TIMIKA – Perayaan malam Paskah mengenang kebangkitan Kristus ditandai dengan cahaya lilin dari ribuan umat Katolik yang mengikuti misa di Gereja Katedral Tiga Raja, Sabtu (19/04/2025).
Misa Sabtu Suci atau malam Paskah diawali dengan upacara pemberkatan api unggun untuk membakar lilin yang dipimpin oleh Uskup terpilih Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA. Dalam perayaan ini juga dilaksanakan upacara pembaptisan terhadap 99 orang katekumen.
Uskup terpilih Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA dalam khotbahnya mengajak umat untuk merenungkan dua hal tentang kisah penciptaan berkaitan dengan alam, ekologi dan perempuan.
Didalam kitab Kejadian dikisahkan tentang bagaimana proses Allah menciptakan alam semesta dan juga menciptakan manusia dirumuskan dengan kata baik adannya, kebaikan yang maksimal, kebaikan yang tertinggi, utuh, sempurnah, kebaikan yang melampaui akal sehat manusia.
“Alam raya, hutan, univerce ini atau makrokosmos adalah hasil karya agung Allah yang adalah hasil cintanya yang sempurna. Karena itu, hutan tidak hanya bernilai ekonomis, bernilai uang, tetapi hutan juga memiliki nilai spiritual rohani, memiliki nilai sosial budaya, memiliki nilai medis dan sumber ilmu pengetahuan,” kata Uskup Bernadus.
Penegasan ini sejalan dengan apa yang dikatakan atau ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik “Laudato Si”.
“Hutan bukanlah sekedar hutan tapi hutan adalah misteri Allah, wajah Allah yang ditampakkan kepada kita manusia. Banyak hal yang tidak dapat dipecahkan oleh akal manusia, banyak peristiwa-peristiwa alam yang adalaj misteri, yang adalah rahasia besar Allah bagi kita manusia,” ujarnya.
Mgr. Bernadus juga mengatakan, seorang teolog agama dari Jerman dalam bukunya yang berjudul ide yang Kudus atau yang sakral itu menegaskan bahwa alam memiliki karakteristik keilahiannya.
“Kita bayangkan gunung Merapi mengeluarkan lahar sekaligus indah tapi sekaligus juga menakutkan. Tapi itulah dimensi misteri Allah yang ada dalam alam. Maka ketika alam dirusakkan oleh kejahatan manusia, maka manusia dan seluruh misteri alam itu, seluruh kehidupannya akan mengalami kepunahan abadi,” katanya.
Disampaikan Uskup juga bahwa manusia merasa diri sombong, angkuh, egois, tamak dan rakus sehingga hutan di babak habis untuk hanya kepentingan perut, kepentingan keenakan, kenikmatan sesaat. Itulah hutan di tanah Papua ini di babat habis oleh kaum yang rakus dan tamak.
Lanjut Mgr. Bernadus, kemudian yang kedua, Allah menciptakan manusia dalam bahasa Ibrani disebut Adam, manusia pria dan kemudian menciptakan perempuan.
“Pria sebagai gambaran Allah yang adalah bapak dan perempuan menggambarkan Allah sebagai ibu yang mengandung kehidupan, melahir dan merawat kehidupan bagi kelangsungan sang kehidupan manusia mencerminkan kehidupan Allah sendiri,” ucapnya.
Oleh karena itu, kebudayaan patriarki yang masih terus kita praktekkan apalagi di kebudayaan Timur ini atau Indonesia ini masih mempraktekkan ideologi patriarki yang masih kuat, memisahkan perempuan dan laki-laki perempuan kelas 2,laki-laki kelas 1.
Perempuan tidak terlibat dalam semua proses kebijakan-kebijakan tapi laki-laki lah yang menguasai dan mendominasi ini bertentangan dengan prinsip pria ciptaan Tuhan yaitu melarut melalui prokreasi kelahiran anak.
“Saya kira situasi kita apalagi kita di wilayah Timur ini belis terlalu mahal, banyak perempuan menjadi korban oleh bellis sehingga banyak yang menjadi perawan tua karena akibat dari belis. Apalagi orang Lamaholot yang belisnya adalah Gading, orang maibrat itu kain timur dan susah sekali juga bayarnya sampai jutaan,” tuturnya.
Oleh karena itu, kata Uskup perlu didiskusikan agar mengedepankan martabat perempuan dan laki-laki adalah sama. Perempuan sebagai aktor kehidupan karena itu bacaan Injil hari ini jelas perempuanlah penyaksi kehidupan pertama bukan laki-laki.
“Perempuanlah yang menyaksikan rahasia hidup Allah lebih dahulu dari pada kaum pria, oleh karena itu yang masih mempraktekkan budaya patriarki mulai malam paskah bertobatlah. Dan yang suka pukul-pukul istri bertobat, kalau tidak tangan akan dipotong oleh Tuhan Allah dan masuk di neraka,” kata Mrg Bernadus.
Selain itu Uskup juga meminta kepada orang-orang muda jangan menjadikan perempuan muda sebagai objek kesenangan sesat.
“Dia (perempuan) adalah sahabat dan teman seperjalanan untuk saling membangun bukan jadi objek untuk kesenangan sesat,” pinta Mrg Bernadus.
Perlu diketahui dalam misa malam Paskah yang berlangsung di Gereja Katedral Tiga Raja kali ini sangat istimewa dimana selain dihadiri Bupati Mimika, Johannes Rettob , juga hadir Utusan Khusus Presiden Republik Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito. (IT)






