NABIRE — Dalam rangka meningkatkan pelayanan transportasi udara bagi masyarakat di Provinsi Papua Tengah, Ketua Asosiasi Bupati Papua Tengah, Melkianus Mote, ST, mendesak Kementerian Perhubungan Republik Indonesia agar segera memberikan izin penerbangan bagi maskapai dengan layanan penuh (full service) seperti Garuda Indonesia dan Batik Air untuk masuk ke Bandara Nabire, ibu kota provinsi tersebut.
Menurut Mote, kebutuhan akan layanan penerbangan dengan maskapai full service sangat mendesak, mengingat selama ini masyarakat Papua Tengah hanya dilayani oleh maskapai berbiaya rendah (low cost carrier). Padahal, maskapai full service dapat mengangkut lebih banyak penumpang dan kargo sekaligus, memberikan kenyamanan lebih, serta efisiensi perjalanan jarak jauh yang lebih tinggi.
“Kami meminta pemerintah pusat, khususnya Kementerian Perhubungan, untuk segera membuka akses penerbangan full service ke Bandara Nabire. Hal ini penting agar Nabire bisa menjadi bandara pusat (hub) yang menghubungkan seluruh wilayah Papua Tengah,” tegas Melkianus Mote, yang juga menjabat sebagai Bupati Deiyai.
Nabire Sebagai Bandara Hub Papua Tengah
Melalui skema hub-and-spoke, Mote mengusulkan agar Bandara Nabire dijadikan pusat konsolidasi penumpang dan kargo dari enam kabupaten di Papua Tengah: Deiyai, Paniai, Dogiyai, Intan Jaya, Mimika, dan Puncak. Dengan demikian, penumpang dari kabupaten yang belum memiliki penerbangan langsung dapat terhubung melalui Nabire ke berbagai destinasi nasional lainnya.
“Dengan status Bandara Nabire sebagai hub, distribusi penumpang dan barang menjadi lebih teratur dan efisien. Ini mendukung pemerataan pembangunan dan mobilitas masyarakat di provinsi baru ini,” tambahnya.
Usulan Pembukaan Bandara ATR di Waghete
Selain mendesak penerbangan full service ke Nabire, Mote juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengajukan surat resmi kepada Kementerian Perhubungan untuk membuka Lapangan Terbang Waghete di Kabupaten Deiyai sebagai bandara pusat bagi pesawat jenis ATR.
Bandara Waghete sebelumnya telah berhasil melakukan uji pendaratan pesawat ATR 72-200 milik Trigana Air pada tahun 2020. Rencananya, Waghete akan melayani rute-rute penghubung ke Bandara Nabire dan Bandara Timika.
“Kami telah usulkan Lapter Waghete menjadi bandara pusat untuk pesawat ATR. Jarak tempuh dari kabupaten tetangga seperti Paniai dan Dogiyai hanya sekitar 1 jam dengan transportasi darat. Intan Jaya pun bisa dijangkau dalam waktu 4 jam jika infrastruktur jalan diperbaiki,” ujar Mote.
Akses Lebih Mudah dan Pelayanan Lebih Layak
Dengan terbukanya akses udara dari pesawat berbadan besar, masyarakat Papua Tengah dapat menikmati layanan transportasi yang lebih cepat, aman, dan nyaman. Saat ini, masyarakat masih harus menempuh perjalanan darat hingga enam jam ke Nabire atau bergantung pada pesawat kecil yang kapasitasnya terbatas.
“Kami ingin hadirkan keadilan akses transportasi bagi masyarakat. Tidak semua bisa menunggu lama atau membayar mahal untuk angkutan udara kecil. Dengan maskapai full service dan pengembangan bandara lokal, masyarakat Papua Tengah bisa mendapatkan pelayanan setara dengan daerah lain di Indonesia,” pungkas Mote. (Etty)






