TIMIKA – Warga jalan Busiri, Kelurahan Inauga, Distrik Wania, melakukan aksi turun jalan dan memalang ruas jalan sebagai bentuk aksi protes kepada Dinas Perumahan, Kawasan dan Pemukiman lantaran tidak dilibatkan dalam proyek pembangunan 9 Rumah Layak Huni (RLH), Sabtu(9/11/2024) sekitar pukul 15.30 WIT,
RLH yang dibangun sejak awal bulan Oktober lalu, masing-masing berada di RT 1 sebanyak satu rumah, RT 2 tiga rumah, RT 3 satu rumah, RT 4 dua rumah dan RT 9 dua rumah. Dimana untuk pagu anggaran pembangunan dua unit rumah menelan anggaran Rp.899.820.900,-
Tokoh perempuan Kamoro Rika Akamuri menyampaikan sebelum pembangunan RLH, dirinya sempat didatangi oleh Dinas tersebut sebanyak 3 kali dan ia titipkan agar anak-anak muda dilibatkan.
” Saya bilang tolong libatkan kita punya anak-anak, tolong kasih lapangan kerja biar sedikit mereka ikut awasi mungkin jaga kendaraan apapun mereka harus masuk didalam. Tapi tidak ada. Kita punya tempat tapi jadi penonton saja,”ujar Rika
Ia berharap dengan aksi yang dilakukan, Pemerintah dapat melibatkan warga lokal sehingga ada pemberdayaan masyarakat asli Papua.
“Mama ini sakit hati betul kalau saya lihat begitu, ini daerah kami. Bukan mereka tidak tahu kerja. Proyek begini mereka juga sudah terbiasa kerja. Tunggu-tunggu begini tidak ada satu dua orang yang mereka panggil untuk kerja termasuk di proyek jalan ini,”tambahnya.
Sementara itu Pernus Tarasen mengatakan, Pemerintah perlu melakukan supervisi dengan melibatkan warga setempat.
“Ini kompleks anak-anak asli Kamoro ada sekitar 150 anak muda. Kami sayangkan sekali bahwa tidak ada orang pemerintah yang datang supervisi dan kalau mereka supervisi harusnya mereka lihat bahwa tidak ada orang kamoro satupun yang kerja. Libatkan mereka angkat batu kah,ini tidak dorang duduk nonton saja,” tutur Pernus yang juga Sekretaris Papua Youth Creative Hub (PYCH).
Menurutnya sangat disayangkan Pemda gencar dengan pemberdayaan masyarakat namun fakta dilapangan tidak demikian.
“Bagaimana kita mau memberdayakan orang Papua, bagaimana kita mau kasih kerja kepada orang Papua kalau kemudian pekerjaan di tempat kita, tidak melibatkan warga lokal. Kemudian mereka tidak dapat kesempatan untuk kerja. Kami minta pemerintah yang katanya adalah perpanjangan tangan dari Tuhan di Timika ini harusnya bisa bukan cuman kasih proyek di belakang- belakang meja tapi mereka juga harus turun ke lapangan dan lihat apakah ada keterlibatan masyarakat di tempat kegiatan itu atau tidak jangan sampai proyek yang sama di Inauga itu juga akan terjadi di tempat-tempat lain,” pungkasnya.
Adapun 9 RLH yang dibangun, sudah selesai dikerjakan dan tinggal menunggu kunci rumah dan ditempati. (Zam)






