Menu

Mode Gelap
BULD DPD RI Uji Publik Regulasi Pendidikan Bali, Soroti Kewenangan Pusat dan Daerah Komite IV DPD RI Siapkan Uji Kelayakan dan Kepatutan 23 Calon Anggota BPK Periode 2026–2031 Anggota BULD DPD RI Wilhelmus Pigai Soroti Pemerataan Pendidikan di Papua Wilhelmus Pigai: APBN 2027 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat Daerah HUT ke-81 MPR-DPR, DPD Dorong Parlemen Perkuat Kolaborasi dan Aspirasi Rakyat IKB PMKJ Jabodetabek Tempa Generasi Muda Jayawijaya Jadi Calon Pemimpin Papua

Headline

Dihadapan DPD RI, Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua Tegaskan: “Blok Wabu Bukan Emas, Tapi Mama Kami”

Etty Welerbadge-check


					Dihadapan DPD RI, Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua Tegaskan: “Blok Wabu Bukan Emas, Tapi Mama Kami” Perbesar

JAKARTA – Perwakilan perwakilan Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua, Marsel Pigai menegaskan Blok Wabu bukan emas, tapi mama bagi orang Intan Jaya dan Papua pada umumnya.

“Blok Wabu bukan emas, tapi mama kami,” ujar perwakilan Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua, Marsel Pigai saat menyampaikan suara rakyat Intan Jaya di hadapan Wakil Ketua DPD RI dan anggota DPD RI di ruang Nusantara 3 lantai 8 kantor DPD RI di Jakarta, Jumat, (3/10/2025).

Marsel hadir dengan pakaian adat lengkap yakni topi, noken, koteka, dan hiasan tradisional lain yang melekat di tubuhnya. Bagi Marsel, atribut itu bukan sekadar simbol, tetapi bukti bahwa apa yang disebut Blok Wabu adalah bagian dari tubuh dan identitas orang Papua.

“ Tanah bagi kami bukan hanya tempat tinggal, tapi sumber kehidupan, sumber pengetahuan, tempat tradisi dan doa kami bertumbuh,” ujarnya.

Ia menegaskan, negara boleh melihat Blok Wabu sebagai kandungan emas bernilai ekonomi, tetapi masyarakat adat melihatnya sebagai tanah warisan leluhur yang telah memberi makan, minum, dan kehidupan sejak ribuan tahun lalu.

“ Di sana ada gereja, ada marga-marga yang sudah hidup sebelum Republik berdiri. Kalau Blok Wabu dihancurkan, yang hilang bukan hanya alam, tapi juga etnis, marga, dan budaya kami,” katanya.

Sejak isu tambang mencuat tahun 2019 masyarakat Intan Jaya tidak pernah berubah sikap. Lebih dari 50 kali aksi penolakan digelar, melibatkan tokoh adat, pemuda, perempuan, hingga tokoh agama. Bahkan Forkopimda Kabupaten Intan Jaya pernah ikut menyatakan dukungan atas penolakan tersebut. Hingga kini, kata Marsel, Blok Wabu juga belum memiliki Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), hanya sekadar rekomendasi penetapan wilayah tambang.

Aspirasi itu kini dibawa ke Senayan. Laporan yang mereka serahkan berisi dukungan dari lebih 1.200 petisi yang ditandatangani kepala suku dan marga di berbagai wilayah Papua terutama Intan Jaya.

“ Kami tidak akan berubah kapanpun dan dimanapun, karena ini tentang diri dan nyawa kami. Siapa pun yang menyetujui eksploitasi berarti menantang kehidupan kami,” tegas Marsel mengakhiri. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

John Gobai Ingatkan Kepala Suku Papua: Jangan Lagi Berikan Marga dan Gelar Adat Sembarangan

21 September 2026 - 10:18 WIB

IMG 20260921 WA0023

John Gobai: Perdasus OAP Nomor 14 Tahun 2026 Akan Dibahas untuk Direvisi

21 September 2026 - 10:07 WIB

IMG 20260921 WA0022

DPR Papua Tengah Imbau OAP Manfaatkan Layanan Kesehatan di 5 Klinik dan 8 RSUD Yang Didukung Dana OTSUS 

21 September 2026 - 09:48 WIB

IMG 20260921 WA0019

TNI Hadir Bersama Rakyat, Lanal Timika Gelar Bakti Sosial di Kampung Nawaripi

21 September 2026 - 09:38 WIB

IMG 20260921 183711

Personel Polres Mimika Raih Kompolnas Awards 2026, Dedikasi di Wilayah Konflik Berbuah Penghargaan

21 September 2026 - 09:29 WIB

IMG 20260921 182730
Trending di Headline