara, kondisi berasap juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan. Asap yang pekat dapat menurunkan jarak pandang atau visibility sehingga berpengaruh terhadap proses pendaratan pesawat.
“Dengan kondisi cuaca berasap seperti ini otomatis visibility berkurang. Dari visibility berkurang itu mengakibatkan terganggunya take-off, landing, bukan take-off, landing saja. Terganggunya landing daripada maskapai penerbangan,” jelasnya.
Menurut William, jarak pandang normal untuk penerbangan umumnya berada di atas 5 kilometer dan dapat mencapai 6 hingga 10 kilometer. Namun, ketika asap menyebabkan jarak pandang turun hingga sekitar 5, 3, bahkan 1 kilometer, kondisi tersebut dapat memengaruhi proses pendaratan pesawat.
Karena itu, perkembangan kondisi cuaca dan jarak pandang menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memastikan keselamatan serta kelancaran operasional penerbangan di tengah kondisi berasap. (IT)






