NABIRE – Pemerintah Provinsi Papua Tengah bersama UNICEF dan Kementerian Kesehatan RI menggelar pertemuan sosialisasi dan persiapan pelaksanaan imunisasi heksavalen di Hotel Mahavira, Nabire, Senin (22/9).
Kegiatan ini dibuka langsung oleh Plt. Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan KB Provinsi Papua Tengah, dr. Agus, M.Kes, CH.Med, CHt. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa imunisasi heksavalen merupakan langkah penting untuk melindungi masa depan anak-anak Papua dari enam jenis penyakit berbahaya.
“Hari ini kita tidak hanya bicara soal vaksin, tapi tentang masa depan anak-anak kita. Setiap suntikan yang berhasil diberikan adalah investasi besar bagi generasi yang lebih sehat, kuat, dan tangguh,” ujarnya.
Tantangan Papua Tengah
Menurut dr. Agus, Papua Tengah menghadapi tantangan berat dalam pelayanan kesehatan, mulai dari kondisi geografis ekstrem, keterbatasan tenaga medis, hingga rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap yang saat ini baru mencapai 18%. Ia juga menyoroti masih tingginya penolakan masyarakat terhadap suntikan vaksin karena faktor budaya, informasi yang keliru, serta keterbatasan komunikasi antar tenaga kesehatan dan masyarakat.
“Sekitar 40% orang tua masih ragu atau enggan anaknya mendapat lebih dari satu kali suntikan. Ini bukan hanya soal teknis, tetapi tantangan sosial dan budaya yang harus kita atasi bersama,” jelasnya.
Imunisasi Heksavalen Jadi Solusi
Vaksin heksavalen dinilai menjadi jawaban atas tantangan tersebut. Dengan satu kali suntikan, anak-anak akan terlindungi dari enam penyakit sekaligus, termasuk polio, difteri, tetanus, hepatitis B, pertusis, dan Hib. Papua Tengah ditetapkan sebagai salah satu provinsi lokus pertama penerapan imunisasi heksavalen mulai Oktober 2025.
Selain sosialisasi, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah juga menyiapkan program insentif imunisasi berbasis kinerja bagi puskesmas dan tenaga kesehatan. Insentif ini diharapkan dapat memotivasi petugas untuk memperluas cakupan layanan hingga wilayah sangat terpencil.
Peran Kader dan Kolaborasi
dr. Agus menegaskan pentingnya keterlibatan kader kesehatan, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat dalam menyukseskan program imunisasi. Pemerintah Provinsi juga berencana memberikan pelatihan dan insentif khusus bagi kader dengan 25 kompetensi utama, agar mampu menjadi ujung tombak pelayanan di tingkat kampung.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Keberhasilan imunisasi membutuhkan kolaborasi semua pihak — dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, mitra pembangunan, hingga kader di kampung,” tambahnya.
Menuju Papua Tengah Sehat
Pertemuan ini dihadiri perwakilan Kemenkes RI, UNICEF, WHO, dan delapan Dinas Kesehatan Kabupaten di Papua Tengah. Agenda dilanjutkan dengan sesi diskusi, pemaparan teknis imunisasi heksavalen, serta strategi komunikasi publik untuk melawan hoaks kesehatan.
dr. Agus menutup sambutannya dengan optimisme bahwa Papua Tengah mampu mengejar ketertinggalan cakupan imunisasi dan menjadi provinsi yang lebih sehat, tangguh, serta siap menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.
“Anak-anak kita tidak bisa menunggu. Papua Tengah tidak boleh tertinggal. Mari kita sukseskan imunisasi heksavalen sebagai langkah menuju Papua Tengah yang lebih sehat dan berdaya saing,” pungkasnya. (MB)






