Menu ✖

Mode Gelap
Papua Tengah Terang untuk Sugapa, Listrik Gratis 24 Jam Ditargetkan Mulai Desember 2026 Komite IV DPD RI Evaluasi Realisasi TKD dan Dana Otsus di Papua Papua di Ambang Pintu Neraka atau Surga: Refleksi Kemanusiaan atas Konflik dan Perdamaian Isu Reshuffle Kabinet, Natalius Pigai: Saya Tak Pernah Bermimpi Jadi Menteri TNI AD dan DPD RI Turun Tangan Atasi Masalah Infrastruktur Daerah Komite IV DPD RI Rampungkan Uji Kelayakan 23 Calon Anggota BPK RI

Headline

WALHI Papua Tolak Pembukaan Hutan Adat Untuk Swasembada Pangan dan Energi

Etty Welerbadge-check


					WALHI Papua Tolak Pembukaan Hutan Adat Untuk Swasembada Pangan dan Energi Perbesar

PAPUA – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Papua menyuarakan penolakan tegas terhadap kebijakan swasembada pangan dan energi yang dinilai justru memperkuat dominasi korporasi atas lahan luas di Tanah Papua.

Dalam siaran pers resminya Kamis, (17/12/2025), WALHI Papua menilai kebijakan pemerintah pusat dan daerah, termasuk program yang sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto, berpotensi membuka tanah adat dan hutan Papua untuk proyek pertanian skala besar seperti perkebunan sawit dan tebu. Kebijakan tersebut dinilai mengancam hak masyarakat adat, keanekaragaman hayati, kelestarian hutan, serta ketahanan pangan lokal.

Direktur Eksekutif Daerah WALHI Papua, Maikel Peuki, menegaskan bahwa pemerintah belum menunjukkan sikap menghormati dan mengakui masyarakat adat Papua sebagai pemilik sah tanah dan hutan adat.

“Pemerintah pusat dan pemerintah daerah Papua belum menghargai, menghormati, dan mengakui masyarakat adat Papua sebagai pemilik tanah dan hutan adat Papua,” tegas Maikel Peuki.

Ia menyatakan, WALHI Papua secara tegas menolak segala bentuk deforestasi dan pembukaan hutan adat skala besar yang berpotensi menimbulkan bencana ekologis di masa depan.

“Kami WALHI Papua menolak segala bentuk deforestasi pembukaan hutan adat di Papua dengan skala besar. Masyarakat adat Papua tidak mau mendapat bencana ekologis yang akan datang. Papua bukan tanah kosong, Papua tolak deforestasi, Papua tolak PSN,” lanjutnya.

WALHI Papua juga menyoroti kebijakan pemerintah yang dinilai mengabaikan Otonomi Khusus dan kekhususan pemerintahan Papua, termasuk prinsip penghormatan terhadap hak ulayat masyarakat adat.

Menurut WALHI, hingga saat ini pemerintah belum melibatkan masyarakat adat secara bebas, didahului, dan diinformasikan (Free, Prior, and Informed Consent/FPIC) sebelum mengambil keputusan strategis terkait pemanfaatan tanah dan hutan adat.

Lebih lanjut, WALHI Papua memperingatkan bahwa kebijakan swasembada pangan dan energi berbasis monokultur besar berisiko memicu konflik agraria, mempercepat kerusakan hutan, serta menghancurkan sistem pangan lokal masyarakat adat Papua yang selama ini bergantung pada sagu dan hasil hutan lainnya.

WALHI Papua menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan pembangunan di Tanah Papua agar tetap berpihak pada keadilan ekologis, perlindungan hak masyarakat adat, dan keberlanjutan lingkungan hidup. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Setelah 10 Tahun Pembangunan, Gereja KINGMI Jemaat Sinai SP 2 Mimika Siap Diresmikan

11 Oktober 2026 - 08:48 WIB

IMG 20261011 WA0034

HMI Cabang Mimika dan GPII Papua Tengah Bagikan 150 Masker Gratis, Desak Pemkab Antisipasi Dampak Kabut Asap

11 Oktober 2026 - 02:43 WIB

IMG 20261011 114058

Papua Tengah Terang untuk Sugapa, Listrik Gratis 24 Jam Ditargetkan Mulai Desember 2026

11 Oktober 2026 - 02:09 WIB

IMG 20261011 WA0025

Mimika Genap 30 Tahun, Keluarga Perintis Pemekaran Pertanyakan Pengakuan atas Jasa Orang Tua “Jangan Dihapus dari Sejarah”

10 Oktober 2026 - 07:22 WIB

IMG 20261010 WA0011

Polres Mimika Dorong Pelajar SMP Negeri 10 Manfaatkan Peluang Beasiswa SMA Kemala Taruna Bhayangkara

10 Oktober 2026 - 06:37 WIB

IMG 20261010 WA0009
Trending di Headline