TIMIKA – Cakupan tetes polio pada Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang mulai 26 Mei, di Kabupaten Mimika menjadi tertinggi di Propinsi Papua dibandingkan propinsi lainnya seperti Kabupaten Paniai, Nabire, Puncak, Dogiayai, Intan jaya dan Deyai.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika Reynold Ubra saat ditemui wartawan di Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Senin( 3/6).
PIN Polio diberikan kepada bayi 0 sampai 7 tahun ini,berlangsung dibulan Mei hingga September. Dari target 55.000 untuk Kabupaten Mimika, menjadi yang tertinggi dan telah mencapai 26 persen.
“Capaian 26 persen itu dari 55.000 target anak usia 0-7 tahun,ini berdasarkan hasil evaluasi Dinkes per Sabtu kemarin,” ungkap Kadinkes.
Reynold juga menjelaskan, guna percepatan imunisasi telah dilakukan evaluasi dan identifikasi fasilitas kesehatan, sebab ada sebanyak 300 lebih Fasilitas Kesehatan (Faskes) yang bisa terlibat sehingga percepatan bisa dilakukan.
“Identifikasi faskes itu bisa mendekatkan akses orang tua atau balita sasaran dengan pos pin,” ungkapnya.
Selain memanfaatkan seluruh fasilitas kesehatan yang ada lanjutnya, waktu tunggu imunisasi polio juga akan dipercepat.
“Kami akan coba terus dievaluasi, karena kadang-kadang orang berfikir waktu tunggunya terlalu lama, selain tadi puskesmas juga akan berkunjung dari rumah ke rumah,” jelasnya.
Rey menegaskan, setelah putaran pertama pelaksanaan pekan imunisasi ini, mereka juga akan evaluasi diikuti sweeping bayi dan balita.
“Pemerintah distrik, kelurahan dan kampung tetap bekerjasama dengan tim imunisasi puskesmas, demi masa depan anak-anak kita. Intinya semua anak punya hak untuk diimunisasi dan punya hak dilindungi dari penyakit polio,” harapnya.
Rey juga menambahkan, Dinkes tidak bisa menangani persoalan polio sendiri sehingga akan bekerjasama dengan Organisasi Perangkat Daerah( OPD) lainnya untuk pembangunan toilet umum dan sarana air bersih,sebagai langkah pencegahan polio.Karena polio erat kaitannya dengan perilaku hidup sehat seperti mencuci tangan dan tidak Buang Air Besar Sembarangan (BABS).
Sementara itu Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Timika, dr.Leonard Pardede menyampaikan imunisasi Polio menjadi perhatian serius Kementerian Kesehatan sehingga sudah dilakukan imunisasi sesuai jadwal dari Dr.Leo mengatakan,terjadinya kasus polio,belum pasti penyebabnya namun kemungkinan imunisasi yang tidak lengkap.
“Kemungkinan dia tidak lengkap sehingga ketika virus polio ini ada didalam komunitas maka dia menginfeksi dan dapat menyebabkan lumpuh layu. Jadi kepada masyarakat, ikutilah imunisasi yang sementara berlangsung. Harapan kita anak anak kita bebas dari polio,”harapnya. (Zen)










