NABIRE – Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Deiyai (FKM-KD) se-Kota Studi Nabire menggelar Musyawarah Besar (Mubes) ke-II bertempat di Aula UPPGSD, SP 1, Nabire, Papua Tengah, Kamis (8/8/2025). Kegiatan ini mengangkat tema “Hidup Manusia Diatur Oleh Tuhan”, dengan teks penguatan dari Amsal 16:9.
Dalam sambutannya, Jeri Nawipa, ST sebagai intelektual menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya Mubes ini. Ia menjelaskan bahwa kegiatan-kegiatan seperti ini sangat penting, karena menjadi bagian dari proses penambahan kapasitas dan kedewasaan organisasi.
“Orang berangkat dari organisasi itu, akan terbawa, dan terkenal hingga menjadi orang penentu masa depan dan besar,” katanya.
Ia menegaskan bahwa perubahan selalu terjadi, dan kali ini merupakan momentum untuk pergantian kepengurusan. Dalam hal ini, ia menekankan pentingnya melanjutkan hal-hal baik dan meninggalkan hal-hal yang tidak sesuai.
“Dalam pembahasan ini semua yang baik kita teruskan. Baik kita tinggalkan. Dengan demikian setiap proses harus jalankan dengan baik,” ungkap Jeri.
Ia juga menyampaikan pesan penting terkait kebersamaan dalam organisasi. Menurutnya, hanya dalam kebersamaan, setiap pribadi dapat dikumpulkan dan saling menopang untuk terus melanjutkan perjalanan organisasi.
“Pesan saya bahwa kebersamaan itu akan menjadi penentu dalam organisasi. Dalam kebersamaan kita akan dikumpulkan. Dari siapapun dia yang terlibat akan bersama-sama teruskan,” ujarnya.
Sebagai Ketua Biro Pemuda, Jeri juga berpesan agar seluruh peserta Mubes tetap menjaga kekudusan dan menaati janji-janji Allah.
Sementara itu, Ketua Tim Formatur, Naftali Pekei, menyampaikan terima kasih atas kerja sama seluruh pihak, khususnya tujuh ikatan lokal yang berada di bawah naungan FKM-KD. Menurutnya, semangat dan dukungan dari semua pihak menjadi alasan terselenggaranya kegiatan ini.
“Semua ini ada waktunya, maka semua yang kita lakukan karena waktunya. Baik waktu untuk menangis, baku pukul, baku marah, itulah arti organisasi,” ujar Naftali.
Ia menambahkan bahwa FKM-KD adalah rumah bersama, tempat untuk saling memahami dan mengerti satu sama lain dalam perjalanan bersama.
“FKM-KD adalah rumah kita, mari kita saling memahami dan mengerti dalam perjalanan ini. Tiada arti selain kita tidak saling memahami dan menghargai,” tuturnya.
Naftali menutup dengan menegaskan bahwa dalam FKM-KD, hal-hal yang biasa dapat menjadi luar biasa ketika dijalankan dengan sungguh-sungguh.
“FKM-KD harus dilakukan sesuatu biasa tapi itu luar biasa pula. Dari kecil pula kita berangkat, itulah arti dari organisasi,” pungkasnya. (MB)






