Menu

Mode Gelap
Meningkatnya Kriminalitas: Akar Masalah dan Solusi Holistik (Ditinjau dari Sosiologi Hukum) Banjir Bandang Sumatera: Alarm Bencana Ekologis dan Slow Violence di Seluruh Indonesia Gubernur Meki Nawipa Kucurkan Lebih dari Rp 90 Miliar, Wujudkan Pendidikan Gratis di Papua Tengah Waket DPR Papua Tengah John Gobai Desak Penyediaan Sekolah, Puskesmas, dan Transportasi Umum di Perbatasan Mimika-Deiyai Kunjungan Kanonik Perdana Uskup Timika di Agimuga Disambut Meriah oleh Seribuan Umat Katolik Suku Amungme 80 Siswa di Raja Ampat Diduga Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis

Headline

Yosias Iyai, Aktivis Papua yang Konsisten hingga Akhir Hayat

Etty Welerbadge-check


					Yosias Iyai, Aktivis Papua yang Konsisten hingga Akhir Hayat Perbesar

NABIRE — Aktivis Papua, Yosias Iyai, menghembuskan napas terakhir di RSUD Siriwini, Nabire, Minggu dini hari pukul 05.48 WIT, setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya sejak 2011. Kepergian Yosias meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan rekan seperjuangan yang mengenalnya sebagai sosok konsisten, bertanggung jawab, dan pantang menyerah.

Yosias menamatkan pendidikan di SMA YPPPK Adhi Luhur, Colese Lecoq d’Armanvile pada 2011. Terbatasnya biaya membuatnya menunda kuliah dan mengajar Ekonomi di SMA Negeri di kampung halamannya, Mapia, Dogiyai. Ia sempat menempuh pendidikan di Bogor dan aktif di Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), namun sakit yang kambuh memaksanya kembali ke Papua.

Meski fisik sering melemah, Yosias tetap terlibat dalam pergerakan. Ia pernah memimpin AMP Bogor, menjadi Biro Keuangan AMP Pusat, hingga bergabung dengan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Mapia. Pada 2019, ia ditangkap bersama sejumlah aktivis saat aksi menolak rasisme di Deiyai, namun kemudian dibebaskan oleh Pengadilan Negeri Nabire pada 2020.

Selain aktivisme, Yosias dikenal sebagai tulang punggung keluarga. Ia bekerja sebagai sopir lintas Nabire–Paniai untuk membiayai pendidikan adik-adiknya, mendukung istri, dan membesarkan putri semata wayangnya.

Dalam sebulan terakhir, kondisinya terus menurun. Setelah dirawat di RSUD Paniai, ia dirujuk ke Nabire dengan diagnosa gagal ginjal. Rencana rujukan ke Jayapura batal setelah dokter menyatakan prosedur hemodialisis bisa dilakukan di Nabire. Namun, Tuhan berkehendak lain.

Bagi kawan seperjuangannya, Yosias adalah pribadi yang tidak pernah mengeluh atau menolak tugas, meski rasa sakit menggerogoti tubuhnya. Warisan terbesarnya bukan berupa materi, melainkan semangat juang dan keberanian untuk bergerak demi perubahan.

Hormat terakhir Yosias di RSUD Siriwini menjadi simbol perjuangan dan cinta pada tanah kelahiran. Jejaknya di dunia pendidikan, pergerakan politik, dan pengabdian keluarga menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk melanjutkan langkah di jalan yang telah ia buka. (MB)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Mimika Lantik Pengurus IK3M 2025–2030, Tekankan Pentingnya Merawat Nilai Ain Ni Ain

6 Desember 2025 - 14:21 WIB

Img 20251206 wa0014

Warga Paniai Minta Presiden Tarik Pasukan Non Organik, DPR Papua Tengah: Paniai Aman

6 Desember 2025 - 13:46 WIB

Img 20251206 wa0006

Meningkatnya Kriminalitas: Akar Masalah dan Solusi Holistik (Ditinjau dari Sosiologi Hukum)

6 Desember 2025 - 03:00 WIB

Whatsapp image 2025 12 06 at 11.54.25

Banjir Bandang Sumatera: Alarm Bencana Ekologis dan Slow Violence di Seluruh Indonesia

6 Desember 2025 - 01:52 WIB

Whatsapp image 2025 12 06 at 10.37.10

Efisiensi Anggaran 2026, YPMAK Pastikan Layanan Masyarakat Tetap Stabil

5 Desember 2025 - 22:00 WIB

Img 20251206 wa0005
Trending di Headline