Menu ✖

Mode Gelap
Komite IV DPD RI Evaluasi Realisasi TKD dan Dana Otsus di Papua Papua di Ambang Pintu Neraka atau Surga: Refleksi Kemanusiaan atas Konflik dan Perdamaian Isu Reshuffle Kabinet, Natalius Pigai: Saya Tak Pernah Bermimpi Jadi Menteri TNI AD dan DPD RI Turun Tangan Atasi Masalah Infrastruktur Daerah Komite IV DPD RI Rampungkan Uji Kelayakan 23 Calon Anggota BPK RI DPD RI Dorong Diplomasi Parlemen Perkuat Kepentingan Daerah di ASEAN

News

Natal di Tengah Luka Bangsa: Refleksi dari Sumatera hingga Papua

adminbadge-check


					Natal di Tengah Luka Bangsa: Refleksi dari Sumatera hingga Papua Perbesar

Oleh: Ferry Sutrisna Wijaya

Saat kita merayakan Natal 2025 dan bersiap memasuki Tahun Baru 2026, wajah Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Di balik gemerlap lampu hias dan lagu-lagu pujian, ada luka mendalam yang merentang dari ujung barat Sumatera hingga ujung timur Papua. Natal tahun ini seharusnya bukan sekadar seremoni megah, melainkan momentum untuk membuka hati, mengulurkan empati, dan merayakan kesederhanaan di tengah jeritan alam serta sesama yang berduka.

​Luka Ekologi di Barat

Di sisi barat Indonesia, duka menyelimuti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat bencana besar pada akhir November 2025 yang menelan sedikitnya 1.135 korban jiwa dan menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi. Angka ini bukan sekadar statistik; di baliknya terdapat kisah manusia yang kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan.

​Bencana ini bukanlah murni fenomena alam, melainkan human-made disaster atau bencana akibat ulah manusia. Curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu, namun kerusakan masif pada tutupan hutan akibat perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan penebangan liar di hulu sungai telah menghilangkan kemampuan bumi untuk mengendalikan air. Sebagaimana diingatkan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’, bumi adalah rumah bersama yang kini menjerit karena penyalahgunaan yang tidak bertanggung jawab.

​Luka Kemanusiaan di Timur

Bergeser ke timur, Papua masih terus bergulat dengan konflik dan kekerasan yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade. Menjelang Natal, setidaknya 103.218 warga Papua masih hidup dalam pengungsian karena ketakutan akan konflik bersenjata. Mereka meninggalkan kampung halaman dan hidup dalam ketidakpastian hak-hak dasar.

​Papua sering kali dilihat hanya sebagai sumber kekayaan alam—hutan, kayu, dan tambangnya diincar, namun manusia yang menghuninya seolah tidak diperhitungkan. Inilah paradoks yang menyakitkan: tanah yang dicintai, tetapi orangnya diabaikan. Konflik di Papua bukan sekadar masalah keamanan, melainkan krisis kemanusiaan mendalam yang mewariskan trauma sosial dari generasi ke generasi.

​Membangun Harapan di Tengah Retakan

Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 yang baru saja usai memberikan secercah harapan dengan tema “Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian”. Gereja dipanggil untuk menjadi “rumah sakit lapangan” bagi dunia yang sedang terluka parah dan sakit.

​Salah satu langkah konkret yang direkomendasikan adalah pembentukan Pusat Pastoral HAM dan Pusat Krisis untuk mendampingi serta memulihkan trauma para korban konflik, khususnya di Papua. KWI telah memulai langkah besar ini dengan membentuk Tim Ad Hoc untuk mengupayakan solusi menuju keadilan dan perdamaian.

​Natal sebagai Peziarahan Pengharapan

Natal tahun ini adalah undangan untuk “ikut menderita” (compassion) bersama mereka yang terpinggirkan. Kita diajak untuk belajar dari kesalahan di masa lalu agar tidak jatuh ke lubang yang sama. Merayakan Natal di tengah luka bangsa berarti berani menyuarakan kebenaran bagi mereka yang tak bersuara (the voice of the voiceless).

​Mari kita jadikan momentum ini untuk sungguh-sungguh belajar memahami krisis ekologis dan kemanusiaan yang kita hadapi. Hanya dengan keberanian untuk berdialog, bertobat secara ekologis, dan menempatkan kemanusiaan di atas segalanya, kita dapat menyembuhkan luka bangsa ini dan menjemput fajar keadilan serta perdamaian bagi seluruh rakyat Indonesia.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Festival Budaya Mimika Hidupkan Kembali Warisan Amungme-Kamoro

5 Oktober 2026 - 13:10 WIB

IMG 20261005 WA0038

Uskup Hilarion Ajak Umat Katolik di Fakfak Jaga Lingkungan dan Hindari Pembakaran Sembarangan

5 Oktober 2026 - 13:05 WIB

IMG 20261005 WA0035

OTK Bersenjata Parang dan Pisau Serang Pasutri di Paniai, Polisi Buru Pelaku

5 Oktober 2026 - 13:00 WIB

IMG 20261005 WA0032

Sopir Kadis Dukcapil Dogiyai Dibacok OTK, Polisi Kejar Pelaku

5 Oktober 2026 - 12:53 WIB

IMG 20261005 WA0030

HUT ke-81 TNI, Dandim Mimika Tekankan Disiplin, Netralitas dan Kepedulian

5 Oktober 2026 - 12:14 WIB

IMG 20261005 WA0029
Trending di Headline