Menu ✖

Mode Gelap
Komite IV DPD RI Evaluasi Realisasi TKD dan Dana Otsus di Papua Papua di Ambang Pintu Neraka atau Surga: Refleksi Kemanusiaan atas Konflik dan Perdamaian Isu Reshuffle Kabinet, Natalius Pigai: Saya Tak Pernah Bermimpi Jadi Menteri TNI AD dan DPD RI Turun Tangan Atasi Masalah Infrastruktur Daerah Komite IV DPD RI Rampungkan Uji Kelayakan 23 Calon Anggota BPK RI DPD RI Dorong Diplomasi Parlemen Perkuat Kepentingan Daerah di ASEAN

Headline

Uskup Hilarion Ajak Umat Katolik di Fakfak Jaga Lingkungan dan Hindari Pembakaran Sembarangan

Etty Welerbadge-check


					Uskup Hilarion Ajak Umat Katolik di Fakfak Jaga Lingkungan dan Hindari Pembakaran Sembarangan Perbesar

FAKFAK — Uskup Keuskupan Manokwari-Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr., mengajak umat Katolik dan masyarakat Kabupaten Fakfak untuk bersama-sama menjaga lingkungan, menghindari pembakaran sembarangan, menghemat air, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama di tengah kondisi panas dan kabut asap yang masih terjadi.

Pesan tersebut disampaikan Mgr. Hilarion saat memimpin Perayaan Ekaristi di Paroki Santo Yosep Fakfak, Minggu (4/10/2026) pagi.

Dalam khotbahnya, Uskup Hilarion menyoroti kondisi cuaca panas serta berbagai bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Menurutnya, fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan iklim merupakan persoalan nyata yang harus disikapi bersama.

“Hari-hari ini hampir di seluruh Indonesia kita mengalami keadaan yang panas. Ada hujan, tetapi sudah begitu banyak bencana. Ada gempa bumi, ada gunung berapi yang menyemburkan abu-abunya. Semua ini menjadi tanda bahwa perubahan iklim nyata terjadi,” kata Uskup Hilarion.

Ia mengingatkan bahwa aktivitas manusia juga dapat memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan. Karena itu, masyarakat diminta tidak memperparah kerusakan alam melalui aktivitas pembakaran yang tidak terkendali.

“Karena itu, jangan kita ikut-ikut saja. Jangan sembarangan membakar. Jangan kita menambah kerusakan. Jangan membuang api sembarangan sehingga akhirnya kita membakar hutan-hutan, mulai dari kebun-kebun kecil sampai hutan-hutan yang luas,” ujarnya.

Uskup Hilarion kemudian menceritakan pengalamannya ketika melihat Kabupaten Fakfak dari atas pesawat. Ia menggambarkan kondisi wilayah Fakfak yang terlihat diselimuti asap.

IMG 20261005 WA0036

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi keprihatinan tersendiri karena Fakfak dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan alam, termasuk tanaman pala yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat setempat.

“Pisang-pisang dan pohon-pohon terbakar semua. Akhirnya, asap di Kota Fakfak yang indah ini sudah seperti neraka,” ungkapnya.

“Kita dari atas pesawat ketika melihat Fakfak, di mana pohon-pohon pala menjadi kebanggaan kita, semuanya dapat terdampak,” lanjut Uskup Hilarion.

Ia menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah maupun petugas di lapangan. Menurutnya, seluruh masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Selain persoalan kebakaran dan asap, Uskup Hilarion juga menyinggung keterbatasan air yang terjadi di tengah kondisi panas dan kekeringan.

Ia meminta masyarakat menjadikan situasi tersebut sebagai pembelajaran untuk menghemat air, bersabar, tertib, serta saling membantu.

“Akibat lain dari kekeringan ini adalah air menjadi sulit. Maka, keadaan ini juga mengajarkan kita untuk berhemat, mengajarkan kita untuk bersabar, dan mengajarkan kita untuk mengantre dalam pengambilan air dengan tertib,” katanya.

“Kita harus mengerti bahwa sekarang sudah lama air tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tidak cukup air bersih, tidak cukup air untuk berbagai kebutuhan. Maka, kita harus saling membantu,” lanjutnya.

Menurut Uskup Hilarion, kondisi panas dan ketidaknyamanan juga dapat memengaruhi emosi manusia. Situasi tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah tersinggung, marah, bahkan kehilangan keramahan terhadap orang lain.

“Selain itu, kondisi panas terik juga membuat orang mudah marah. Wajah tidak baik, tidak tersenyum. Bahkan, orang bisa mudah tersinggung dan marah kepada sesamanya,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak umat untuk tetap menjaga kesabaran, sikap saling menghormati, serta kepedulian terhadap sesama, terutama ketika masyarakat menghadapi kondisi lingkungan yang sulit.

“Karena itu, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, Saudara dan Saudari yang terkasih, sebagai orang-orang beriman, kita belajar bukan hanya dari Alkitab, tetapi juga dari suri teladan,” pesan Uskup Hilarion.

Ia berharap umat dan masyarakat Fakfak dapat mengambil bagian dalam menjaga lingkungan melalui tindakan nyata, seperti tidak membakar sembarangan, menjaga hutan dan kebun, menghemat penggunaan air, serta saling membantu menghadapi kondisi sulit.

Pesan tersebut menjadi seruan moral bagi masyarakat untuk menjaga alam sekaligus membangun solidaritas sosial di tengah kondisi panas, kekeringan, dan kabut asap yang terjadi di wilayah Fakfak. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Festival Budaya Mimika Hidupkan Kembali Warisan Amungme-Kamoro

5 Oktober 2026 - 13:10 WIB

IMG 20261005 WA0038

OTK Bersenjata Parang dan Pisau Serang Pasutri di Paniai, Polisi Buru Pelaku

5 Oktober 2026 - 13:00 WIB

IMG 20261005 WA0032

Sopir Kadis Dukcapil Dogiyai Dibacok OTK, Polisi Kejar Pelaku

5 Oktober 2026 - 12:53 WIB

IMG 20261005 WA0030

HUT ke-81 TNI, Dandim Mimika Tekankan Disiplin, Netralitas dan Kepedulian

5 Oktober 2026 - 12:14 WIB

IMG 20261005 WA0029

Bupati Deiyai Tegaskan Tenaga Kontrak yang Malas Akan Dicoret

5 Oktober 2026 - 12:08 WIB

IMG 20261005 WA0028
Trending di Headline