Menu

Mode Gelap
Sengketa PAW DPR Papua Tengah, Simon Gobai Resmi Tunjuk Yakehu sebagai Kuasa Hukum Natal di Tengah Luka Bangsa: Refleksi dari Sumatera hingga Papua Kepsek SD Inpres Nabarua Sampaikan Terima Kasih, 159 Siswa Terima PIP Usulan Senator Wilhelmus Pigai Sinergi Membangun SDM: Wilhelmus Pigai Dukung Penuh Program Pendidikan Gratis Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa: 2026 Adalah Tahun Lompatan Besar bagi Pendidikan Gratis di Papua Tengah Pesta Kembang Api Spektakuler di Pantai Nabire, Masyarakat: Terima Kasih Gubernur Meki Nawipa

Headline

Berakhir Sudah Tahun Jubelium Pengharapan 2025, Paus Leo XIV Menutup Pintu Suci Basilika St. Petrus

Etty Welerbadge-check


					Berakhir Sudah Tahun Jubelium Pengharapan 2025, Paus Leo XIV Menutup Pintu Suci Basilika St. Petrus Perbesar

VATIKAN — Dalam upacara yang khidmat dan singkat, Paus Leo XIV mengakhiri Tahun Jubelium Pengharapan 2025 dengan menutup Porta Santa (Pintu Suci), Basilika St. Petrus, Vatikan, Selasa (6/1), pukul 10.00 waktu Roma. Lalu dilanjutkan dengan Misa Epifani (Penampakan Tuhan), yang diikuti 5.800 umat, termasuk Korps Diplomatik yang terakreditasi di Takhta Suci, Vatikan.

Selama setahun lebih, suasana berziarah sangat terasa di Lapangan Santo Petrus (juga di tiga basilika lainnya: Basilika St Paulus di luar Tembok, Basilika Yohanes Lateran, dan Basilika Santa Maria Maggiore). Di empat basilika itu setiap hari, selama setahun lebih, dari pagi hingga lepas senja, terdengar doa dan nyanyian dalam berbagai bahasa di tempat itu, sesuai dari mana para peziarah berasal. Ada yang berbahasa Inggris, Perancis, Spanyol, Jepang, China, Korea, Filipina, Portugal, dan Indonesia, mungkin masih ada bahasa lainnya.

Menurut Uskup Agung Rino Fischella, pro-prefect of the Dicastery for Evangelization, dalam jumpa pers hari Senin (5/1), di Vatikan, hampir 33,5 juta peziarah datang ke Roma, sepanjang Tahun Jubelium. Mereka berasal dari 185 negara, termasuk Indonesia. Sebanyak 7.000 relawan ambil bagian sepanjang Tahun Jubelium dalam berbagai acara.

Meskipun, belakangan ini diberitakan bahwa kehidupan beragama di Eropa makin turun, tapi menurut data yang ada, dari hampir 33,5 juta peziarah itu, 62 persen dari Eropa, disusul Amerika Utara (17 persen), sisanya dari pelosok dunia lainnya. Peziarah dari Italia paling banyak, disusul AS, Spanyol, Brasilia, dan Polandia.

Sejak Tahun 1300 Tahun Jubelium Pengharapan (Tahun Suci) 2025, dimulai pada tanggal 24 Desember 2024, pukul 19.00 yang ditandai dengan pembukaan Porta Santa, Pintu Suci, Basilika St. Patrus oleh Paus Fransiskus. Kemudian dilanjutkan dengan Misa Malam Natal. Saat itu, Paus Fransiskus menjelaskan bulla atau dekrit Jubelium Pengharapan yakni Spes non Confundit, Pengharapan tidak Mengecewakan.

Kata Paus Fransiskus, setiap orang tahu apa artinya berharap. Di dalam hati setiap orang, harapan berdiam sebagai hasrat dan harapan akan hal-hal baik yang akan datang, meskipun kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Meskipun demikian, ketidakpastian tentang masa depan terkadang dapat menimbulkan perasaan yang saling bertentangan, mulai dari keyakinan yang kuat hingga kekhawatiran, dari ketenangan hingga kecemasan, dari keyakinan yang kuat hingga keraguan dan keragu-raguan.

Img 20260107 wa0019

Sering kali kita menjumpai orang-orang yang putus asa, pesimis, dan sinis tentang masa depan, seolah-olah tidak ada yang mungkin dapat membawa mereka kebahagiaan. Bagi kita semua, semoga Yubelium menjadi kesempatan untuk diperbarui dalam harapan.

Sejarah Tahun Yubelium kembali ke tahun 1300. Adalah Paus Paus Bonifacius VIII, (bertakhta, (1294–1303), yang pada tanggal 22 Februari 1300 memaklumkan Tahun Yubileum pertama, yang disebut Tahun Suci lewat bulla, dekrit Antiquorum habet fida ralatio, Orang dahulu mempunyai laporan yang dapat diandalkan.

