NABIRE — Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana menggelar Pelatihan Keluarga Sehat untuk Puskesmas serta Peran Serta Tokoh Agama dalam Pelayanan Kesehatan se-Papua Tengah.
Kegiatan ini berlangsung di Nabire Rabu, (10/12/2025) dan dihadiri perwakilan lintas agama dari berbagai kabupaten.

Marten Ukago, Staf Ahli III Gubernur Papua Tengah Bidang Pemerintahan, Politik dan Hukum, hadir mewakili gubernur untuk membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Kesehatan adalah harta yang sangat berharga. Ia bukan hanya bebas dari penyakit, tetapi juga menyangkut kesehatan fisik, mental, dan sosial,” ujar Marten.

Ia mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus berupaya menghadirkan layanan kesehatan yang merata, berkualitas, dan mudah diakses. Namun upaya itu tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja—peran tokoh agama dinilai sangat penting karena memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku umat.

Marten menegaskan bahwa hampir semua ajaran agama mengajarkan kebersihan, menjaga kesehatan, dan menjauhi hal-hal yang merusak tubuh sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itu, pesan kesehatan yang disampaikan melalui mimbar gereja, kotbah, majelis taklim, dan forum keagamaan memiliki daya jangkau yang lebih kuat dibandingkan penyuluhan formal.
Dalam sambutannya, ia juga menekankan bahwa keluarga merupakan unit terkecil bangsa yang menentukan kualitas generasi mendatang.
Ia mengajak tokoh agama untuk mengambil peran dalam tiga program prioritas:
1. Pencegahan stunting, termasuk edukasi gizi seimbang, sanitasi layak, serta pemahaman pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan.
2. Kesehatan mental dan spiritual, di mana tokoh agama dapat menjadi tempat konsultasi dan penguatan moral bagi umat.
3. Vaksinasi dan imunisasi, termasuk meluruskan disinformasi dan memberikan pemahaman yang benar mengenai pencegahan penyakit.

Pada bagian lain sambutannya, Marten menyoroti adanya penyakit sosial dan penyakit keturunan di beberapa wilayah pegunungan Papua seperti Dogiyai, Intan Jaya, dan Puncak yang menyebabkan beberapa marga terancam punah.
Ia mengajak para tokoh agama dan tenaga kesehatan bekerja bersama untuk menangani persoalan tersebut secara serius.
“Kita harus membawa mereka kepada Tuhan sekaligus berkolaborasi dengan tenaga kesehatan, agar marga-marga ini tetap berjaya dan dapat melanjutkan keturunan,” ujarnya.
Marten juga mengingatkan agar perbedaan pandangan antar-denominasi tidak menjadi penghalang dalam pelayanan sosial dan kesehatan. Ia mengajak semua pihak bersatu untuk membangun Papua Tengah.

Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Marten secara resmi membuka pelatihan peran serta tokoh agama dalam layanan kesehatan masyarakat dan keluarga sehat. (MB)






