JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie menegaskan bahwa Indonesia perlu segera meninggalkan paradigma teaching university dan beralih menuju research university jika ingin mengejar ketertinggalan dan menjadi negara maju. Hal itu disampaikan Stella saat memaparkan arah pengembangan pendidikan tinggi berbasis riset nasional.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak bisa lagi hanya berfokus pada kegiatan mengajar, tetapi harus menjadi pusat riset dan inovasi yang menghasilkan temuan ilmiah yang dapat langsung berdampak pada ekonomi dan pembangunan nasional.
“Semua negara maju memiliki pola yang sama: mereka meninggalkan teaching university dan membangun research university sebagai pusat inovasi. Jika Indonesia ingin melompat lebih jauh, riset harus menjadi prioritas utama,” tegas Stella.
Belajar dari Negara-Negara Maju: Jerman, AS, dan China
Stella memaparkan contoh bagaimana negara-negara maju berhasil melakukan lompatan ekonomi berkat ekosistem riset yang kuat:
-
Jerman mulai membangun universitas riset sejak awal 1800-an dan memetik hasilnya selama masa Perang Prusia pada 1870-an.
-
Amerika Serikat mengembangkan kekuatan riset sejak 1940-an dan mendominasi inovasi global pada akhir Perang Dingin tahun 1980-an.
-
China memulai transformasi risetnya pada 1980-an dan kini menjadi pusat teknologi dunia, bahkan klaster teknologi dan inovasi sudah menyumbang sekitar 13,4 persen Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut.
“Polanya jelas. Negara dengan riset kuat akan memimpin inovasi, dan inovasi akan memimpin perekonomian,” kata Stella.
Riset Dorong Pertumbuhan Ekonomi Hingga 0,9 Persen
Stella mengutip studi Fryman dan Balina (2016) yang menunjukkan bahwa investasi riset memiliki dampak langsung terhadap kenaikan PDB. Dalam jangka pendek, riset mampu meningkatkan ekonomi sebesar 0,2 persen, sedangkan dalam jangka panjang dapat mencapai 0,9 persen.
Karena itu, Stella menilai Indonesia perlu mempercepat penguatan riset agar mampu mencapai target ambisius pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen.
Anggaran Riset Naik Dua Kali Lipat
Sebagai bentuk komitmen pemerintah, Stella menjelaskan bahwa anggaran riset nasional telah meningkat signifikan dalam periode terakhir. Dari sebelumnya Rp1,47 triliun, kini naik menjadi Rp3,2 triliun.
“Kenaikan anggaran ini adalah sinyal kuat bahwa pemerintah ingin riset menjadi mesin utama pembangunan. Namun anggaran saja tidak cukup — kita harus membangun kolaborasi antara kampus, industri, lembaga penelitian, dan pemerintah daerah,” jelasnya.
Bangun Ekosistem Riset Nasional
Stella menegaskan bahwa transformasi perguruan tinggi menjadi research university membutuhkan perubahan budaya akademik. Dosen tidak hanya mengajar, melainkan harus aktif meneliti. Mahasiswa bukan hanya mendengar teori, tetapi terlibat dalam laboratorium dan inovasi. Industri juga harus membuka diri untuk menerima hasil penelitian kampus.
“Ekosistem riset harus dibangun secara komprehensif. Universitas tidak boleh berdiri sendiri. Industri, pemerintah, dan komunitas harus menjadi bagian dari proses inovasi,” pungkas Stella.






