PANIAI – Permasalahan banjir akibat luapan air di Distrik Paniai Timur, Bibida, dan Wegemuka, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah, dinilai sudah terlalu lama terjadi dan perlu segera diatasi.
Banjir ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tingginya curah hujan, besarnya debit air yang mengalir dari sungai-sungai di Lembah Weya menuju Danau Paniai, pembangunan jalan Enarotali–Dagouto yang mempengaruhi jalur aliran air, serta pendangkalan danau akibat pertumbuhan eceng gondok. Dampaknya, sejumlah kampung, kebun, dan rumah warga kerap tergenang.
Anggota DPR Papua Tengah, John NR Gobai, menyampaikan bahwa permasalahan ini harus dikaji secara serius untuk mendapatkan solusi jangka panjang. Ia mengusulkan tiga langkah utama:
-
Revitalisasi Sungai
Mengembalikan fungsi sungai sebagai saluran drainase alami. Upaya ini memerlukan pembongkaran bangunan atau jalan yang menghalangi aliran air. Revitalisasi sungai diyakini menjadi solusi fundamental untuk mencegah luapan di masa depan. -
Pembangunan Danau Buatan
Danau buatan berfungsi menampung kelebihan air, sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai kolam pemancingan dan kawasan hijau dengan pepohonan. Dalam jangka panjang, lokasi ini berpotensi menjadi destinasi wisata dan area rekreasi. -
Pembuatan Jembatan Lengkung
Pada ruas jalan Enarotali–Dagouto, diusulkan pembangunan beberapa jembatan lengkung setinggi 2 meter dan selebar aliran sungai (atau lebih), agar arus air tidak terhambat. Hal ini penting mengingat wilayah tersebut memiliki banyak anak sungai dan telaga kecil yang bermuara ke Danau Paniai.
John NR Gobai menegaskan, Dinas Pekerjaan Umum Papua Tengah dan Kabupaten Paniai harus segera mengambil langkah nyata untuk merealisasikan usulan ini. Menurutnya, jika masalah banjir di lembah tersebut dapat diatasi, wilayah itu akan menjadi lahan pertanian yang luas dan berpotensi meningkatkan ekonomi masyarakat.






