TIMIKA — Perayaan Hari Raya Natal di Kabupaten Mimika, khususnya di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, mulai dari Malam Natal, Rabu (24/12/202/), Natal pagi, Kamis (25/12/2025) dan Natal Anak-Anak atau Natal kedua, Jumat ( 26/22/2025) berlangsung aman, lancar, dan penuh khidmat. Umat Kristiani tampak mengikuti rangkaian ibadah Natal dengan tertib dan penuh sukacita, meskipun pada malam Natal, Timika diguyur hujan.
Ibadah Natal dihadiri oleh ribuan umat dari berbagai wilayah di Kota Timika. Sejak pagi hingga malam hari, suasana di sekitar Gereja Katedral Tiga Raja terpantau kondusif, dengan pengamanan yang dilakukan oleh aparat TNI-Polri, Pol PP, serta ormas dan pihak terkait.
Pastor, Rinto Dumatubun,Pr menyampaikan pesan tentang makna kelahiran Yesus Kristus sebagai simbol kasih, damai, dan persaudaraan. Umat diajak untuk terus menjaga toleransi, persatuan, serta hidup berdampingan secara harmonis di tengah keberagaman masyarakat Mimika.
Dengan berjalannya perayaan Natal secara aman dan lancar di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, diharapkan situasi kondusif ini dapat terus terjaga hingga perayaan akhir tahun dan seterusnya.
Pada perayaan malam Natal diawali dengan Maklumat Kelahiran Yesus dan dilanjutkan dengan prosesi peletakan bayi Yesus di palungan oleh Pastor Rinto Dumatubun, Pr. Prosesi tersebut menjadi lambang kesederhanaan kelahiran Sang Juru Selamat.
Dalam homilinya, Pastor Rinto Dumatubun, Pr menyampaikan bahwa kelahiran Yesus merupakan peristiwa iman yang senantiasa dinantikan dan dirayakan oleh umat Kristiani setiap tahunnya.
“Karena Ia adalah Juru Selamat, Sang Raja Damai telah lahir di antara kita, seorang Putra yang telah diberikan kepada kita. Kelahiran-Nya menjadi pernyataan kasih karunia Allah bagi semua orang dan perwujudan betapa Allah mencintai kota manusia,” ujar Pastor Rinto.
Ia menjelaskan bahwa Nabi Yesaya dalam bacaan pertama melukiskan peristiwa kelahiran Yesus sebagai peristiwa yang penuh sukacita, seperti sukacita pada saat panen dan sorak-sorai ketika membagikan jarahan.
Di tengah keluarga Yusuf dan Maria, kelahiran Yesus tentu diselimuti rasa sukacita dan kegembiraan. Sebagai ayah dan ibu, Yusuf dan Maria diyakini memeluk Putra mereka dengan penuh cinta.
“Kalau tidak menjalankan kewajiban sebagai warga negara sesuai perintah Kaisar Agustus untuk mengadakan sensus penduduk, kemungkinan Yesus tidak dilahirkan di Betlehem. Bisa saja Ia lahir di rumah keluarga yang layak dan pantas, atau di penginapan yang bersih,” jelasnya.
Namun demikian, Pastor Rinto menegaskan bahwa kelahiran Yesus di kandang domba merupakan bagian dari rencana keselamatan Allah yang penuh misteri. Maria membungkus bayi Yesus dengan kain lampin dan membaringkannya di dalam palungan.
“Yusuf dan Maria sangat bahagia dengan kelahiran Yesus. Namun kelahiran-Nya bukan hanya menjadi milik mereka, melainkan juga milik surga dan bumi secara keseluruhan. Kita yang hadir dalam perayaan ini pun turut ambil bagian dalam sukacita tersebut,” katanya.
Oleh karena itu, Pastor Rinto mengajak umat untuk bersukacita karena Allah begitu baik dan mengasihi umat manusia.
“Melalui kelahiran Yesus, kita dianugerahi kasih Allah yang menyelamatkan kita dari dosa dan kegelapan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Allah mengutus Putra-Nya agar manusia memperoleh keselamatan dan didamaikan kembali dengan Allah. Karena itu, umat diajak untuk hidup sebagai anak-anak Allah dengan mengejar jalan kekudusan dan menjauhi perbuatan dosa.
“Dalam cinta dan belas kasih Allah, tidak pantaslah kita takut untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Setiap orang percaya dituntut untuk mengejar jalan kekudusan dan menjauhi perbuatan dosa,” tegasnya.
Menurut Pastor Rinto, jalan kekudusan itu dapat dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua diharapkan menjadi contoh nyata bagi anak-anak agar mereka sungguh menyadari kehadiran Allah yang menyelamatkan keluarga.
Dalam kesempatan tersebut, Pastor Rinto juga membagikan kisah seorang ayah yang mengaku mencintai istri dan anak-anaknya, namun menyadari bahwa dirinya bukanlah orang suci. Meski demikian, ayah tersebut bertekad untuk terus berusaha menciptakan jalan kekudusan dalam keluarganya.
“Itu hal yang luar biasa, karena ia menyadari kelemahannya sebagai kepala keluarga dan mau mengakuinya,” tutup Pastor Rinto.






