Wasior – Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mendesak agar nilai-nilai dan filosofi yang diwariskan oleh tokoh misionaris dan pendidik terkemuka, Ishak Samuel Kijne, diintegrasikan secara sistematis sebagai kurikulum muatan lokal di seluruh lembaga pendidikan di Tanah Papua.
Desakan ini disampaikan oleh Ketua Komite III DPD RI, Filep Wamafma, saat menghadiri perayaan 100 tahun Aitumeri di Wasior, Teluk Wondama, yang merupakan lokasi berdirinya sekolah formal pertama yang didirikan Kijne pada 25 Oktober 1925.
Senator Filep Wamafma menegaskan bahwa pemikiran Kijne yang menekankan iman, ilmu, dan tanggung jawab moral telah menjadi fondasi utama peradaban Orang Asli Papua (OAP).
“Sejarah dan filosofi Kijne jangan hanya diingat sebagai cerita, tetapi perlu diajarkan secara sistematis di sekolah,” ujar Filep Wamafma. “Integrasi nilai-nilai ini ke dalam kurikulum pendidikan adalah bagian dari upaya membangun manusia Papua yang berakar pada sejarah dan budaya sendiri di tengah derasnya arus modernisasi.”
Menurut Filep, penerapan Kurikulum Peradaban Kijne bukan sekadar pelajaran sejarah, melainkan upaya strategis untuk membentuk manusia Papua yang beriman, berilmu, dan berkarakter kuat. Ia khawatir, tanpa referensi yang memadai, generasi Papua mendatang akan sulit memahami filosofi hidup dan jati diri mereka.
Ishak Samuel Kijne, misionaris Belanda yang berkarya di Papua sejak 1923, dikenal luas karena pendekatannya dalam pendidikan yang berbasis pada kehidupan lokal. Kurikulum yang dia terapkan saat itu berfokus pada kemampuan praktis seperti bercocok tanam dan kerja sama komunitas, serta penanaman nilai moral.
Warisan Kijne yang paling ikonik adalah pesan yang tertulis di “Batu Peradaban”:
“Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi, dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”
Sementara itu, Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, turut mendukung usulan tersebut. Ia menyatakan bahwa perayaan satu abad Aitumeri harus menjadi momen refleksi bagi seluruh pemerintah daerah di Tanah Papua untuk memperkuat komitmen pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan yang berlandaskan nilai iman, ilmu, dan kasih yang ditanamkan Kijne.
DPD RI kini mendorong pemerintah daerah di seluruh wilayah Papua untuk segera menindaklanjuti gagasan ini melalui penyusunan kurikulum muatan lokal yang relevan, guna memastikan warisan nilai luhur Kijne mendapat penguatan dan menjadi panduan hidup bagi generasi muda Papua.






