Menu

Mode Gelap
Wilhelmus Pigai Serahkan Hadiah Quiz HUT ke-81 RI untuk Pelajar hingga Mahasiswa Pigai Tegaskan 10 Persen Saham Freeport Harus untuk Papua Tengah Gubernur Meki Nawipa Siapkan Coffee Morning Bersama Wartawan di Nabire Ketua Komite III DPD RI Minta Pemerintah Beri Perhatian Lebih kepada Dosen PTS di Wilayah 3T Sekjen DPD RI Dorong Budaya Evaluasi untuk Perkuat Kinerja Birokrasi HUT ke-4 Papua Tengah Jadi Titik Awal Program BANGKIT untuk Generasi Sehat Papua

News

Jelang 1 Desember, LP3BH Manokwari Desak Presiden Prabowo Kaji Ulang Pengerahan Pasukan di Papua

adminbadge-check


					Jelang 1 Desember, LP3BH Manokwari Desak Presiden Prabowo Kaji Ulang Pengerahan Pasukan di Papua Perbesar

MANOKWARI – Menjelang peringatan 1 Desember, Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari meminta Pemerintah Pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi strategi keamanan di Papua. Desakan ini muncul menyusul adanya laporan mengenai peningkatan kehadiran pasukan TNI/Polri di berbagai wilayah, sebuah pola yang diklaim LP3BH terjadi hampir setiap tahun.

​Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy, S.H., menyampaikan bahwa pengerahan pasukan jelang 1 Desember telah menjadi rutinitas tahunan. Ia menilai langkah ini berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan psikologis bagi masyarakat setempat.

​”Kami mendesak Presiden agar memberi arahan sejuk kepada jajaran TNI–Polri. Jangan jadikan tanggal 1 Desember sebagai momen jahat untuk menakut-nakuti rakyat Papua,” ujar Warinussy. Sabtu, (29/11/2025).

Warinussy juga menyoroti aspek alokasi sumber daya dalam kebijakan keamanan ini. Menurutnya, penambahan pasukan yang terjadi menjelang 1 Desember memerlukan anggaran yang signifikan.

​Ia berpandangan bahwa anggaran besar tersebut akan lebih bermanfaat jika dialihkan untuk mendukung kesejahteraan dan pembangunan ekonomi masyarakat Papua.

​LP3BH mempertanyakan apakah situasi keamanan menjelang 1 Desember memang memerlukan peningkatan kehadiran militer yang masif.

​”Apakah 1 Desember masyarakat Papua membangkang? Kan tidak,” kata Warinussy, menekankan bahwa penyelesaian masalah di Papua dapat diupayakan melalui pendekatan yang lebih damai dan “yang baik.”

​Ia juga mengingatkan bahwa narasi yang mengaitkan 1 Desember dengan ancaman keamanan berpotensi mendistorsi sejarah. LP3BH menegaskan bahwa peristiwa pengibaran Bendera Bintang Fajar pada 1 Desember 1961 dilakukan atas persetujuan Pemerintah Kerajaan Belanda, dan bukan merupakan deklarasi proklamasi kemerdekaan.

​Warinussy berharap pemerintah menghindari pembentukan framing yang dapat memicu perpecahan dan dapat kembali memprioritaskan rasa aman dan damai bagi warga negara di Papua.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Cegah Bentrokan Meluas, Polres Mimika Evakuasi 200 Pendulang dari Mile 21

26 Agustus 2026 - 06:20 WIB

IMG 20260826 WA0012

KNPI Papua Tengah Ukir Sejarah, Pelantikan Perdana Digelar di Paniai

26 Agustus 2026 - 05:00 WIB

IMG 20260826 WA0008

Ketua JPPN Papua Barat Daya Usul 3 Langkah Untuk Majukan Petani OAP

26 Agustus 2026 - 04:45 WIB

IMG 20260826 WA0004

Pemkab Deiyai Gelar Ibadah Oikumene, ASN Diajak Menjadi Pembawa Damai

26 Agustus 2026 - 04:38 WIB

IMG 20260826 WA0003

Dugaan Kiriman Miras ke Timika dan Asmat Terbongkar di Pelabuhan Pomako

26 Agustus 2026 - 04:33 WIB

IMG 20260825 WA0011
Trending di Headline