Menu

Mode Gelap
Meningkatnya Kriminalitas: Akar Masalah dan Solusi Holistik (Ditinjau dari Sosiologi Hukum) Banjir Bandang Sumatera: Alarm Bencana Ekologis dan Slow Violence di Seluruh Indonesia Gubernur Meki Nawipa Kucurkan Lebih dari Rp 90 Miliar, Wujudkan Pendidikan Gratis di Papua Tengah Waket DPR Papua Tengah John Gobai Desak Penyediaan Sekolah, Puskesmas, dan Transportasi Umum di Perbatasan Mimika-Deiyai Kunjungan Kanonik Perdana Uskup Timika di Agimuga Disambut Meriah oleh Seribuan Umat Katolik Suku Amungme 80 Siswa di Raja Ampat Diduga Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis

Headline

Dihadapan DPD RI, Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua Tegaskan: “Blok Wabu Bukan Emas, Tapi Mama Kami”

Etty Welerbadge-check


					Dihadapan DPD RI, Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua Tegaskan: “Blok Wabu Bukan Emas, Tapi Mama Kami” Perbesar

JAKARTA – Perwakilan perwakilan Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua, Marsel Pigai menegaskan Blok Wabu bukan emas, tapi mama bagi orang Intan Jaya dan Papua pada umumnya.

“Blok Wabu bukan emas, tapi mama kami,” ujar perwakilan Solidaritas Mahasiswa dan Rakyat Papua, Marsel Pigai saat menyampaikan suara rakyat Intan Jaya di hadapan Wakil Ketua DPD RI dan anggota DPD RI di ruang Nusantara 3 lantai 8 kantor DPD RI di Jakarta, Jumat, (3/10/2025).

Marsel hadir dengan pakaian adat lengkap yakni topi, noken, koteka, dan hiasan tradisional lain yang melekat di tubuhnya. Bagi Marsel, atribut itu bukan sekadar simbol, tetapi bukti bahwa apa yang disebut Blok Wabu adalah bagian dari tubuh dan identitas orang Papua.

“ Tanah bagi kami bukan hanya tempat tinggal, tapi sumber kehidupan, sumber pengetahuan, tempat tradisi dan doa kami bertumbuh,” ujarnya.

Ia menegaskan, negara boleh melihat Blok Wabu sebagai kandungan emas bernilai ekonomi, tetapi masyarakat adat melihatnya sebagai tanah warisan leluhur yang telah memberi makan, minum, dan kehidupan sejak ribuan tahun lalu.

“ Di sana ada gereja, ada marga-marga yang sudah hidup sebelum Republik berdiri. Kalau Blok Wabu dihancurkan, yang hilang bukan hanya alam, tapi juga etnis, marga, dan budaya kami,” katanya.

Sejak isu tambang mencuat tahun 2019 masyarakat Intan Jaya tidak pernah berubah sikap. Lebih dari 50 kali aksi penolakan digelar, melibatkan tokoh adat, pemuda, perempuan, hingga tokoh agama. Bahkan Forkopimda Kabupaten Intan Jaya pernah ikut menyatakan dukungan atas penolakan tersebut. Hingga kini, kata Marsel, Blok Wabu juga belum memiliki Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), hanya sekadar rekomendasi penetapan wilayah tambang.

Aspirasi itu kini dibawa ke Senayan. Laporan yang mereka serahkan berisi dukungan dari lebih 1.200 petisi yang ditandatangani kepala suku dan marga di berbagai wilayah Papua terutama Intan Jaya.

“ Kami tidak akan berubah kapanpun dan dimanapun, karena ini tentang diri dan nyawa kami. Siapa pun yang menyetujui eksploitasi berarti menantang kehidupan kami,” tegas Marsel mengakhiri. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Mimika Lantik Pengurus IK3M 2025–2030, Tekankan Pentingnya Merawat Nilai Ain Ni Ain

6 Desember 2025 - 14:21 WIB

Img 20251206 wa0014

Warga Paniai Minta Presiden Tarik Pasukan Non Organik, DPR Papua Tengah: Paniai Aman

6 Desember 2025 - 13:46 WIB

Img 20251206 wa0006

Meningkatnya Kriminalitas: Akar Masalah dan Solusi Holistik (Ditinjau dari Sosiologi Hukum)

6 Desember 2025 - 03:00 WIB

Whatsapp image 2025 12 06 at 11.54.25

Banjir Bandang Sumatera: Alarm Bencana Ekologis dan Slow Violence di Seluruh Indonesia

6 Desember 2025 - 01:52 WIB

Whatsapp image 2025 12 06 at 10.37.10

Efisiensi Anggaran 2026, YPMAK Pastikan Layanan Masyarakat Tetap Stabil

5 Desember 2025 - 22:00 WIB

Img 20251206 wa0005
Trending di Headline