TIMIKA — Pengurus Ikatan Kerukunan Keluarga Kei Mimika (IK3M) periode 2025–2030 resmi dilantik oleh Bupati Mimika, Johannes Rettob, dalam sebuah acara yang turut disaksikan Raja Yaab Faan, Patrisius Renwarin, dan Raja Ratschap Maur Ohoiwut, Leopoldo Rahail. Pelantikan berlangsung di Gedung Eme Neme Yauware, Mimika, Papua Tengah, pada Sabtu (6/12/2025).
Dalam sambutannya, Bupati Mimika Johannes Rettob berharap kepengurusan yang baru dapat bekerja secara solid serta melibatkan seluruh anggota IK3M dalam berbagai kegiatan organisasi. Ia menekankan pentingnya menjalin hubungan baik dengan suku Kamoro, Amungme, dan suku-suku lain di Mimika demi menjaga keharmonisan dan solidaritas.
“Kita besarkan organisasi ini dengan baik, dengan menunjukkan keharmonisan, integritas, kualitas, serta menjaga persaudaraan dengan seluruh suku di Mimika,” ujar Bupati.
Program Awal IK3M: Konsolidasi, Pelestarian Adat, dan Penguatan SDM
Ketua IK3M terpilih, Anton Welerubun, menyampaikan bahwa agenda pertama setelah pelantikan adalah Rapat Kerja (Raker) yang akan digelar pada Januari 2026. Raker tersebut akan membahas tiga program utama, yakni:
1. Konsolidasi untuk memperkuat persatuan dan kesatuan keluarga besar Kei di Kabupaten Mimika.
2. Pelestarian adat dan tradisi Kei agar tetap dijaga oleh generasi penerus.
3. Peningkatan kualitas sumber daya manusia keluarga Kei agar mampu berkompetisi dengan masyarakat lainnya di Mimika.
“Kita semua punya tugas masing-masing. Mari saling membantu, saling mengingatkan, dan membangun komunikasi yang baik untuk memajukan IK3M di Mimika,” tegas Anton.
Ia juga meminta warga Kei tetap mengikuti arahan para ketua ohoi (kampung) dan meninggalkan hal-hal yang tidak membawa kebaikan.
Pesan Adat dari Raja Maur Ohoiwut: ‘Hentikan Permusuhan, Satukan Hati’
Raja Maur Ohoiwut, Leopoldo Rahail, menegaskan bahwa kedatangan para raja ke Mimika membawa simbol adat dan tanggung jawab moral. Ia mengingatkan warga Kei untuk menghindari pertikaian serta menjaga nama baik leluhur.
“Kami datang membawa hukum adat untuk memberikan kepercayaan kepada ketua dan pengurus. Hentikan permusuhan dengan siapa pun. Tunjukkan bahwa kita datang dengan adat yang ditanamkan sejak kecil,” ujarnya.
Raja Rahail menambahkan, apa pun kesalahan yang pernah terjadi, baik sengaja maupun tidak, akan menjadi tanggung jawab mereka sebagai pemimpin adat untuk disampaikan kepada leluhur, agar perjalanan hidup warga Kei di tanah rantau menjadi lebih ringan.
Raja Yaab Faan: ‘Bersatu adalah Falsafah Hidup Orang Kei’
Raja Yaab Faan, Patrisius Renwarin, mengingatkan kembali falsafah orang Kei yang diwariskan turun-temurun, yaitu “Fuut enmehe ngifun, manut enmehe tilur, u wal wel ni ai rang rang” yang bermakna persatuan, kebersamaan, dan kemajuan bersama.
Menurutnya, kepengurusan IK3M periode 2025–2030 di bawah pimpinan Anton Welerubun menjadi lembaran baru bagi masyarakat Kei di Mimika.
“Hari ini kita melihat suasana kekeluargaan yang luar biasa, baik dalam hubungan dengan pemerintah maupun antar sesama orang Kei. Kekerasan harus ditinggalkan. Bahkan lambang Larvul Ngabal yang kini mengarah ke bawah melambangkan bahwa perang dan kekerasan bukan lagi jalan hidup kita,” tegasnya.
Ketiga tokoh adat Kei dan Bupati Mimika sepakat bahwa IK3M harus menjadi wadah persatuan, keharmonisan, dan pelestarian nilai-nilai leluhur. Pelantikan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas masyarakat Kei serta membangun hubungan yang semakin baik dengan seluruh elemen masyarakat di Mimika. (Etty)






