NABIRE – Pemerintah Provinsi Papua Tengah menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan penghapusan stigma dalam penanggulangan HIV/AIDS. Hal tersebut disampaikan Staf Ahli UKKAS, S.Sos., M.KP., mewakili Pemprov Papua Tengah, saat memberikan sambutan pada peringatan Hari AIDS Sedunia yang berlangsung di Aula RRI Nabire.
Dalam sambutannya, UKKAS menyampaikan bahwa peringatan Hari AIDS Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mencegah dan menanggulangi HIV/AIDS, khususnya di Papua Tengah yang masih menghadapi tantangan besar.
“Hari AIDS Sedunia adalah momentum untuk memperkuat kepemimpinan bersama dalam mencegah penyebaran dan penanggulangan HIV, khususnya di Provinsi Papua Tengah,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang ada, jumlah kasus HIV di delapan kabupaten di Papua Tengah telah menembus angka 23.000 kasus, dengan Kabupaten Nabire menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, mencapai lebih dari 10.000 kasus. Menurutnya, angka tersebut bukanlah angka kecil dan harus menjadi perhatian serius semua pihak.
“Di perkotaan, kasus relatif mudah terdeteksi karena akses layanan kesehatan lebih baik. Namun tantangannya adalah bagaimana menjangkau saudara-saudara kita di kampung-kampung dan daerah terpencil,” jelasnya.
UKKAS menekankan bahwa penanggulangan HIV/AIDS tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja. Sinergi antara Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), Dinas Kesehatan, pemerintah kabupaten, tokoh agama, sekolah, serta organisasi masyarakat menjadi kunci utama.
“HIV/AIDS bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga soal faktor sosial, stigma, rasa malu, dan kebijakan. Ini yang sering membuat masyarakat enggan memeriksakan diri,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah serta pendekatan kemanusiaan yang mengedepankan kasih, tanpa stigma dan diskriminasi. Menurutnya, jika tidak ditangani secara serius, tingginya angka HIV/AIDS dapat menjadi ancaman bagi terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.
“HIV bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi persoalan kemanusiaan. Kita harus menanganinya dengan pendekatan kasih, tanpa stigma, dan tanpa diskriminasi,” tegasnya.
Di akhir sambutan, UKKAS mengapresiasi kerja Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Papua Tengah, para tenaga kesehatan, organisasi masyarakat sipil, kelompok dukungan sebaya, tokoh agama, dan seluruh pihak yang terus berkontribusi dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Papua Tengah melalui kerja sama lintas sektor yang berkelanjutan. (MB)






