JAKARTA – Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, mengungkapkan dampak insiden longsoran tambang bawah tanah yang terjadi beberapa waktu lalu terhadap kinerja perusahaan pada tahun 2025. Meskipun volume produksi mengalami penurunan drastis, PTFI memproyeksikan pendapatan perusahaan dan kontribusi kepada negara justru akan melampaui target awal Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Tony menjelaskan bahwa insiden longsoran ini menyebabkan revisi besar pada target produksi.
Tembaga: Proyeksi penjualan tembaga turun dari target RKAB 770 ribu ton menjadi sekitar 537 ribu ton (mencapai 70% dari target).
Emas: Penjualan emas diproyeksikan anjlok hampir separuhnya, dari 67 ton menjadi hanya 33 ton hingga akhir tahun 2025.
Meskipun produksi anjlok, PTFI memperkirakan pendapatan penjualan total tahun ini masih bisa mencapai US$ 8,5 miliar, hanya turun 18% dari target awal US$ 10,4 miliar. Hal ini terjadi berkat lonjakan harga komoditas global.
Tony Wenas mencontohkan, harga emas yang diproyeksikan dalam RKAB 2025 adalah US$ 1.900 per ounce, namun harga saat ini mencapai sekitar US$ 3.400 per ounce.
”Pendapatan dari emas diproyeksi naik hingga sekitar 80%, padahal produksinya berkurang hampir separuhnya,” kata Tony.
Demikian pula untuk tembaga, pendapatan diproyeksikan naik 19% lebih tinggi dari rencana, meskipun volume produksinya hanya 70% dari target.
Kenaikan harga komoditas juga berimbas positif pada penerimaan negara. PTFI memperkirakan kontribusi pendapatan negara dari Freeport akan mencapai US$ 4,1 miliar (sekitar Rp 70 triliun), melampaui target RKAB 2025 sebesar US$ 3,7 miliar.
Faktor pendorong tingginya penerimaan negara ini tidak hanya dari harga komoditas yang tinggi, tetapi juga dari pembayaran cicilan pajak penghasilan badan atas kinerja perusahaan tahun 2024.






