NABIRE – Di tengah sukacita perayaan Natal 2025, kepedulian terhadap masyarakat terpencil kembali ditunjukkan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Waropen Komisi A, Linus Dugupa, SH. Ia menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat di empat kampung terpencil, yakni Kampung Matadi, Daboto, dan Bamiya, pada 21–23 Desember 2025.
Penyaluran bantuan dilakukan dengan cara yang tidak biasa. Linus Dugupa menggunakan charter helikopter pulang-pergi, bahkan harus mendarat di tengah hutan dan di atas hamparan pasir karena kondisi geografis yang sulit dijangkau jalur darat.

Menariknya, sejumlah kampung penerima bantuan berada di wilayah administrasi kabupaten lain, yakni Kabupaten Intan Jaya. Namun hal tersebut tidak menghalangi langkahnya untuk hadir bagi masyarakat.
“Saya hadir untuk masyarakat saya. Walaupun beberapa kampung berada di wilayah lain, sebagai anggota dewan saya harus hadir untuk semua rakyat,” ujar Linus Dugupa saat ditemui di salah satu kedai kopi di Nabire, Selasa (23/12/2025).
Linus menegaskan, kehadirannya bukan didasarkan pada kepentingan politik atau balas jasa. Ia mengaku tetap peduli kepada masyarakat meskipun saat pemilihan legislatif lalu tidak semua warga memberikan suara kepadanya.

“Dulu waktu saya mencalonkan diri, ada masyarakat yang tidak memberikan suara. Tapi setelah terpilih, saya justru hadir untuk mereka. Wakil rakyat tidak boleh menjauhi masyarakat,” tambahnya.
Sebagai anak muda Papua, Linus menyatakan dirinya memilih terjun langsung melihat kondisi riil rakyat dibanding menikmati kenyamanan hidup di kota.
“Hidup mewah di kota, tidur di hotel, jalan pakai mobil kaca gelap tanpa melihat penderitaan masyarakat itu bukan pilihan saya. Wakil rakyat harus tahu apa yang dibutuhkan rakyatnya. Kalau hidup hanya kumpul uang, itu tidak ada artinya bagi saya,” tegasnya.
Sebanyak tiga helikopter digunakan untuk mengangkut bantuan sembako sebagai bentuk nyata pengabdian. Aksi tersebut mendapat sambutan haru dari warga. Bahkan, beberapa warga dilaporkan menangis karena selama ini jarang merasakan kehadiran langsung wakil rakyat di kampung mereka.
“Ada warga yang menangis karena DPR sebelumnya tidak pernah menginjak kampung-kampung ini. Apalagi di momen Natal, tidak semua masyarakat mampu membeli sembako di kota,” ungkapnya.
Untuk diketahui, akses masyarakat kampung menuju pusat kota seperti Paniai sangat terbatas. Selain transportasi udara, warga harus menempuh perjalanan kaki hingga tujuh hari melewati hutan. Jarak menuju Nabire atau Dogiyai bahkan lebih jauh lagi. Kondisi tersebut membuat masyarakat selama ini hanya bergantung pada bahan pangan alami dari alam sekitar.
Kehadiran dan bantuan sembako dari DPRD dinilai sangat membantu masyarakat, khususnya dalam menyambut perayaan Natal, sekaligus menjadi contoh nyata bahwa pelayanan publik dan kepedulian sosial tidak boleh dibatasi oleh wilayah administratif maupun kepentingan politik.(MB)






