TIMIKA – Bupati Mimika, Johannes Rettob dan Wakil Bupati, Emanuel Kemong belum lama ini melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) perdana di tiga Distrik wilayah pesisir. Dalam kunker salah satu agenda adalah melakukan tatap muka dengan Pemerintah Distrik, Kampung dan masyarakat setempat.
Kunker dan tatap muka Bupati bersama masyarakat di Distrik Mimika Barat Tengah, Kepala Kampung Wakia, Fredrick Warawarin menyampaikan keinginan dan kerinduan masyarakat Wakia untuk mendapatkan layanan pendidikan yang sejak kampung dibuka hingga kini, tidak tersentuh oleh pendidkan.

Kepala Kampung Wakia, Fredrickus Warawarin pada kesempatan itu meminta perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Mimika, khususnya Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan, untuk membuka kembali akses layanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat di Kampung Wakia, Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Menurut Erik, hingga saat ini masyarakat Kampung Wakia belum mendapatkan layanan pendidikan dan kesehatan yang memadai.
Ia menjelaskan, saat ini anak-anak di Kampung Wakia masih menumpang sekolah di kampung tetangga yaitu Kampung Uta dan Mapar. Karena itu, pemerintah kampung berharap adanya pembangunan sekolah baru agar kegiatan belajar dapat dilakukan di wilayah sendiri.

“Kalau sudah ada sekolah di Kampung Wakia, saya minta orang tua membawa kembali anak-anak yang selama ini sekolah di luar kampung. Dengan begitu, pendidikan bisa berjalan di kampung sendiri dan anak-anak tidak perlu lagi keluar hanya untuk sekolah dasar,” ujar Erik.
Erik juga menyebut, dari Anggaran Dana Desa (ADD), pemerintah kampung telah mengalokasikan dana pendidikan untuk mendukung anak-anak sekolah mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Namun tanpa fasilitas pendidikan di kampung, dana tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal.
Selain pendidikan, masyarakat Kampung Wakia juga menghadapi kendala akses pelayanan kesehatan. Saat ini, pelayanan Puskesmas Wakia yang seharusnya melayani wilayah tersebut justru dialihkan ke Kampung Mapar, yang jaraknya cukup jauh dan sulit dijangkau.
“Ini kendala besar, karena jarak dari Kampung Wakia ke Kampung Mapar sangat sulit ditempuh. Saya berharap Bupati dan Kepala Dinas Kesehatan meninjau kembali wilayah kerja puskesmas agar masyarakat Wakia tetap dilayani oleh Puskesmas Wakia di Kampung Uta,” tegas Erik.
Erik berharap Bupati Mimika dapat segera menginstruksikan pembukaan kembali layanan dasar pendidikan dan kesehatan agar masyarakat Wakia dapat menikmati hak-hak dasar mereka seperti warga kampung lain di Kabupaten Mimika.
Bupati Mimika Johannes Rettob pada agenda tatap muka bersama masyarakat Distrik Mimika Barat Tengah di Kampung Uta menjawab aspirasi Kepala Kampung Wakia soal pendidikan dan layanan kesehatan kedepan bagi masyarakat kampung wakia.
Bupati John Rettob mengatakan ada satu kampung yang punya dua SD, sementara di Kampung Wakia sama sekali tidak ada SD.

“Ada SD Negeri juga SD YPPK di satu Kampung, ini persoalan kita. Tetapi ada kampung yang sama sekali tidak ada SD. Nanti kita akan perhatikan ini. Kalau anak usia sekolah banyak, kenapa tidak kita pindahkan satu SD dari sini ke Wakia?,” tanya Bupati John.
Johannes Rettob mengakui dalam kunkernya sudah mendengar langsung dari beberapa Kepala Sekolah bahwa ada sekolah yang muridnya sedikit, tetapi kampung tersebut berdiri dua Sekolah disana. Kenapa tidak pilih satu sekolah saja dan satunya dipindahkan ke Wakia.
“Nanti akan dipikirkan. Saya akan putuskan segera, dari pada membentuk, membuka sekolah baru, proses untuk kesiapan berkasnya cukup panjang. Sehingga sekolah yang ada akan dibagi. Intinya bahwa nanti kita akan perhatikan. Janji saya kita akan bangun sekolah disana,” tutup Bupati Johannes Rettob.

Untuk diketahui masyarakat kampung Wakia adalah mayoritas suku asli Kamoro. Sehingga Pemerintah melalui Dinas terkait harus memperhatikan anak-anak usia sekolah yang ingin maju dengan pendidikan, namun tidak ada pelayanan di kampung mereka. Setelah adanya sekolah di Kampung Wakia, maka orang tua wajib mengambil kembali anak-anak dari kampung tetangga untuk bisa menikmati pendidikan di kampung sendiri. (Etty)






