Oleh: Ferry Sutrisna Wijaya
Saat kita merayakan Natal 2025 dan bersiap memasuki Tahun Baru 2026, wajah Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Di balik gemerlap lampu hias dan lagu-lagu pujian, ada luka mendalam yang merentang dari ujung barat Sumatera hingga ujung timur Papua. Natal tahun ini seharusnya bukan sekadar seremoni megah, melainkan momentum untuk membuka hati, mengulurkan empati, dan merayakan kesederhanaan di tengah jeritan alam serta sesama yang berduka.
Luka Ekologi di Barat
Di sisi barat Indonesia, duka menyelimuti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat bencana besar pada akhir November 2025 yang menelan sedikitnya 1.135 korban jiwa dan menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi. Angka ini bukan sekadar statistik; di baliknya terdapat kisah manusia yang kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan.
Bencana ini bukanlah murni fenomena alam, melainkan human-made disaster atau bencana akibat ulah manusia. Curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu, namun kerusakan masif pada tutupan hutan akibat perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan penebangan liar di hulu sungai telah menghilangkan kemampuan bumi untuk mengendalikan air. Sebagaimana diingatkan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’, bumi adalah rumah bersama yang kini menjerit karena penyalahgunaan yang tidak bertanggung jawab.
Luka Kemanusiaan di Timur
Bergeser ke timur, Papua masih terus bergulat dengan konflik dan kekerasan yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade. Menjelang Natal, setidaknya 103.218 warga Papua masih hidup dalam pengungsian karena ketakutan akan konflik bersenjata. Mereka meninggalkan kampung halaman dan hidup dalam ketidakpastian hak-hak dasar.
Papua sering kali dilihat hanya sebagai sumber kekayaan alam—hutan, kayu, dan tambangnya diincar, namun manusia yang menghuninya seolah tidak diperhitungkan. Inilah paradoks yang menyakitkan: tanah yang dicintai, tetapi orangnya diabaikan. Konflik di Papua bukan sekadar masalah keamanan, melainkan krisis kemanusiaan mendalam yang mewariskan trauma sosial dari generasi ke generasi.
Membangun Harapan di Tengah Retakan
Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 yang baru saja usai memberikan secercah harapan dengan tema “Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian”. Gereja dipanggil untuk menjadi “rumah sakit lapangan” bagi dunia yang sedang terluka parah dan sakit.
Salah satu langkah konkret yang direkomendasikan adalah pembentukan Pusat Pastoral HAM dan Pusat Krisis untuk mendampingi serta memulihkan trauma para korban konflik, khususnya di Papua. KWI telah memulai langkah besar ini dengan membentuk Tim Ad Hoc untuk mengupayakan solusi menuju keadilan dan perdamaian.
Natal sebagai Peziarahan Pengharapan
Natal tahun ini adalah undangan untuk “ikut menderita” (compassion) bersama mereka yang terpinggirkan. Kita diajak untuk belajar dari kesalahan di masa lalu agar tidak jatuh ke lubang yang sama. Merayakan Natal di tengah luka bangsa berarti berani menyuarakan kebenaran bagi mereka yang tak bersuara (the voice of the voiceless).
Mari kita jadikan momentum ini untuk sungguh-sungguh belajar memahami krisis ekologis dan kemanusiaan yang kita hadapi. Hanya dengan keberanian untuk berdialog, bertobat secara ekologis, dan menempatkan kemanusiaan di atas segalanya, kita dapat menyembuhkan luka bangsa ini dan menjemput fajar keadilan serta perdamaian bagi seluruh rakyat Indonesia.






