Menu

Mode Gelap
Bupati Deiyai Ajak Semua Pihak Mengikuti Jumat Bersih di Pasar Waghete Wabup Nabire Apresiasi Peran PKBN, Sebut Kontribusi Etnis Batak Sangat Besar PKBN Nabire Kukuhkan Kepengurusan Baru, Tegaskan Komitmen Jaga Kerukunan di Daerah Mayat Pria Ditemukan di Belakang Grapari Timika, Polisi Dalami Kasus dan Kejar Pelaku Masyarakat Paniai Berdomisili Mimika Mendukung Daerah Otonom Kabupaten Moni, Mengecam Aksi Protes Piyos News Rayakan HUT ke-2, Perkuat Peran dari Papua Tengah hingga Nasional

Headline

Yosias Iyai, Aktivis Papua yang Konsisten hingga Akhir Hayat

Etty Welerbadge-check


					Yosias Iyai, Aktivis Papua yang Konsisten hingga Akhir Hayat Perbesar

NABIRE — Aktivis Papua, Yosias Iyai, menghembuskan napas terakhir di RSUD Siriwini, Nabire, Minggu dini hari pukul 05.48 WIT, setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya sejak 2011. Kepergian Yosias meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan rekan seperjuangan yang mengenalnya sebagai sosok konsisten, bertanggung jawab, dan pantang menyerah.

Yosias menamatkan pendidikan di SMA YPPPK Adhi Luhur, Colese Lecoq d’Armanvile pada 2011. Terbatasnya biaya membuatnya menunda kuliah dan mengajar Ekonomi di SMA Negeri di kampung halamannya, Mapia, Dogiyai. Ia sempat menempuh pendidikan di Bogor dan aktif di Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), namun sakit yang kambuh memaksanya kembali ke Papua.

Meski fisik sering melemah, Yosias tetap terlibat dalam pergerakan. Ia pernah memimpin AMP Bogor, menjadi Biro Keuangan AMP Pusat, hingga bergabung dengan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Mapia. Pada 2019, ia ditangkap bersama sejumlah aktivis saat aksi menolak rasisme di Deiyai, namun kemudian dibebaskan oleh Pengadilan Negeri Nabire pada 2020.

Selain aktivisme, Yosias dikenal sebagai tulang punggung keluarga. Ia bekerja sebagai sopir lintas Nabire–Paniai untuk membiayai pendidikan adik-adiknya, mendukung istri, dan membesarkan putri semata wayangnya.

Dalam sebulan terakhir, kondisinya terus menurun. Setelah dirawat di RSUD Paniai, ia dirujuk ke Nabire dengan diagnosa gagal ginjal. Rencana rujukan ke Jayapura batal setelah dokter menyatakan prosedur hemodialisis bisa dilakukan di Nabire. Namun, Tuhan berkehendak lain.

Bagi kawan seperjuangannya, Yosias adalah pribadi yang tidak pernah mengeluh atau menolak tugas, meski rasa sakit menggerogoti tubuhnya. Warisan terbesarnya bukan berupa materi, melainkan semangat juang dan keberanian untuk bergerak demi perubahan.

Hormat terakhir Yosias di RSUD Siriwini menjadi simbol perjuangan dan cinta pada tanah kelahiran. Jejaknya di dunia pendidikan, pergerakan politik, dan pengabdian keluarga menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk melanjutkan langkah di jalan yang telah ia buka. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

TMMD Kodim 1710/Mimika Mulai Kerjakan Sumur Bor untuk MCK Umum Gereja Santo Klemenst

14 Mei 2026 - 15:08 WIB

IMG 20260513 WA0041

Apresiasi Rakoor Percepatan Pembangunan Papua, Bupati Intan Jaya Soroti Anggaran dan Daerah Konflik 

14 Mei 2026 - 14:43 WIB

20260512

IPMAPAN Sorong Resmi Bentuk Panitia PAB dan HUT Ke-I, Usung Semangat “Bersatu, Bergerak, Maju Bersama”

14 Mei 2026 - 14:19 WIB

IMG 20260513 WA0034

Kenaikan Yesus Kristus 2026, Menag Ajak Umat Perkuat Harmoni dan Semangat Kebersamaan

14 Mei 2026 - 14:08 WIB

IMG 20260514 WA0014

Kakanwil Kemenag Papua Lantik 44 Pejabat Pengawas, Tegaskan ASN Siap Ditempatkan di Seluruh Wilayah Papua dan DOB

14 Mei 2026 - 14:04 WIB

IMG 20260514 230348
Trending di Headline