Oleh : Laurens Ikinia
Staf Bpk.Wilhelmus Pigai di Jakarta.
Di balik gunung-gunung menjulang dan lembah-lembah sunyi Papua Tengah, tersimpan kisah perjuangan seorang anak bangsa yang memilih menjadi jembatan—antara tradisi dan modernitas, antara harapan dan kekecewaan, antara Jakarta dan Papua. Dia adalah Wilhelmus Pigai, seorang tokoh yang tidak hanya dikenal sebagai politisi, tetapi juga sebagai aktivis, pemikir, dan pelayan rakyat yang tak kenal lelah.
Dari Pedalaman Papua ke Kancah Nasional
Lahir dan dibesarkan di kampung terpencil di wilayah pegunungan Tanah Papua, Pigai kecil telah akrab dengan dua realitas yang bertolak belakang: keindahan alam Papua yang memesona dan kesenjangan pembangunan yang menyakitkan. Ia menyaksikan langsung betapa sulitnya akses pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat pedalaman. Setiap hari, ia dan teman-temannya harus berjalan berjam-jam melintasi medan berat hanya untuk sampai ke sekolah. Pengalaman ini bukan mematahkan semangatnya, melainkan menempa mentalnya menjadi baja.
Pendidikan menjadi jalan emancipasi bagi Pigai. Dari Mimika, Jayapura, hingga Jakarta, perjalanan pendidikannya memberinya perspektif unik. Di Mimika, ia belajar tentang paradoks pembangunan: kemegahan industri ekstraktif di satu sisi, dan kesenjangan sosial di sisi lain. Di Jayapura, ia memahami mekanisme kekuasaan dan birokrasi. Sementara di Jakarta, ia mengasah alat analisis untuk mendekonstruksi akar masalah Papua.
Dari Jalanan ke Parlemen: Transformasi Perjuangan
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Pigai memilih jalan yang tidak biasa. Alih-alih mengejar karir gemilang, ia kembali ke Papua dan memulai perjuangan sebagai aktivis. Ia tinggal bersama komunitas terpencil, mendengar langsung keluh kesah mereka, dan mendokumentasikan kasus-kasus perampasan tanah ulayat. Pengalaman ini memberinya pemahaman mendalam tentang kegagalan implementasi Otonomi Khusus.
Keputusan Pigai untuk beralih dari aktivisme ke politik praktis menuai kritik. Banyak kawan seperjuangan menganggap langkahnya sebagai pengkhianatan. Namun, bagi Pigai, ini adalah evolusi necessary. “Perubahan harus diperjuangkan dari semua front, termasuk dari dalam sistem,” keyakinannya.
Gaya Politik yang Vokal dan Visioner
Di Gedung DPD RI Senayan Jakarta, Pigai dikenal dengan gaya politiknya yang blak-blakan dan tak kenal takut. Setiap kali menyoroti kebijakan yang merugikan Papua, suaranya menggema lantang. Namun, di balik sikap konfrontatifnya tersimpan strategi yang matang. Ia menguasai seni menggunakan hak parlementer dan membangun “koalisi hati nurani” yang terdiri dari LSM, akademisi, jurnalis, hingga kelompok gereja.
Gaya politik Pigai dibangun di atas tiga pilar: pengetahuan mendalam tentang mekanisme politik, pemanfaatan hak-hak parlementer secara maksimal, dan pembangunan koalisi strategis. Ia membuktikan bahwa aktivisme dan politik bukan dua dunia yang bertolak belakang, melainkan dua sisi mata uang yang sama dalam perjuangan menciptakan perubahan sosial.
Visi Papua Tengah yang Berdaulat
Perjuangan Pigai terangkum dalam lima pilar utama: Otonomi Khusus Plus, kedaulatan sumber daya alam, infrastruktur yang memanusiakan, pendidikan dan kesehatan sebagai fondasi peradaban, serta penegakan HAM.
Ia memperjuangkan “Otsus Plus” yang menekankan penguatan kelembagaan adat dan desentralisasi fiskal yang nyata. Dalam pengelolaan sumber daya alam, ia mendorong nisbah royalti 70:30 untuk daerah dan penerapan FPIC (Free, Prior and Informed Consent) untuk proyek investasi.
Di bidang infrastruktur, pendekatan Pigai berbeda. Baginya, infrastruktur bukan sekadar proyek betonisasi, tetapi tentang menyambung kehidupan. Ia membangun jalan dengan melibatkan masyarakat secara langsung, memastikan pembangunan sesuai kebutuhan mereka.
Kepemimpinan yang Berintegritas dan Melayani
Di balik sosok politisi vokal, Pigai adalah manusia spiritual yang mendalam. Nilai-nilai Kekatolikan seperti kerendahan hati, pelayanan, dan kejujuran menjadi kompas navigasinya. Konsep kepemimpinannya dipengaruhi filosofi “servant leadership”—pemimpin sebagai pelayan.
Pigai membuktikan bahwa politik bisa menjadi alat untuk mewujudkan keadilan, perdamaian, dan kasih sayang bagi semua orang, terutama yang paling kecil dan terpinggirkan. Keteladanannya menginspirasi banyak pemuda Papua untuk terlibak dalam politik tanpa harus kehilangan integritas.
Warisan yang Abadi
Perjuangan Pigai belum usai, sebagai seorang jembatan, Pigai telah membuktikan bahwa perubahan sejati seringkali dibangun bukan dengan gemuruh meriam, tetapi dengan ketekunan seorang tukang yang tak kenal lelah. Untuk merajut kembali yang tercerai-berai, kita membutuhkan jembatan, bukan tembok. Dan Pigai telah menjadi jembatan itu—dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan dan cinta yang tak terhingga pada secuil surga yang bernama Papua.









