Menu

Mode Gelap
Aksi APDESI di Monas Hari Ini: 2.155 Personel Gabungan Disiagakan, Polisi Imbau Jaga Ketertiban DPD RI Soroti Krisis Kesehatan Mental Perempuan dan Ancaman Digital Jakarta Stop Pengalihan Isu! Senator Kambuaya Desak Presiden Prabowo Segera Audit Total Izin Perusak dan Fokus Bencana Meningkatnya Kriminalitas: Akar Masalah dan Solusi Holistik (Ditinjau dari Sosiologi Hukum) Banjir Bandang Sumatera: Alarm Bencana Ekologis dan Slow Violence di Seluruh Indonesia Gubernur Meki Nawipa Kucurkan Lebih dari Rp 90 Miliar, Wujudkan Pendidikan Gratis di Papua Tengah

Headline

Pasca Operasi Militer di Lanny Jaya, YKKMP Pasang Baliho Larangan Perang di Area Sipil

Etty Welerbadge-check


					Pasca Operasi Militer di Lanny Jaya, YKKMP Pasang Baliho Larangan Perang di Area Sipil Perbesar

LANNY JAYA – Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) bersama Tim Kemanusiaan Lanny Jaya, Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP), dan Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua (PGBP).melakukan pemasangan sejumlah baliho bertema “Larangan Perang di Area Sipil” di lima distrik Kabupaten Lanny Jaya, yakni Melagi, Melagineri, Wano Barat, Kwiyawage, dan Goa Balim.

Pemasangan baliho dilakukan pada 25 Oktober 2025 sebagai bentuk seruan moral agar konflik bersenjata antara TPNPB dan TNI tidak lagi berdampak pada masyarakat sipil di wilayah tersebut.

Img 20251027 wa0025

Konteks Operasi dan Pengungsian

Sebelumnya, pada 5 Oktober 2025, dilaporkan terjadi operasi militer di Kampung Wunabugu, Distrik Melagi, yang memicu bentrok antara aparat TNI dan kelompok TPNPB pimpinan Puron Wenda. Akibat peristiwa itu, sekitar 2.300 warga dilaporkan mengungsi ke Kampung Yigemili dan sekitarnya.

Seorang pendeta yang enggan disebutkan namanya mengisahkan bahwa serangan udara terjadi bertepatan dengan pelaksanaan ibadah Perjamuan Kudus di hari Minggu.

Img 20251027 wa0028

“Kami sudah siap ibadah, tetapi tiba-tiba dua helikopter datang dan melakukan penyerangan dari udara. Jemaat panik dan menyelamatkan diri masing-masing,” ujarnya sambil menangis.

Pendeta tersebut juga menyebut dua warga terdampak: Wiringga Walia (22 tahun) yang meninggal dunia, dan Yoban Wenda (60 tahun) yang hingga kini belum ditemukan.

Direktur YKKMP Theo Hesegem menjelaskan bahwa pemasangan baliho dilakukan untuk mengingatkan kedua pihak yang bertikai agar menjunjung tinggi prinsip Hukum Humaniter Internasional (HHI), terutama dalam melindungi masyarakat sipil.

Isi baliho memuat prinsip-prinsip dasar HHI, seperti hak atas kehidupan, larangan penyiksaan, perlindungan terhadap serangan, dan hak atas kebutuhan dasar. Selain itu, terdapat tujuh poin pernyataan sikap masyarakat di lima distrik, di antaranya:

1. TNI dan TPNPB dilarang melakukan penyerangan di area sipil, dan perang terbuka hanya boleh dilakukan di luar kawasan pemukiman.

2. Aparat tidak melakukan penangkapan sewenang-wenang terhadap warga sipil.

3. Kedua pihak diminta bertindak profesional agar tidak terjadi pembunuhan di luar hukum.

4. Wilayah Melagi, Melagineri, Wano Barat, Kwiyawage, dan Goa Balim dinyatakan zona damai, bukan zona perang.

5. Aktivitas masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, gereja, dan ekonomi tidak boleh terganggu.

6. Larangan intimidasi terhadap warga sipil.

7. Seruan kepada Presiden Prabowo Subianto selaku Panglima Tertinggi agar menarik pasukan non-organik dari wilayah tersebut.

Img 20251027 wa0026

“Kami tidak membatasi perang antara TNI dan TPNPB, tetapi masyarakat sipil harus dilindungi. Mereka berhak hidup tenang tanpa rasa takut,” tegas Theo Hesegem.

Koordinasi dan Dukungan Gereja

Theo bersama tim kemanusiaan juga menemui Komandan Satgas Yonif Raider 408/Suhbrastha di Pos Melagi untuk menyerahkan surat pemberitahuan pemasangan baliho. Dalam pertemuan itu, Theo menyampaikan harapan agar aparat bersikap hati-hati dan menghormati keselamatan warga serta tim kemanusiaan.

“Kami meminta agar daerah dipastikan steril selama pemantauan, dan anggota TNI yang mengikuti ibadah tidak membawa senjata ke dalam gereja,” ujarnya.

Theo menyebut dukungan gereja sangat penting karena sebagian besar pengungsi merupakan jemaat mereka. Sejumlah pengungsi mengaku lega atas kehadiran tim kemanusiaan.

“Kami merasa tenang karena ada yang memperhatikan kami. Sebelumnya kami sangat takut dan tidak bisa beribadah dengan bebas,” ujar seorang warga pengungsi.

Upaya Pemulihan Kehidupan Sipil

Melalui aksi tersebut, YKKMP berharap pengungsi dapat segera kembali ke kampung masing-masing dan melanjutkan aktivitas sehari-hari dengan aman.

“Konflik bersenjata tidak boleh mengorbankan kebebasan dan kenyamanan masyarakat sipil. Nilai kemanusiaan harus dijunjung tinggi oleh semua pihak,” tutup Theo Hesegem.

Ditekankan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil sesuai prinsip-prinsip hukum humaniter internasional. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dilantik Jadi Ketua IK3M, Anton Welerubun Bersama Dua Raja Mengajak Warga Kei di Mimika Jaga Persatuan dan Nama Baik Leluhur 

8 Desember 2025 - 15:36 WIB

20251206 135728

Pemkab Mimika Kebut Penyusunan APBD 2026, OPD Diminta Percepat Rampungkan RKA

8 Desember 2025 - 14:20 WIB

20250923 103622

LBH Papua Tengah Desak Aparat Gelar Razia Senjata Tajam di Mimika Jelang Natal dan Tahun Baru

8 Desember 2025 - 14:04 WIB

Img 20251208 wa0126

Garda Terdepan Distribusi Energi, Awak Mobil Tanki Pertamina Patra Niaga Papua dan Maluku Tingkatkan Kehandalan dan Kewaspadaan

8 Desember 2025 - 13:51 WIB

Img 20251208 wa0102

Ketua BMA Papua Tengah Ajak Warga Jaga Kamtibmas Jelang Hari HAM Sedunia

8 Desember 2025 - 13:43 WIB

Img 20251208 wa0118
Trending di Headline