Menu

Mode Gelap
Sengketa PAW DPR Papua Tengah, Simon Gobai Resmi Tunjuk Yakehu sebagai Kuasa Hukum Natal di Tengah Luka Bangsa: Refleksi dari Sumatera hingga Papua Kepsek SD Inpres Nabarua Sampaikan Terima Kasih, 159 Siswa Terima PIP Usulan Senator Wilhelmus Pigai Sinergi Membangun SDM: Wilhelmus Pigai Dukung Penuh Program Pendidikan Gratis Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa: 2026 Adalah Tahun Lompatan Besar bagi Pendidikan Gratis di Papua Tengah Pesta Kembang Api Spektakuler di Pantai Nabire, Masyarakat: Terima Kasih Gubernur Meki Nawipa

Headline

Peringati 12 Tahun Penetapan Noken oleh UNESCO, Komunitas Adat Papua Sampaikan Seruan Lingkungan dan Sosial

Etty Welerbadge-check


					Peringati 12 Tahun Penetapan Noken oleh UNESCO, Komunitas Adat Papua Sampaikan Seruan Lingkungan dan Sosial Perbesar

NABIRE — Pada momentum peringatan 12 tahun penetapan noken sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, berbagai komunitas adat Papua kembali menegaskan pentingnya perlindungan budaya dan lingkungan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Papua.

Noken resmi masuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding UNESCO pada 4 Desember 2012 di karang pasar Nabire Papua Tengah.

Penetapan ini bertujuan melindungi dan melestarikan kerajinan tradisional Papua yang memiliki nilai budaya tinggi, sekaligus meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga noken sebagai bagian dari warisan dunia yang membutuhkan perlindungan mendesak.

UNESCO menyatakan bahwa perlu upaya serius untuk mencegah ancaman kepunahan noken, termasuk berkurangnya bahan baku serta melemahnya regenerasi pembuat noken akibat perubahan gaya hidup dan minimnya transmisi keterampilan tradisional.

Selain itu, noken dipandang sebagai simbol perdamaian, kebersamaan, harmoni, kesetaraan gender, identitas masyarakat Papua, serta menjadi media komunikasi sosial yang sarat makna.

Pada peringatan tahun ini, sekelompok masyarakat adat menyampaikan pernyataan sikap terkait situasi lingkungan dan sosial di Tanah Papua. Melalui penyampaian tertulis, mereka menyuarakan keprihatinan atas berbagai bentuk investasi dan kebijakan yang dinilai dapat berdampak pada ruang hidup masyarakat adat dan keberlanjutan bahan baku noken.

Seruan tersebut memuat empat poin utama, yaitu:

1. Menolak PSN di Merauke, Sorong, dan wilayah lain di Tanah Papua.

2. Menghentikan seluruh investasi yang dapat berdampak buruk pada hutan—sebagai sumber kehidupan masyarakat adat dan bahan baku pembuatan noken.

3. Menolak pendropan militer di seluruh wilayah Papua.

4. Menyuarakan pemberian hak menentukan nasib sendiri bagi masyarakat Papua Barat sebagai solusi demokratis.

Pernyataan itu ditutup dengan seruan bertajuk: “Selamatkan tanah air dan bebaskan rakyat dari ancaman imperialisme, kolonialisme, dan militerisme.”

Dokumen seruan ini ditandatangani oleh penanggung jawab, Ando Douw, pada 4 Desember 2025.

Meski membawa aspirasi yang beragam, momen peringatan hari noken ini kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya Papua agar tetap hidup, lestari, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Speed Boat Alami Laka Laut, Seluruh Penumpang Berhasil Dievakuasi

13 Januari 2026 - 14:00 WIB

Img 20260113 wa0134

Pelajar SMA Negeri 1 Nabire Apresiasi Festival Media Se-Tanah Papua, Dinilai Jadi Pondasi Jurnalistik

13 Januari 2026 - 13:56 WIB

Img 20260113 wa0125

Festival Media Se-Tanah Papua Perdana 2026 di Nabire, Dihadiri Ratusan Wartawan dan Tokoh Pers 

13 Januari 2026 - 13:44 WIB

Img 20260113 wa0117

Ribuan Umat Kingmi Ikut Ibadah Peringati Hari Pekabaran Injil Masuk ke Pedalaman

13 Januari 2026 - 13:31 WIB

Img 20260113 wa0115

Berkas Perkara Tiga Tersangka Narkoba Dilimpahkan ke Kejaksaan

13 Januari 2026 - 13:27 WIB

Img 20260113 wa0111
Trending di Headline