NABIRE — Hari kedua Temu Akbar Forum Pegiat Literasi Papua Tengah yang digelar sejak Kamis (27/11/2025) berlangsung dengan seminar dan diskusi bertajuk “Mencari Arah Literasi” di Aula DPU Kabupaten Nabire, Jalan Merdeka. Rektor Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire, Petrus Tekege, hadir sebagai salah satu narasumber utama.
Selain Rektor USWIM, turut hadir pegiat literasi Mis Murib, Ketua Yayasan SAPA Christywella Violeta Saroy, dan moderator Yones Magai. Kegiatan ini juga diisi pelatihan menulis cerita anak oleh Duta Bahasa Papua Favorit 2025, Agustina Doo, S.Pd., serta sesi perumusan masalah oleh Alex Giyai.
Usai menjadi pembicara dalam seminar, Rektor USWIM Nabire, Petrus Tekege, menegaskan pentingnya kegiatan literasi sebagai gerakan berkelanjutan di Papua Tengah.
“Kegiatan literasi seperti begini sangat baik dan perlu untuk sering dilakukan. Ini perlu dilakukan di kampus-kampus, di sekolah-sekolah, dan di dinas pendidikan kabupaten maupun provinsi,” ujar Petrus Tekege.
Menurutnya, pemerintah perlu menyediakan ruang khusus untuk kegiatan literasi agar diskusi dan pendidikan literasi dapat terus berjalan.
Tekege menilai persoalan rendahnya minat baca dan kemampuan literasi di Papua Tengah merupakan proses panjang yang membutuhkan intervensi dari berbagai pihak.
“Kita mau tingkatkan kesadaran orang untuk berliterasi, baca dan menulis. Tapi itu proses panjang dan butuh biaya, dari keluarga, PAUD, SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi,” jelasnya.
Ia menekankan perlunya regulasi dan kebijakan yang jelas agar pembangunan literasi berjalan terarah.
“Ini perlu ada regulasi atau peraturan yang diatur dengan baik, supaya masyarakat kita tidak terus tertinggal. Banyak warga Papua yang belum bisa membaca dan menulis,” katanya.
Tekege juga menyinggung kondisi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak konflik sehingga tidak mendapatkan akses pendidikan layak.
“Ada masyarakat yang tidak tahu sekolah di mana, makan di mana, tinggal di mana. Ini harus menjadi perhatian pemerintah,” tutupnya.
Temu Akbar Pegiat Literasi Papua Tengah akan berlangsung selama tiga hari, dan diisi rangkaian seminar, pelatihan, serta perumusan program literasi untuk mendorong peningkatan kemampuan membaca dan menulis di Papua Tengah.(MB)