Semula, Tahun Yubelium dilaksanakan setiap 100 tahun, tapi dalam perjalanannya karena berbagai pertimbangan, pada tahun 1475 oleh Paus Sixtus VI diubah menjadi 25 tahun sekali hingga saat ini.

Jerusalem Baru Upacara penutupan Porta Santa, hari Selasa kemarin merupakan kelanjutan dari praktik yang ditetapkan sejak tahun 1975—dan disederhanakan lebih lanjut oleh Paus Santo Yohanes Paulus II selama Yubelium Agung Tahun 2000.

Upacara penutupan Porta Santa_ secara singkat. Saat antifon, nyanyian pendek “O clavis David” (O Kunci Daud) dilantunkan, Paus Leo XIV berjalan mendekati Porta Santa, Pintu Suci. Paus melangkah ke ambang pintu, berlutut, dan, setelah beberapa saat berdoa dalam diam, lalu menutup kedua daun pintu perunggu yang besar itu, mulai dari daun pintu kanan.

Img 20260107 wa0004

Ini menandakan masa Yubelium Pengharapan telah berakhir. Saat menutup Porta Santa, Paus Leo XIV, seperti para pendahulunya mendaraskan doa, “Pintu Suci ini tertutup, tetapi pintu rahmat-Mu tidak tertutup.” Lalu,

Paus memohon agar “harta karun” rahmat ilahi tetap terbuka, “sehingga, pada akhir ziarah duniawi kita, kita dapat mengetuk dengan penuh keyakinan di pintu rumah-Mu dan menikmati buah dari pohon kehidupan.”

Penutupan Porta Santa Basilika St. Petrus, Vatikan, kata Paus Leo XIV, menandai berakhirnya berbulan-bulan di mana “arus tak terhitung banyaknya pria dan wanita, peziarah harapan,” melintasi ambang pintu Basilika, melakukan perjalanan menuju “Yerusalem baru, kota yang pintunya selalu terbuka.”

Dengan demikian Tahun Jubelium Pengharapan yang bermotto Peregrinantes in Spem atau Pilgrims of Hope atau “Penziarah Pengharapan”, berakhir. Tema atau motto itu ditetapkan Paus Fransiskus setelah melihat perannya sendiri, dan peran Gereja di dunia yang penuh dengan krisis dan konflik. Krisis dan konflik saat ini telah mengoyak dunia.

Img 20260107 wa0003

Generasi Fajar Baru
Segera setelah penutupan Pintu Suci, Paus memimpin Misa Kudus untuk Hari Raya Epifani Tuhan di dalam Basilika Santo Petrus. Dalam khotbahnya, Paus Leo XIV, antara lain mengatakan, tempat-tempat suci harus mengkomunikasikan kehidupan. Tempat-tempat ziarah Yubileum, “harus menyebarkan aroma kehidupan, kesadaran yang tak terlupakan bahwa dunia lain telah dimulai.”

Kata Paus Leo XIV, sungguh luar biasa menjadi peziarah pengharapan. “Sungguh luar biasa bagi kita untuk terus menjadi peziarah bersama,” katanya.

Paus Leo XIV mengatakan, jika Gereja menolak menjadi monumen dan tetap menjadi rumah, Gereja mungkin akan menjadi “generasi fajar baru,” yang selalu dipandu oleh Maria, Bintang Pagi, menuju “kemanusiaan yang luar biasa, yang diubah bukan oleh khayalan Yang Mahakuasa, tetapi oleh Allah yang menjadi manusia karena kasih.” (KBRI TAKHTA SUCI, VATIKAN)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Speed Boat Alami Laka Laut, Seluruh Penumpang Berhasil Dievakuasi

13 Januari 2026 - 14:00 WIB

Img 20260113 wa0134

Pelajar SMA Negeri 1 Nabire Apresiasi Festival Media Se-Tanah Papua, Dinilai Jadi Pondasi Jurnalistik

13 Januari 2026 - 13:56 WIB

Img 20260113 wa0125

Festival Media Se-Tanah Papua Perdana 2026 di Nabire, Dihadiri Ratusan Wartawan dan Tokoh Pers 

13 Januari 2026 - 13:44 WIB

Img 20260113 wa0117

Ribuan Umat Kingmi Ikut Ibadah Peringati Hari Pekabaran Injil Masuk ke Pedalaman

13 Januari 2026 - 13:31 WIB

Img 20260113 wa0115

Berkas Perkara Tiga Tersangka Narkoba Dilimpahkan ke Kejaksaan

13 Januari 2026 - 13:27 WIB

Img 20260113 wa0111
Trending di Headline