JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengungkapkan alasan di balik perlambatan signifikan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Papua Tengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Papua Tengah mengalami kontraksi sebesar minus 4,74% (year-on-year) pada kuartal III-2025.
Mendagri Tito menyampaikan laporan ini usai rapat terbatas di Istana Negara pada Senin (24/11/2025) lalu. Ia menyebutkan bahwa daerah yang mengalami kontraksi adalah Papua Tengah, khususnya yang mencakup kawasan operasi PT Freeport Indonesia.
Tito Karnavian memaparkan secara spesifik penyebab anjloknya ekonomi tersebut sebagai berikut:
“Di mana yang tertinggi misalnya Maluku Utara, ada yang minus yaitu Papua Tengah. Saya sampaikan, tanya beliau kenapa penyebabnya, diantaranya karena adanya ekspor dari Freeport yang tertahan, adanya smelter yang pernah terbakar, kemudian ada longsor yang membuat produksinya mereka menjadi tertahan.”
Tito menambahkan bahwa dampak dari gangguan ini sangat terasa di tingkat regional:
“Itu mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Papua Tengah, Timika mengalami kontraksi minus 8%. Tapi ada daerah lain yang tinggi, jadi saya sampaikan ada pem-balance-nya,” kata Tito, usai rapat.
Sebagai informasi tambahan, gangguan yang dimaksud, terutama insiden longsor di kawasan Grasberg Block Cave (GBC), diketahui menyebabkan produksi dan penjualan tembaga serta emas Freeport mengalami penurunan signifikan, bahkan membuat kapasitas produksi Freeport menurun hingga sekitar 70%.






