Timika, Papua Tengah – Harapan ribuan siswa di pelosok Papua Tengah untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik akhirnya terwujud. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah secara resmi meluncurkan program sekolah gratis yang langsung dinikmati oleh 24.481 siswa SMA/SMK mulai tahun 2025 ini.
Kebijakan ini menjadi napas baru bagi banyak keluarga, sekaligus bukti nyata komitmen pemerintah daerah dalam pemerataan akses pendidikan.
Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, menyatakan program ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Papua Tengah.
“Program sekolah gratis ini merupakan langkah pemerintah daerah meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua Tengah,” kata Gubernur Meki Fritz Nawipa, melansir Antara, Rabu 17 September 2025.
Rincian Penerima Program:
- Total Sekolah: 124 sekolah
- Jumlah Siswa: 24.481 siswa
- Jenis Sekolah:
- 31 SMA Negeri
- 40 SMA Swasta
- 17 SMK Negeri
- 36 SMK Swasta
- Cakupan Wilayah: Program ini tersebar di delapan kabupaten: Mimika, Nabire, Paniai, Puncak, Puncak Jaya, Intan Jaya, Deiyai, dan Dogiyai.
Pemprov Papua Tengah tidak berhenti di jenjang SMA/SMK. Gubernur Meki Nawipa menargetkan perluasan program sekolah gratis ke jenjang SD dan SMP pada tahun 2026.
“Kami investasi besar di sektor pendidikan. Targetnya dalam tiga tahun, semua jenjang pendidikan sudah berjalan gratis,” ujarnya.
Selain sekolah gratis, Pemprov juga menyiapkan dua program pendukung lainnya:
- Sekolah Sepanjang Hari (SSH) Gratis: Program ini bertujuan mengatasi angka putus sekolah. Sekolah akan beroperasi hingga pukul 15.00 WIT, di mana seluruh kebutuhan makan siswa ditanggung oleh Pemprov. SSH akan dibangun di 10 lokasi, dengan masing-masing dua sekolah di Kabupaten Mimika, Paniai, dan Nabire, serta satu sekolah di lima kabupaten lainnya.
- Beasiswa Pendidikan Tinggi: Pemprov mengalokasikan anggaran beasiswa penuh bagi anak-anak Orang Asli Papua (OAP) maupun non-OAP yang akan melanjutkan pendidikan tinggi di Timika dan Nabire. Program ini juga mencakup pembangunan asrama sekolah, khususnya bagi anak-anak dari daerah konflik.
“Untuk yang kuliah di Timika dan Nabire semua anak kita biayai baik Papua maupun non Papua. Kami juga lagi bangun asrama sekolah bagi anak-anak di daerah konflik,” tutup Meki.






