NABIRE – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan dan Riset Daerah (Bapperida) Provinsi Papua Tengah, Eliezer Yogi, S.STP, M.Si, menjelaskan alasan di balik penundaan pelaksanaan Festival Kopi ke-2 Papua Tengah, yang semula dijadwalkan berlangsung pada 10–11 November 2025 di kompleks Kantor Gubernur, Bandara Lama, Kabupaten Nabire.
Eliezer menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan dibatalkan, melainkan ditunda sementara waktu akibat cuaca ekstrem yang tidak terduga.
“Kami dari Bapperida selaku penyelenggara sebenarnya sudah menyiapkan semuanya secara maksimal. Seluruh kabupaten sudah konfirmasi hadir, bahkan para bupati pun siap datang. Namun pada hari pelaksanaan, sekitar pukul 11 siang, terjadi hujan deras disertai angin kencang dari berbagai arah,” jelas Eliezer di Mimika, Selasa (11/11/2025).
Cuaca ekstrem tersebut menyebabkan kerusakan pada tenda, panggung, dan perlengkapan acara, termasuk videotron yang sudah terpasang di lokasi. Setelah melakukan koordinasi dengan panitia dan pihak event organizer (EO), diputuskan bahwa kegiatan tidak memungkinkan untuk dilanjutkan.
“Angin kencang membuat beberapa tenda terbang dan peralatan roboh. Setelah dicek di lapangan, kondisi tidak aman untuk kegiatan. Kami pun melapor kepada pimpinan dan mendapat arahan untuk menunda kegiatan karena ini termasuk force majeure atau faktor alam yang tidak bisa diprediksi,” ujarnya.
Eliezer menambahkan, apabila kondisi memungkinkan, Festival Kopi ke-2 Papua Tengah akan dijadwalkan ulang pada akhir tahun ini, namun bila tidak memungkinkan, akan dilaksanakan pada tahun 2026.
Festival ini merupakan bagian dari program prioritas Gubernur Papua Tengah untuk menjadikan kopi sebagai komoditas unggulan daerah dalam lima tahun ke depan. Dalam kegiatan tersebut, rencananya juga akan dilakukan deklarasi wajib tanam kopi bagi enam kabupaten di wilayah pegunungan untuk kopi Arabika, serta Nabire dan Mimika untuk kopi Robusta.
Selain pameran dan promosi kopi daerah, festival ini juga dirancang menghadirkan hiburan dari artis nasional asal Papua, seperti Mike dan Blessing, serta grup band lokal Nabire seperti ABB Band dan Pace Black.
“Kami sangat menyesal kegiatan ini tertunda, karena ini bukan hanya festival hiburan, tetapi juga momentum penting untuk mendorong perekonomian masyarakat petani kopi di Papua Tengah,” tutup Eliezer Yogi. (MB)






